9. Mengitari Sungai Terbesar di Galatea dengan Motor Galaksi
Ada hal yang aku nantikan setiap harinya setelah Filotes pulang kerja—berkeliling Galatea dengan motor galaksi.
Setelah seharian dia sibuk dengan pekerjaannya di pertahanan galaksi yang super ketat dan rahasia itu, Filotes selalu menyempatkan waktu untuk melepas penat. Biasanya, dia akan datang dengan wajah lelah, membuka helmnya, dan berkata, "Bee, kita keliling sebentar, yuk. Kepalaku butuh udara segar." Dan tentu saja, aku nggak pernah menolak!
Kami berdua punya satu rute favorit: menyusuri Sungai Andara, sungai terbesar di Galatea yang membentang seperti pita berkilauan di bawah langit berbintang. Kalau kalian belum pernah melihatnya, bayangkan sungai dengan air sebening kristal, yang memantulkan cahaya bintang seperti kaca raksasa. Di malam hari, airnya bahkan berubah warna, dari biru tua ke ungu, kemudian perlahan memudar menjadi emas saat bulan Galatea bersinar lebih terang.
Perjalanan dengan motor galaksi selalu terasa spesial. Aku duduk di belakang Filotes, menikmati hembusan angin luar angkasa yang dingin, sementara motor kami melaju dengan kecepatan yang cukup untuk membelah kabut tipis di sepanjang sungai. Di beberapa titik, kami sering berhenti sebentar, hanya untuk menikmati suasana. Kadang-kadang, kami menemukan burung-burung Nebula yang beterbangan rendah di atas air, menciptakan lingkaran cahaya yang indah saat mereka menyentuh permukaan sungai.
Filotes biasanya nggak banyak bicara saat berkendara, tapi aku tahu dia menikmati momen ini. Suara motor yang menderu lembut berpadu dengan suara gemercik air sungai menjadi harmoni yang menenangkan. Aku, di sisi lain, suka iseng—aku sering mengambil foto diam-diam, menangkap momen ketika siluet Filotes terlihat gagah dengan latar belakang langit yang penuh bintang. Kadang dia sadar, dan berkata sambil tersenyum, "Bee, kamu tuh selalu aja motoin aku."
Ada satu titik favorit di perjalanan kami, sebuah jembatan melengkung di mana kita bisa melihat keseluruhan pemandangan kota Galatea di kejauhan. Lampu-lampunya tampak seperti kunang-kunang yang menari, dan aku selalu merasa tenang saat duduk di sana, mendengar suara air dan suara mesin motor yang perlahan mendingin. Di sini, aku dan Filotes bisa berbicara tentang banyak hal—tentang impian, tentang masa lalu, atau sekadar hal-hal kecil yang membuat kami tertawa.
Kadang aku bertanya pada Filotes, "Kenapa kamu selalu mau ngajak aku keliling, padahal kamu capek?"
Dia cuma mengangkat bahu dan berkata, "Karena aku tahu kamu suka, Bee. Dan aku juga suka. Lagipula, kalau nggak gini, kapan lagi kita bisa nikmatin Galactia dengan santai?"
Perjalanan ini jadi semacam rutinitas kecil yang kami lakukan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa di tengah hiruk-pikuk hidup, selalu ada waktu untuk menikmati keindahan yang ada di sekitar kita. Aku jadi sadar, meskipun dulu aku merasa tersesat, sekarang aku punya tempat yang selalu bisa aku datangi kembali.
Mungkin, aku nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi selama masih bisa menikmati malam di Andromeda dengan motor galaksi dan sahabatku Filotes, aku rasa semuanya akan baik-baik saja.
Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya! Jangan lupa untuk sesekali menikmati perjalanan hidup kalian, karena siapa tahu, keindahan tersembunyi justru ada di sepanjang jalan.
''Él no sabe lo que hace'', dijeron durante siglos. Destruyó a tanta gente en el camino con un solo impacto: Soldados cayeron, Reyes no resistieron, al impacto de su flecha mortal.
Así devolvió el ser más poderoso del mundo, llevaba dicha y tortura, felicidad y deseo, melancolía y Amor.
Gracias a su magia países crecían, muros caían, algunas guerras empezaban y otras se terminaban.
A Él le encantaba su trabajo, amaba ese poder. El fracaso no le divertía, pero sabía que era necesario, eso a lo que llamaban desamor, para que se encontraran las almas gemelas. Pero prefería ocultar sus errores; es así que las personas niegan sus antiguos amores y recuerdan lo malo, algunos ven atrás con ternura pero no es la regla.
Cupido, Cupido marcaba tanto a las personas que todos olvidaron a Filotes, la personificación de la amistad. La gente la veía como menos, agradecía su presencia, claro, pero todas las alabanzas iban a Cupido, a pesar de ser Filotes quien limpiaba las heridas del impacto mortal de sus flechas.
Y,como ya sabemos que a Cupido no le gustan los errores, y no le gusta perder el poder, cuando se encontró con gente que no sangraba ante el impacto de sus flechas, trató de escondernos, nos desterró y condenó a una eterna vida de observación. ''Platonico, platónico, platónico'' es la condena, rondando en nuestras cabezas. Porque no es normal no reconocer su grandeza, no es normal alabar a Filotes, como principal diosa. No es normal querer envejecer al lado de un amigo, un hermano. Cuando todos rememoran el impacto de la flecha, todos voltean si dices que no sentiste el dolor en tu corazón y el calor expandirse por tu cuerpo. Y tú y yo solo podemos pensar: ''Qué clase de mundo es este? En el que el dolor es el standar'' "Por qué todos ruegan por tener una herida abierta en el pecho?" "Por qué quieren que envidie a quienes se desangran?". Y me pregunto, "Es que acaso sólo yo veo la sangre correr?, Solo a mi me horroriza?"
Yo amo, yo he amado, a todos a quienes he considerado amigos y hermanos, pero nunca quise que se junten nuestros labios.
Cupido me resiente y yo a él por la misma razón: ''¿Por qué sus flechas no me dañan?''
Pero entonces voy y le rezó a Filotes y lo entiendo todo: ¿Por qué quisiera sucumbir ante una fuerza que ni los más valientes, ni los más sabíamos pudieron vencer...pero yo sí? A veces seré espectadora y eso...está bien. No estoy sola hay otros que vencieron a Cupido como yo. Yo soy la persona que ayudará a quienes hayan sufrido las heridas más grandes, en quien se apoyaran.
Y me dí cuenta del poder que tienen ser arromanticx. Esto no es un castigo.