Dalam rangka mengabadikan salah satu tulisan yang pernah lewat di timeline tumblr-ku, izinkan aku menuliskannya ulang agar tetap bisa dan terus dibaca, juga menjadi refleksi dan pengingat diri kedepannya.
Seperti sedang berlayar mengarungi samudera luas dengan kapal, walaupun berlubang dinding kapalnya, compang-camping layarnya dan menyebalkan penumpangnya, turun dari kapal dan terjun ke laut bebas bukanlah sebuah pilihan. Sama seperti perjuangan dakwah ini.
Jika saat ini kau melihat perjuangan dakwah sangat tidak ideal para aktivis dan sistemnya, maka keluar dari perjuangan dakwah tidak akan pernah menjadi sebuah solusi.
Walaupun kita lihat saat ini aktivis dakwah yang pacaran di sana sini, pembinaan yang hanya formalitas (rasanya), daurah yang itu-itu saja (kesannya), atau nilai islam semakin nampak buram dan redup dalam langkahnya, maka yang salah bukanlah perjuangan dakwahnya. Dakwah tak pernah salah, dia adalah jalan para Nabi, perintah Allah untuk umat yang ia pilih. Maka, keluar dari perjuangan ini bukanlah solusi sebagaimanapun "buruk" kamu merasakannya.
Terjun ke laut, justru akan membawa kita semakin hilang arah, terombang ambing tak jelas. Entah kehabisan tenaga lalu tenggelam sendirian, atau malah menjadi santapan hiu ganas yang menanti mangsa. Bahkan, sendirian benerang ke tujuan, yang masih jauh dan panjang di ujung samudera, nampak mustahil dilakukan. Kalaupun punya sekoci kecil, atau papan kayu yang mampu membantu, rasanya tentu akan jauh lebih lelah dan kesepian di tengah samudera hingga sampai tujuan, yang sekali lagi masih jauh dan panjang.
Maka, justru, daripada terjun ke laut, jadilah penumpang kapal yang mulia. Yang walau satu per satu, walau perlahan lahan, mulai menutup lubang-lubang kapal yang mengalirkan air itu. Mulai menjahit dan menyulam layar yang compang-camping itu. Mulai menyapa para penumpangnya dengan ramah, dengan prasangka baik dan rasa cinta, bahwa kita sebenarnya menuju tujuan yang sama. Lalu dengan tegap berdiri di geladak kapal, menanti tujuan yang diharapkan terlihat di ujung senja.
Karena Sang Pemilik Samudera telah berjanji, bahwa kapal ini pasti akan sampai di tujuannya. Ia tak mungkin ingkar pada Janji-Nya. Maka, tugas kita adalah bertahan di atasnya, berusaha memperbaiki bagian-bagian yang mulai keropos, sambil tersenyum yakin membayangkan indahnya pelabuhan tujuan bernama Surga.
Yogyakarta, 5 Ramadhan 1446; 5 Maret 2024 -sudah lama ditulis, namun baru terselesaikan


















