
seen from United States
seen from Yemen
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Pakistan

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from China
seen from Yemen

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
. . . escapist
Suatu hari saya pernah terlibat percakapan dengan seorang teman. Saya (S), Teman (T)
T : Hobi kamu apa?
S : Lari. . .
teman saya langsung pasang muka tak percaya. Mungkin dia menyangsikan jawaban saya karena saya pernah berkata bahwa saya tidak suka olahraga. Saya pun melanjutkan kata-kata saya
S : Lari dari kenyataan
mendengar hal itu, teman saya langsung tertawa.
Yah begitulah, cukup sering saya bercanda tentang hal itu. Namun, ketahuilah saya tidak mampu melakukannya. Lari dari kenyataan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Kenyataan adalah bagian dari kehidupan. Selama kita hidup kita akan menghadapinya. Sejauh apapun kita pergi, maka kenyataan akan terus bersama kita. Kenyataan tak mampu dilupakan atau dihindari begitu saja. Satu-satunya jalan untuk menghindar dari kenyataan adalah dengan mati.
Pertanyaannya adalah kapan kita akan mati? Saat kenyataan melahirkan berbagai permasalahan yang semakin rumit dan menuntut kita untuk menyelesaikannya, apakah kita dapat memutuskan untuk mati saat itu juga? Jawabannya adalah tergantung. Tergantung apakah kita punya agama atau tidak.
Jika kita tidak memiliki agama tentu pilihan kita adalah bunuh diri. Namun, jika kita memiliki agama, kita akan mempertahankan hidup kita dengan berbagai cara. Karena apa?
Pertama, karena kita percaya bahwa Tuhan yang menentukan hidup dan mati kita.
Kedua, karena kita percaya bahwa Tuhan akan membantu kita menghadapi kenyataan, menghadapi permasalahan hidup, dan menyediakan solusi spesial untuk kita yang bahkan membuat kita lebih bahagia.
Ketiga, dalil-dalil dalam kitab suci masing-masing umat beragama tentunya memberikan motivasi bagi setiap insan untuk terus berpasrah kepada Nya
“Sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S. Al Insyirah ayat 6)