“Nggak nyangka, ya lusa kamu sudah mau nikah. Aku masih ingat loh dulu waktu kamu nangis bombay gara-gara siapa tuh namanya?” tanya salah seorang temanku. Kami sedang mengadakan ‘pesta lajang’ kecil-kecilan sebelum aku resmi menjadi isteri orang. Aku hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan dari temanku yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban. Toh, lelaki yang dia maksud hanyalah masa lalu. Tentu saja, semua berubah setelah dia, lelaki yang akan menikahiku lusa, datang.
Dia datang bukan dengan cara yang biasa, bukan dengan setangkai bunga ataupun sekotak cokelat. Dia datang dengan niat yang baik, aku yakin itu. Tidak perlu waktu lama untuk kami saling mengenal. Memahami niat baiknya sudah cukup untukku menerima pinangannya bulan lalu.
Meski dia bukan sosok yang telah lama kukenal sebelumnya, disadari atau tidak, dia sedikit banyak telah mengubahku; berubah menuju kebaikan dan dengan cara yang sama sekali tidak membuatku merasa terpaksa untuk berubah.
Untukmu, terima kasih telah datang.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Yang hadir di dunia adalah makhluk-makhluk yang seharusnya bersuka. Bersuka karena betapa besar keajaiban Tuhan mengadakan sosok-sosoknya ke dunia. Seperti aku bersuka pada setiap yang kuterima. Bersuka pada kenyataan bahwa hidup tidak selamanya tentang bahagia.
Adalah dia menghapus air mataku, mengusap kepalaku, menjadikan aku ada. Kehadirannya tidak terelakkan dalam hidupku, mengubah diriku. Keberadaannya menghantarkanku pada cinta yang kukenal hingga saat ini. Cinta untuknya serta untuk tutu dan pointe. Balet adalah hidupku, sementara dia adalah napasku. Tanpa napas apalah hidup ini? Ketidakberadaan bukan?
Mimpi terbesarku adalah membahagiakannya melalu tutu dan pointe yang kumiliki. Karena berdua kamu adalah satu tim yang solid. Selamanya kami berdua sejak awal mula. Dia detak jantungku, tiada yang lain.
Ibu.
Tiada yang lain.
Terimakasih kuucapkan.
Ayah.
Meski tak pernah kulihat.
Kan kujaga Ibu.
Dari sini.
Dengan tutu, pointe serta cinta.
Sempurna mereka semua menggambar di kertas hidupku.
Aku suka kamu seperti kopi hitam. Aku suka kopi hitam seperti aku suka kamu. Hingga hari ini, di tengah rintik hujan, kelabu awan, serta kuningnya matahari yang tersembunyi, aku masih mengenang kamu. Bahkan dalam mimpi masih pula bayanganmu terlintas.
Sudah berapa tahun ini? Satu dasawarsa? Sepuluh tahun? Kamu pernah berlari tapi aku tidak pernah pergi. Meski yang nampak dari kejauhan justru sebaliknya, kamu menepi aku pergi dari sisi. Tahu sama tahu, kita bukan begitu.
Sore ini sambil mendengar rintik hujan, ditemani seruput kopi, aku mengenang kamu. Kopi hitam pertamaku, dirimu. Buat kamu kopi hitamku, aku relakan detik ini bernostalgia dengan waktu. Kembali pada masa dulu di mana kita masih lugu.
Kamu, kopi hitam pertamaku, menyatakan betapa inginnya kamu berputar selalu dengan en pointe-mu. Kamu, kopi hitam pertamaku, menunjukkan sebesar apa cintamu pada tutu dan character. Tak urung aku cemburu, pada benda mati itu. Bukan hanya karena mereka mendapatkan cintamu, namun juga karena mereka mengubah kopi pertamaku menjadi teh lemon hangat yang manis.
Kamu, kopi hitam pertamaku, sudah berkembang jauh terbang begitu dasyatnya. Apa mampu aku turut serta berjalan di sisimu. Bersama tutu dan pointe sepuluh tahun ini, kamu jelas bukan lagi kopi hitam pertamaku yang dulu. Meski bersama hujan aku mengenang kamu, kopi hitam pertamaku, turut menangis sepuluh tahun lalu karena tidak bisa mendapatkan pointe-mu, aku tidak tinggal diam. Tangismu adalah tangisku, dan bahkan himalaya akan kudaki demi tangismu agar pergi.
Kini bersama hujan aku mengenang kamu, kopi hitam pertamaku, turut berurai air mata sepuluh tahun lalu setelah kubelikan kamu tutu dan pointe pertamamu. Sudah kukatakan, apapun demi kamu, kopi hitamku. Maka kini setelah sepuluh tahun lamanya, kamu sudah berjalan pergi bersama tutu dan pointe menuju panggung penuh sinar. Aku cukup di sini mengenang kopi hitam pertamaku.
Karena meski himalaya sudah kutaklukan demi kamu, namun kamu tetap tidak bisa di sisi.
Karena apalah arti himalaya jika tak bisa kutaklukan mimpi terbesarku.
Mewujudkan mimpi terbesarmu.
Karena kamu adalah nikmat dalam kepahitan, tenaga dalam kelemahan, seperti kopi hitam. Setelah sembilan bulan kukecap sulitnya menjaga kehidupan, kamu dihadirkan oleh Tuhan. Kopi hitam pertamaku, teruslah berputar menari dan menaklukan himalaya. Himalaya milikmu.
Perempuan itu tak berhenti menyunggingkan senyum sedari tadi. Matanya terpejam di bawah langit malam yang bertabur bintang. Tubuhnya terlentang di atas rerumputan hijau halaman belakang. Tangannya direntangkan seakan ingin menggapai segala yang ada di sekelilingnya.
Laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya yang tak jauh dari perempuan itu kemudian meniru apa yang dilakukannya. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan perempuan itu.
Perempuan itu tersentak mendapati tangannya digenggam. Kepalanya menoleh ke arah laki-laki yang berbaring di sebelahnya dan tersenyum. Laki-laki itupun menoleh mendapati genggaman tangannya terasa lebih erat.
“Lagi ngebayangin apa?” tanya laki-laki itu memecah kesunyian.
“Rahasia” jawab perempuan itu urung bercerita, tetapi senyum belum hilang dari wajahnya.
“Pasti lagi ngebayangin kamu jadi tuan putri terus ketemu pangeran berkuda putih.” tebaknya.
“Sok tahu, deh. Memangnya aku korban dongeng. Huuuuu. Kamu tuh yang lagi ngebayangin yang aneh-aneh”
“Aku lagi ngebayangin kita kok.”
“Kita? Ngebayangin gimana?”
“Kita sepuluh tahun lagi kayak gimana”
“Emangnya sepuluh tahun lagi kita kayak gimana?”
“Kayak gini.”
“Maksudnya?”
“Iya kayak gini. Aku genggam tangan kamu setelah orangtuamu menyerahkan tanggung jawab atas kamu ke aku.”
“…”
Perempuan itu tidak menjawab. Ia membuang muka, menutupi pipinya yang mulai memerah.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Aku dan kamu, bagai dua kutub magnet yang berlainan dan saling tarik menarik. Tidak peduli jarak, waktu atau apapun. Semestalah yang inginkan kita bersama.
Kau yang dulu melangkah pergi, dan aku yang tak berusaha menahanmu di sisi. Tadinya kupikir tak ada gunanya memaksa, karena mereka yang tak cinta akan selalu punya alasan untuk tak bersama. Dan aku tak ingin mendengar alasan apapun yang mungkin saja sengaja kau buat-buat.
Tapi aku salah. Kau tak sekejam itu. Hingga saat kau memutuskan untuk pergi, kau masih menggenggam tanganku, erat, meski bukan dalam artian yang sebenarnya.
Pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Kau pernah melakukan kesalahan dan akupun sama. Namun sekali lagi, semesta masih inginkan kita. Untuk bersama-sama merajut cerita. Cerita kita.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pVsAoCWIYX di Facebook dan Twitter @nulisbuku
“Mama kamu suka makan bakso, ya?” tanya laki-laki itu. Bibirnya menyunggingkan senyum yang tak dapat kuterka apa maksudnya.
“Kok tahu?” tanyaku menimpali.
“Soalnya kamu bulat banget, mirip bakso.” jawabnya sembari mencubit pipiku dengan tangannya yang dingin.
“Ih, sakit tahu! Oh, jadi kamu sedang meledek?” ujarku cemberut. Mungkin sekarang mukaku lebih mirip bakpao ketimbang bakso yang bulatannya lebih kecil. Melihatku cemberut, dia justru senyum-senyum sembari mengusap-usap puncak kepalaku dengan gemas. Menyebalkan.
Kini dia terdiam. Matanya mengarah lurus ke mataku, wajahnya benar-benar terlihat serius. Hal aneh apa lagi yang akan dia lakukan? Pikirku dalam hati.
“Kamu nggak perlu sedih kalau kamu gendut. Kamu tahu, gendut itu bukan kekurangan lho, justru kelebihan.” ujarnya memulai pembicaraan. Wajahnya masih tetap serius seperti tadi.
“Kelebihan berat badan, maksudmu? Kalau itu sih nenek-nenek mau menyebrang juga tahu.” timpalku.
“Bukan, bukan itu. Gendut itu kelebihan karena biasanya orang gendut itu penyayang.” jawabannya sontak membuat keningku berkerut.
“Kok gitu?” tanyaku penasaran.
“Iya, soalnya biasanya orang gendut itu sayang kalau mau buang makanan, jadinya dihabiskan deh.” Jawabnya enteng. Dia meledekku lagi!
“Ih, dasar menyebalkan!” Teriakku sembari mencubit perutnya yang nyaris tanpa lemak.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://t.co/pVsAoCWIYX di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Itulah kalimat yang mengawali pertemuan kita kali ini; pertama kali sejak.. entahlah, tahunan lalu? Yang aku ingat, sejak kau menyerahkan dirimu untuknya.
Aku hanya mampu tersenyum tipis mendengarnya.
“Tak ada komentar?” tanyanya, kening berkerut. “Aneh. Kamu adalah manusia yang paling rajin mengkritisi perasaanku dengan dia; dengan siapapun.”
Kritikus pribadimu sudah lama pensiun begitu kamu ‘jadi’, tidakkah kau ingat? kusambung kalimatnya dalam hati.
“Apa yang kau harapkan?” tanyaku balik. “Sorakan penuh rasa syukur atau pidato penuh belas kasihan dan suntikan semangat?”
Jarinya tahu-tahu mendarat di pelipisku, mendorong helai rambut yang menggantung di depan mataku. “Apapun. Ekspresimu yang paling jujur.”
Lagi-lagi aku menyunggingkan senyum tipis. Dia berkata demikian seolah-olah aku anti sekali mengutarakan hal sebenarnya.
“Masihkah ada dia di hatimu bertahta, atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu?” tanyaku pelan.
“Aku dan dia sudah selesai,” ulangnya. Jemari yang tadi bermain dengan helai rambutku kini mulai menjelajah ke bawah. “dia sudah selesai. Tidak akan ada volume kedua, ketiga, dan seterusnya soal aku dan dia.” Jemarinya berhenti di pipi kananku. Hangat sentuhannya memaksaku untuk tenggelam. “Tapi kamu.. kamu tak pernah mampu menggoreskan kata ‘tamat’ di hatiku.”
Aku menangkupkan tanganku di atas jemarinya. “Sudah lama. Sudah lama sejak kamu jadi dengannya. Sudah lama segalanya berubah, sudah lama perasaan itu ada.”
Mataku dan matanya berpagut dalam diam. Bukan, bukan diam. Ada pertanyaan besar menggantung di antara kita, satu hela napas jaraknya. Bertahun-tahun, kali ini kita keluar dari persembunyian; menghadapi apa yang sesungguhnya dirasa setelah bertahun-tahun memakai topeng.
“Siapkah kau ‘tuk jatuh cinta lagi?”
[Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku]
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
“Hari ini,” kata Yuki sambil menanggalkan tas kesayangannya dari bahu. “orang itu membunuhku lagi.”
Kumo menatapnya, tanpa berkedip sekalipun. Ingin rasanya ia berteriak, namun ia tidak kuasa melakukannya. “Bagian mana dari dirimu yang ia bunuh lagi?”
Yuki tersenyum. “Kali ini hatiku,” ucapnya lirih sambil tersenyum. Pahitnya melebihi teh tanpa gula yang ia minum pagi ini. “Lagi.”
“Dan kamu biarkan begitu saja?” Lagi-lagi ia menahan emosi yang mengancam ingin keluar dari dalam dadanya yang terasa sesak untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. “Kamu harus berhenti, Yuki. Tidak ada salahnya melihat orang lain yang akan tetap menjaga kehidupan hatimu.”
Yuki terkekeh. Kumo selalu tidak mengerti kenapa wanita itu selalu melakukannya setiap kali laki-laki yang dicintainya membunuh salah satu bagian dari dirinya. Bagian yang selalu sama, yang selalu terbunuh dan hidup kembali hanya untuk dibunuh lagi, dan begitu seterusnya.
“Tidak semudah itu, Kumo. Kamu tahu maksudku.”
“Dengarkan aku barang sejenak. Dan jika perlu, lihat aku,” gumam Kumo sambil memandang Yuki yang duduk semakin mendekat di sampingnya.
“Hmm..” Yuki mendesah lelah. Tanpa permisi wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Kumo. “Aku butuh kamu malam ini.” Yuki mendongak dan menatap ke dalam mata Kumo. “Kita pergi untuk melupakan orang itu sejenak. Malam ini saja.”
“Bagaimana dengan besok dan seterusnya?”
Yuki memejamkan matanya setelah mendapatkan posisi nyaman untuk kepalanya. “Aku harus memperbaiki hatiku lagi untuk menemuinya kembali. Besok. Dan seterusnya.”
Kali ini Kumo menarik nafas panjang dan tidak segan-segan menghembuskannya dengan keras. Ia tahu, sebanyak apapun ia melihat Yuki, Yuki tidak akan melihatnya sebanyak ia melihatnya. Dan meskipun hatinya juga terbunuh karena wanita itu, tetap, ia ingin menyimpan perasaannya dan menjaganya untuk nanti.
Kumo dan Yuki hanya sebelas dua belas, dan keduanya tidak ada yang mengalah.