Nonton Jumbo, Auto-Curhat! (Spoiler Alert)
Kala nanti badai 'kan datang
Perjalanan dan proses jadi dewasa ternyata badainya banyak sekaliii! Nonton Jumbo bikin nahan nangis sampe 3 kali! Jujur, kalau tahu badainya seperti ini, emang enak jadi kecil ajaa, main kasti, main bola, lari-lari ngejar kambing Nurman, paling "badai"nya cuma digangguin Atta, bukan digangguin notif linimasa.
Angin akan buat kau goyah
Kukira cuma angin biasa, ternyata angin kenceng gara-gara motoran soalnya kudu berangkat kerja, HAHA! Jadi dewasa kalau mau tetap hidup dan ada harus kerja! Belom lagi angin-angin lain yang kadang ga disangka-sangka. Jumbo terima kasih ya, gara-gara nonton kamu, aku recall dan flashback ternyata masa kecilku dulu bikin aku kuat menghadapi angin-angin di masa dewasa!
Maafkan, hidup memang ingin kau lebih kuat
Ini nih, aku juga mau minta maaf sama aku yang kecil dulu, yang juga punya duka masa lalu, punya luka masa lalu. Eh bagus loh, gara-gara itu aku yang sekarang ga gampang putus asa. Hidup kadang kidding Jumbo apalagi proses untuk mendapatkan apa yang aku butuh atau aku mau. Sama kayak kamu Jumbo yang gigih banget buat pentas pake lagu bikinan orang tuamu. Btw, emang bagus banget lagunyaaa
Andaikan saat itu datang, kami tak ada menemani
Sekecil Jumbo harus terbiasa dan segera berdamai dengan kenyataan ditinggal oleh orang tuanya. Wah, saya ga bisa bayangin sih gimana jadi Jumbo. Ditinggal Papa 2020 kemarin aja menerima kenyataannya mati-matian apalagi Jumbo harus ditinggal keduanya. Maaf ya Jumbo, saya memilih untuk tidak membayangkan hal itu terjadi meski kelak nanti pasti terjadi Tapi saya sukses nangis kok Jumbo ketika kamu ngotot berharap ada suara yang keluar dari radio
Aku ingin kau mendengar, nyanyianku di sini
Bait perbaitnya sederhana, pilihan katanya tak sulit dicerna apalagi maknanya, tapi "Selalu ada di Nadimu" benar-benar mencuri semua indera sayaaa, beneran Jumboooo, jadi seperti yang Oma bilang, dengernya jangan pake telinga aja tapi sekaligus pakai hati (duh Oma), telinga dan hati sibuk mendengar, mata sibuk berkaca-kaca, dada sesek, wahhh
Sedikit demi sedikit, engkau akan berteman pahit
Beneran deh Jumbo, semakin gede semakin pahit ya ternyata dan lebih pahitnya lagi kadang kita mau ga mau harus segera berteman dengan kepahitan itu. Seperti kamu yang harus menerima kenyataan pahit buku yang kamu jaga sepenuh hati, harus rusak dan terpisah jadi lembar-lembar yang beterbangan.
Luapkanlah saja bila harus menangis
Bener Jumbo, ini bener banget! Sekarang kalo mau nangis gas nangis aja, ga usah gengsi apalagi malu. Nangis kan bagian dari ungkapan emosi kita sebagai manusia, itu artinya kita masih punya rasa.
Dulu aku ada gengsinya sih, masa anak pertama perempuan menangiiisss, harus kuatlahhhhh. Ternyata ga juga, di kamar kalau sendirian, ada nangiss-nangisnya dikit wkwk.
Anakku, ingatlah semua lelah tak akan tersia. Usah kau takut pada keras dunia
Saya bayangin yang bilang ini orang tua saya sendiri. Wah, saya pasti ngerasa ancur banget sih Jumboo, soalnya saya belum jadi yang gimana-gimana. Belum membanggakan mereka, masih begini-begini aja, tapiiii saya ga bakal berhenti mengusahakan dan akhirnya bikin mereka bangga punya saya. Doain yaaaa Jumbo!
Akhirnya takkan ada akhir
Doaku agar kau selalu
Arungi hidup berbalut
Senyuman di hati
Doaku agar kau selalu
Ingat bahagia
Meski kadang hidup tak baik saja
Nyanyian ini bukan sekedar nada
Aku ingin kau mendengarnya
Dengan hatimu bukan telinga
Ingatlah ini bukan sekedar kata
Maksudnya kelak akan menjadi makna
Ungkapan cintaku dari hati
Jumbo terima kasih yaaa! Nonton kamu dan kawan-kawan sungguh hangat sekali. Setelah menonton filmnya di hari ke-4 saya cari-cari video kamu bernyanyi, " Selalu Ada Di Nadimu" bersama Meri, laluu saya nangis lagi sungguh adegan itu magical sekali Jumbo! Saya kembali ke masa-masa bahagia saya yang sederhana, yang juga seharusnya bisa saya rasakan sekarang.
Bahagia yang s e d e r h a n a.
Kalau Jumbo adalah ksatria di pulau gelembung ajaib, aku adalah power rangers merah di pulau dongeng. Kita main bareng, ya!


















