Sesejuk Tunduk
Baru saja ia bertemu keluarganya. Sudah lama mereka absen dari jumpa; bertahun tahun. Sungguh itu bukan waktu yang sebentar. Ditambah lagi, dirinya pun tak pernah ada kabar. Segera ia naikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Para saudara tampak berada didepan. Mereka semua bersimpuh sujud; penghormatan atas dirinya.
“Duhai Ayahanda, inilah takwil mimpiku dulu,” ia bercakap melepas rindu,”Rabb-ku telah menjadikannya nyata. Sungguh Dia telah berbaik padaku sejak membebaskanku dari penjara, dan membawa kalian padaku dari pedalaman padang pasir setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh Rabb-ku amatlah Lembut kehendak-Nya. Dialah yang Maha Tahu lagi Bijaksana.”(Q.S.Yusuf:100)
Sungguh indah.
Ia memulai kisahnya sejak keluar dari penjara, bukan sumur. Bukan juga saat ia selamat dari tipu daya saudara-saudara kandung. Tanpa diungkit, ia tak ingin hati saudara-saudaranya sakit. Ia tak ingin menjadikan kekuasaan sebagai wasilah pelampiasan; membalas perbuatan mereka dengan penuh rasa dendam. Bahkan sebelumnya ia telah memaafkan mereka semua.”Tiadalah cercaan bagi kalian hari ini, moga Allah mengampuni kalian. Dialah Yang Amat Penyayang diantara para penyayang.”(Q.S.Yusuf:92)
Adalah ia, Yusuf ‘alaihissalam. Pantaslah Allah menjadikan kisahnya kisah terbaik sepanjang zaman.
“Kami kisahkan padamu sebaik-baik kisah melalui wahyu Al-Qur'an. Sebelumnya kamu adalah bagian dari orang-orang yang tiadalah faham.”(Q.S.Yusuf:3)
Setelahnya, tersimak di ujung kisah; puncak karir dalam kehidupanya. Do'a indah nabi Yusuf ‘alaihissalam. Dalam tunduk. Dalam khusyuk.
“Duhai Rabb-ku ... telah Kau berikan kekuasaan padaku, juga kau ajarkan takwil mimpi bagiku. Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat nanti. Wafatkanlah aku sebagai muslim, dan sertakan aku bersama para shalihin.” (Q.S.Yusuf:101)
Di sebrang zaman.
Matahari tampak sedikit pudar. Walau panas masih sedikit terasa sore itu, jiwa-jiwa mereka sejuk. Bagaimana tidak, kabar Fathu Makkah telah tersiarkan; Makkah terbebaskan. Seolah bayang-bayang dakwah yang terbentang tertuntaskan. Buah dakwah 21 tahun lamanya. Pahit getir tapak dakwah, beratnya menggeggam tauhid, sulitnya merengkuh Islam. Susah payahnya, penyiksaannya, pengucilannya. Terbalaslah sabar dalam dakwah. Terbayarlah perjuangan tiap langkah. Ada helai lega pada nafas mereka. Ada bahagia di wajah-wajah mereka. Umat muslimin disaat itu bersuka cita. Allah-lah yg menjadikan pertolongan itu tiba. Tapi nanti kita simak, yang nampak ialah kerendahan hati seseorang yang amat mulia.
Ia memasuki kota Makkah. Tunduk wajah dan hatinya. Hampir hampir jenggotnya menyentuh punggung si unta. Memang, kemenangan telah diraih. Ia bisa saja berbusung dada, melihat musuh-musuh tak ada daya. Mungkin bisa juga tersenyum bangga; sang penguasa telah tiba. Tapi ia tunduk. Ia khusyuk. Imannya pun mengubah bangga menjadi tasbih, bahagia menjadi istighfar, dan suka menjadi syukur. Sungguh indah yang terpatri dari Rabb-nya,
“Apabila telah datang pertolongan Allah serta kemenangan yang paripurna. Dan engkau saksikan manusia masuk agama Allah berduyun-duyun adanya. Maka bertasbihlah dengan puji Rabb-mu dan mohonlah ampun pada-Nya. Sungguh Ia Maha menerima taubat yang diminta.” (Q.S.An-Nashr)
Langkahnya teratur menuju Ka'bah. Beliau bersihkan berhala-berhala di sekitar Ka'bah menggunakan busur panah. Seraya berucap, “Telah datang kebenaran, maka lenyaplah kebatilan. Sungguh yang batil pastilah terlenyapkan.” Kemudian beliau shalat, lalu bertawaf dan bertakbir mengelilingi Ka'bah setelahnya. Masyarakat Quraisy berkumpul di sekitar Ka'bah, menunggu keputusan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam terhadap mereka. Mereka pasrah, mereka dalam situasi kalah. Terlebih, sebelumnya Rasulullah mengumumkan nama-nama beberapa tokoh quraisy yang wajib dibunuh, di mana pun mereka ditemukan. Dengan memegang pinggiran pintu Ka’bah beliau bertanya,
“Wahai kaum quraisy. Apa yang kalian bayangkan tentang apa yang hendak kulakukan atas kalian?”
Mereka menjawab, ”Saudara yang mulia, sebagai keturunan dari saudara yang mulia.”
Cobalah kita berbayang, jika saja kita yang berada dalam posisi Rasulullah. Dulu, yang ia disiksa, yang ia dihina. Bahkan ia terusir oleh kaumnya. Kini situasi berbalik. Satu putaran derajat penuh. Dan begini lah luhurnya akhlaq beliau bersabda,
“Hari ini, aku katakan pada kalian sebagaimana Yusuf berkata pada saudara-saudaranya: ‘Tak ada cercaan bagi kalian, Allah akan mengampuni kalian. Sungguh Dia Maha Penyayang diantara para penyayang.”
Inilah tunduk. Inilah khusyuk.
Dialah Muhammad, yang shalawat dilantunkan di langit maupun di bumi baginya. Ialah Sang Rasullullah ‘alaihi shalatu wassalam, yang amalanya berdasar wahyu dari Penguasa Semesta. Kelak tindak-tanduknya diikuti, kata-katanya dicermati, gerak geriknya adalah tauladan bagi umat hingga kiamat nanti.
Dari mereka, yang kita tauladani adalah sikap. Sikap bagaimana bakda kesuksesan kita bertindak. Sikap bagaimana kepada Allah kita berharap. Kesuksesan bukalah akhir dari perjalanan amal kita. Selama kesuksesan berada di dunia, ia merupakan ujian. Apakah dengan syukur, iman masih kita genggam. Ataukah sebab kufur kita tergelincirkan. Karena sejatinya surgalah yang menjadi tujuan dan impian. Surgalah yang kelak pada penduduknya Allah berfirman, “Aku Ridho terhadap kalian.” Dan para penduduknya menjawab, “Kami pun ridho pada-Mu, ya Rahman.” Dengan cinta, dengan penuh bahagia.
Sebagaimana Sulaiman ‘alaihissalam. Bukan karena kekayaan dan kerajaannya ia istimewa. Bukan pula karena pasukan manusia, jin, angin, dan aneka fauna. Tapi sebab kata-katanya yang bertumpah makna. Kesadarannya yang sempurna akan hakikat Allah sumber berbagai karunia.
"Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau aku kufur. Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".(Q.S.An-Naml:40)
Sungguh, jangan kita hadapkan harapan kita pada kesuksean dunia. Jangan pula pada keberhasilan yang fana. Jadikanlah harapan itu untuk meraih rahmat-Nya. Buatlah harapan menjadi sujud dalam sepi, dan tangis dalam sunyi. Sambunglah harapan itu melalui do'a, mewarnai bincang-bincang mesra kita pada-Nya. Sebagaimana dalam sebuah do'a kita diajarkan tuk meminta, “Duhai Rabbku, jangan kau jadikan dunia sebagai tujuan hidupku yang utama.”
Karena juga mereka, para anbiya', shiddiqin, syuhada', dan sholihin, tidak menjadikan kesuksesan mereka wasilah tuk bertinggi rasa dan bukan juga tuk jumawa. Mereka rendah hati, menjadikan mereka pemaaf lagi berserah diri. Keberhasilan adalah cara mereka mendekatkan diri pada Allah. Mendorong mereka tuk ingin segera berkumpul bersama shalihin di taman-taman surga. Keberhasilan bukan menjadikan mereka merasa kekal dalam hidup, semakin ingin berlama-lama dalam nikmatnya ruang lingkup. Bahkan mereka lebih cinta akhirat, agar kelak dikumpulkan bersama sholihin di surga yang bercucur rahmat.
Maka di akhir khusyuk mereka adalah permohonan. Moga nanti dipertemukan dengan Zat Yang Maha Rahman. Berdekat sisi dengan Rafiqul A'la. Bersama Allah nanti di surga milik-Nya.
Farizan












