KECUBUNG, LILY OF THE VALLEY, DAN PUSARA
Aku melipat kembali kertas ini jadi empat bagian. Lantas menyimpan semua kata yang tertulis sebagai sebuah memori. Seperti musafir yang kehilangan jejak, aku meraba hari yang esok akan datang.
***
Kebun bunga itu sama seperti kebun bunga yang lain. Selalu menampilkan sebuah keindahan. Bagai menciptakan secuil surga di lahan tiga kali tiga meternya. Aku melihat lelaki pencinta bunga yang keblinger, Rashva. Cintanya terlampau meluap seperti air bah.
“Kamu tidak mencoba mencintai mereka semua ini?” tanya Rashva begitu ia memergokiku memperhatikannya dengan tatap nyinyir. Dua tangannya membentang menunjuk bunga yang sedang mekat itu. Kemudian tangan kanannya mengambil gunting untuk memotong daun yang kering. “Ayolah, jiwa seorang perempuan itu terbuat dari serbuk sari bebungaan.”
“Tidak. Terima kasih.”
Ya, bunga adalah satu dari banyak hal yang kubenci di dunia ini. Berwarna nan menggoda. Tapi sepertinya bunga sedang membalas dendam padaku sekarang. Hendak menunjukkan kekuatannya padaku lewat lelaki pecinta bunga itu.
“Lalu kenapa kamu mencintaiku?” Rashva terkekeh. Seperti daun kering yang diinjak. Renyah sekali. “Itu kan sama artinya kamu mencintai bunga dalam sebuah toples kaca berwujud laki-laki.” Tawanya makin lekat. Ujung matanya sedang menertawakanku.
Ini! Ini juga adalah hal yang paling kubenci. Ketika Rashva mulai menertawakanku berkat semua kebencianku pada semua jenis bunga.
“Pilih bunga yang menurutmu paling mencerminkan dirimu sendiri,” lanjutnya sambil tetap mengamati bunga krisan.
“Aku tidak ingin memilih bunga apapun.”
“Pilih saja, Abigail.”
Aku menggumam. Menggantungkan pandanganku pada bunga—yang entah apa namanya—yang menjuntai di atas kepala Rashva. “Matahari?” ucapku spontan, sekilas setelah kulihat matahari pagi yang masih hangat.
“Bagiku, bunga itu seperti hidup manusia. Ada yang berumur panjang. Ada yang berumur pendek. Tampak indah, wangi, dan cantik tapi tak banyak juga yang hanya menampilkan suatu kebohongan. Lalu kemudian menua dan layu. Kering,” sahut Rashva panjang lebar. Ia meletakkan semua peralatan berkebunnya dan mengambil duduk di sampingku. “Bunga itu juga sedang menunggu mati. Seperti manusia.”
“Tapi bukankah ada bunga edelweiss yang katanya bunga abadi.” Aku mencoba menyangkal apa yang dikatakan Rashva.
“Hahaha.” Rashva tertawa lagi. Lebih renyah dan garing dibanding kacang yang dijual dalam kemasan. “Apalah kata abadi jika tanpa jiwa. Sebatas mayat. Mumi. Bunga edelweiss adalah bunga abadi? Mungkin itu benar. Tapi kenyataannya setelah ia tercerabut dari akarnya, ia tak pernah bisa menghasilkan rumpun bunga yang lain. Dan bagiku itu sama saja dengan mati.”
Aku mengangguk pelan. Menyetujui. Lantas kami sama-sama terdiam. Menikmati angin yang merambati kebun bunga ini. Menggoyangkan serbuk sari agar terlepas dari putiknya. Seolah sedang menyaksikan alam yang sedang mengawini bunga-bunga itu.
“Akan kutunjukkan salah satu bunga.”
Belum sempat aku bertanya bunga apa, Rashva sudah menghilang dari pandanganku. Masuk ke dalam rumahnya. Aku memaku diriku di tempat. Menunggu Rashva datang, ada seekor lebah mendekati bunga berwarna merah yang mekar sempurna. Sayup, bisa kudengar dengung sayapnya yang menggoyangkan kelopak bunga. Kemudian, ia pergi lagi.
“Lihat,” seru Rashva yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Ia menyodorkan sebuah foto yang membingkai serangkaian bunga kecil berwarna putih seperti lonceng. “Ini adalah salah satu bunga yang paling indah yang pernah Tuhan goreskan di atas bumi. Lily of the valley. Bunga ini hanya muncul ketika musim semi saja. Dan ketika hujan tiba dan membasahinya, bunga ini akan berubah seperti kaca. Bening. Ngomong-ngomong, boleh aku minta sesuatu, Abigail?”
Aku mengalihkan mataku dari foto itu ke arah mata Rashva. “Apa?”
“Aku ingin ketika aku mati nanti, letakkan lily of the valley ini di atas pusaraku. Karena aku ingin mati dalam keadaan suci. Putih seperti lily of the valley.”
***
Di sebuah bilik jeruji besi yang dingin, aku yakin ada Rashva di antara salah satu narapidana. Setelah menguatkan bak bunga matahari yang tetap tegak meskipun hujan badai, aku mengikuti seorang sipir yang menunjukkan jalannya padaku. Ini hari terakhir aku menemui lelaki pencinta bunga itu setelah kebun bunganya mengering selama bertahun-tahun.
Dalam suatu ruangan, sipir itu menunjuk sebuah kursi. Aku segera menarik kursi dan duduk di atasnya. Dengan hati sedikit waswas, aku menggenggam surat dari Rashva tempo hari. Tak lama, seorang sipir menggiring Rashva dan mendudukkannya di hadapanku.
Aku tersenyum menyambutnya. Meski dengan tangan diborgol dan rambut acak-acakan, ia tetap menunjukkan menawan. Sama seperti bunga yang ia cintai. “Bagaimana harimu? Kamu pasti tidak sabar menunggu hati itu tiba, bukan?”
“Hahaha, tentu saja. Aku puas sekali. Setelah semua ketidak puasanku pada mereka terlampiaskan dengan baik, aku bahagia sekali.”
“Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati padamu, menyegerakanmu untuk bertemu sang kematian yang akan segera meminangmu dalam keabadian. Lagi pula, apa Tuhan tidak malu punya ciptaanmu sepertimu?” Giliranku yang terkekeh menertawakannya. “Tenang, aku akan melakukan apa yang kamu minta dalam suratmu itu.”
“Terima kasih banyak, Abigail. Kamu memang lily of the valley-ku.”
“Di mana otakmu ketika meracuni pada tetinggi itu dengan kecubung dengan segelas minuman? Lantas membiarkan mereka mabuk, saling memaki, dan akhirnya membunuh. Dan aku heran bagaimana caramu melakukannya.”
Lalu kami sama-sama tertawa. Lepas. Tapi apa akan sama lepasnya dengan ajal Rashva yang akan ditembus peluru?
***
Di antara bunga yang menebar wewangian yang harum dan warna yang merekah, ada sebagian bunga menyimpan racun ataupun duri. Pun begitu dengan manusia yang menyimpan duri dendam. Rashva yang menyimpan semua ketidak puasan terhadap para tetinggi itu telah melampiaskan semuanya dalam bunga kecubung.
Di depan pusara bertuliskan namanya, aku ingin mengabulkan satu permintaan terakhirnya. Lily of the valley di atas pusara. Lalu aku menebar berlembar-lembar foto lily of the valley yang dulu pernah ia tunjukkan padaku di atas tanah pusaranya. Hingga menutupi semuanya.
“Maaf, Rashva, seharusnya kamu tahu kita tinggal di garis khatulistiwa dan seharusnya kamu tahu akan mustahil untuk menemukannya di sini. Lembaran foto ini sebagai gantinya. Dan kamu selalu mengejutkan seperti petir. Bahkan untuk matimu saja, kamu menciptakan kejutan. Selamat pulang ke padang lily of the valley-mu. Tunggu aku di sana.”











