Mohamed Salah: Teladan dari Dalam dan Luar Lapangan
Mohamed Salah. Apa yang terlintas di pikiran kita jika mendengar nama ini?
Mohamed “Mo” Salah Ghaly. Pemain kelahiran Nagrig tanggal 15 Juni 1992 ini, mungkin hanya satu dari sekian banyak pemain muslim yang berlaga di kompetisi besar Eropa.
Namun, apa yang membuat Mo Salah begitu spesial?
Ketika ia didatangkan dari Roma oleh Liverpool di awal musim kompetisi 2017/18 dengan mahar €42 juta, tidak ada yang berpikir Salah akan membuat sesuatu yang besar di klub, mengingat kedatangan pertamanya di Liga Primer Inggris tidak terlalu baik.
Namun ternyata, Salah sudah benar-benar berbeda. Gol demi gol ia persembahkan untuk klub anyarnya, dan di akhir musim, ia mendapat banyak sekali penghargaan, di antaranya:
Pemain Terbaik Afrika 2017 versi BBC dan CAF (Confederation of African Football)
Pemain Terbaik Liga Primer Inggris versi PFA (Professional Footballers Association) dan Liga Inggris
Top Skorer Liga Inggris musim 2017/18 dengan 32 gol, yang juga menjadi rekor gol terbanyak yang dicetak satu pemain selama semusim sejak era Premier League dimulai pada tahun 1992.
Meski musim lalu tak berakhir baik buatnya, tapi catatan emasnya tentu tak mudah dilupakan.
Namun, selain catatan impresifnya di atas lapangan hijau, ia juga menawan di luarnya. Syaikh Aidh Al Qarni berterima kasih padanya karena “sudah menjadi representasi Islam yang baik di dunia” melalui video yang beliau unggah melalui jejaring sosial Instagram.
Berikut beberapa alasan mengapa Mo Salah tak hanya pemain hebat di dalam lapangan, tapi juga teladan di luarnya:
1. Dalam salah satu video yang diunggah oleh Middle East Eye tentang pemain satu ini, salah satu penduduk Liverpool yang beragama Islam mengatakan bahwa dengan kebanggaan Mo Salah membawa Islam ke lapangan hijau (berdoa sebelum bertanding, sujud syukur setelah mencetak gol), ia juga mengikis sentimen anti-Islam di Inggris, bahkan orang-orang muslim beberapa kali dihampiri suporter Liverpool dan mereka berkata, “Kau tahu, dia (re: Mo Salah) itu hebat! Kami mencintai kalian, muslim!”
2. Mo Salah juga dikenal sebagai orang yang rendah hati. Ia pernah tertangkap kamera membeli fish and chips di salah satu restoran fish and chips di Liverpool. Pemilik toko itu mengaku takjub, karena dengan status megabintangnya, ia tetap santai berbelanja di restoran kecil.
3. Kerendahan hati Salah kembali terlihat ketika ia dianugerahi titel Pemain Terbaik Afrika untuk kedua kalinya, belum lama ini. Ketika salah seorang wartawan bertanya, “Apakah Anda sudah bisa disebut sebagai duta sepak bola Afrika?” Salah kemudian menjawab, “Titel itu adalah untuk yang di sebelah Anda (ia memaksudkan Aboutrika). Dialah duta sepak bola Afrika.”
4. Mo Salah adalah seorang family man. Selain di stadion atau di tempat latihan, ia hanya akan ada di rumah atau masjid.
5. Mo Salah, dengan kebanggaannya sebagai muslim, berhasil membuat Islam menjadi hal yang normal–bahkan indah–di mata orang-orang Inggris. Anak-anak di Inggris meniru selebrasinya, bahkan pendukung Liverpool membawa Islam, agama yang dianut Salah, dalam chant mereka. Seperti dua chant ini:
If he’s good enough for you
He’s good enough for me
If he scores another few
Then I’ll be muslim too
If he’s good enough for you
He’s good enough for me
Sitting in the mosque
That’s where I wanna be
Dan chant ini:
Mohamed Salah
A gift from Allah
He came from Roma
To Liverpool
He’s always scoring
It’s almost boring
So please don’t take Mohamed away
6. Mo Salah adalah pribadi yang sangat pemaaf. Dikisahkan ketika itu ada pencuri yang beraksi di rumahnya, dan setelah melalui pencarian, akhirnya pencuri tersebut berhasil ditemukan. Ayahnya hendak membawa pencuri itu ke kantor polisi untuk diadili, akan tetapi, ketika kabar pencurian itu sampai ke telinga Salah, ia meminta ayahnya memaafkan pencuri itu. Tak sampai sana, ia juga memberikan sejumlah uang kepada pencuri itu untuk membantunya mencari kerja.
7. Mo Salah adalah pribadi yang tak pernah lupa dari mana ia berasal. Sudah banyak sekali uang ia gelontorkan untuk membantu perekonomian daerahnya. Mulai dari sekolah, sampai rumah sakit, dibangun dengan dana darinya. Bahkan, ia sempat menolak hadiah vila dari mantan presiden Zamalek, dan malah meminta uangnya disumbangkan untuk perekonomian daerahnya, yang memang tergolong daerah miskin. Sebagai pengingat jasa, gubernur Gharbiya mengganti nama sekolah di Basyoun menjadi Mohamed Salah Industrial High School. Sebuah pusat olahraga di sana juga diganti menjadi namanya.
Sebagai penutup, saya akan mengutip perkataan Mumin Khan, pembesar Islamic Centre Abdullah Quilliam di Liverpool,
“Mo Salah adalah teladan yang sangat baik, baik bagi muslim, bahkan non-muslim. Saya berharap, kelak akan ada lebih banyak lagi pemain (sepak bola) muslim yang menjadi teladan yang baik seperti Mo Salah. Kami membutuhkan (yang seperti) mereka, di era seperti ini, untuk mendobrak stigma negatif terhadap Islam dan komunitas kaum muslimin.”
Diolah dari berbagai sumber
Depok, 13 Januari 2019
Ibnu Kurnia











