Bahagia Bisa Berbagi di Acara Cerita Inspiratif Seputar Kuliah
Berfoto bersama: panitia dan peserta Cerita Inspiratif Seputar Kuliah (CALIK) 2.0
Hari Minggu (29/02/2020) saya diminta untuk berbagi motivasi tentang berkuliah dan beasiswa. Dua hal yang cukup dekat dengan saya. Saya sangat suka berkuliah. Meskipun saat mengerjakan skripsi dan tesis, saya kerap tertekan dengan pikiran sendiri, kehendak dosen pembimbing, permintaan segera lulus dari orang tua, dan pertanyaan sudah selesai atau belum dari kawan bahkan adik kelas yang sebetulnya enggak perlu ditanyakan.
Saya juga di kampus sempat mendapat beberapa beasiswa. Walau menurut saya untuk mendapatkan beasiswa itu, saya enggak terlalu mengerahkan usaha yang gimana-gimana. Saya cukup senang dengan uang yang didapat tapi kurang mendapatkan tantangan saja karena mendapatkannya dengan begitu mudah.
Saya ingin mendapatkan beberapa beasiswa yang di kampus saya tidak ada. Ketika tak lolos pun, karena telah mencoba, saya akan cukup berbahagia. Saya pernah mencobanya di beasiswa Djarum saat mau beranjak ke semester 5.
SMA Terpadu Al-Mu’min Paseh Majalaya tepatnya tempat saya dan kawan-kawan Forum Indonesia Muda Bandung waktu itu sharing. Panitianya dari alumni program Arkamaya—sebelumnya dinisiasi FIM Bandung—, beberapa teman Hilman (ketua pelaksana) dari kampus lain dan UPI sendiri, program studi Pendikan Sosiologi.
Perjalanan naik motor sekitar 1 jam lebih itu membuat pantat saya panas. Tapi, apa sih yang enggak buat dedek-dedek calon penerus bangsa. He. Di pundak mereka lah Indonesia di masa depan akan ditentukan. Di pundak saya juga sih sebenarnya.
Saya dimoderatori Ulfah, yang tak lain adik tingkat sendiri di Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI. Saya bicara sekitaran 30 menit untuk selanjutnya disambung dengan sesi tanya jawab di acara bertajuk Cerita Inspiratif Seputar Kuliah (Calik) itu. Saya bicara agak cepat karena ternyata durasinya memang enggak panjang.
Berfoto bersama: FIM Bandung dan Alumni Arkamaya
Saya jelasin tentang bahwa orang kampung seperti saya juga bisa kuliah di kampus yang lumayan bagus--UPI. Harusnya mereka juga bisa. Meskipun pastinya butuh usaha berlipat keras apalagi kalau kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membiayai. Di sanalah justru medan mereka. Seberapa kuat tekad mereka buat meyakinkan orang tuanya bahwa pendidikan itu amat penting, akan berpengaruh terhadap masa depan mereka sendiri.
Dari beberapa pertanyaan yang diajukan saat sesi tanya jawab, tak sedikit yang orang tuanya belum berpikiran terbuka soal ini. Mengenai bahwa lewat menempuh pendidikan yang tinggi, pola pikir pun akan mengalami perubahan. Saat saya tanya pendidikan terakhir salah satu yang bertanya, jawabannya Sekolah Dasar. Mungkin ini juga jadi salah satu penyebab pemikiran yang belum terbuka mengenai urgensi bersekolah tinggi.
Saya juga menyebutkan beberapa beasiswa yang potensial untuk coba diikuti seleksinya saat mereka sudah berstatus mahasiswa. Saya mencoba semeyakinkan mungkin saat ngabibita mereka. Mudah-mudah dengan begitu, sepercik keinginan mereka buat berkuliah jadi makin berkobar seperti api unggun di kegiatan-kegiatan pramuka.
Sesi berikutnya dilanjutkan dengan pematerian dan tanya jawab bersama Hanif dan Husen dari UNPAD. Saya enggak terlalu tahu apa topik pembicaraannya karena saya ada di ruang panitia untuk selonjoran dan ngobrol dengan kawan FIM Bandung lainnya. Ada juga FGD di mana ke-30 siswa kelas XI dibagi ke dalam beberapa kelompok dan ditemani semacam fasilitator. Lagi-lagi saya enggak kepo mengenai kontennya ngapain aja.
Acara selesai sekitar jam 4-4.30-an seingat saya. Lalu disambung dengan evaluasi. Saya, Ulfah, Ninis, Liea, Uji, dan Gungun dari FIM Bandung pulang menjelang magrib. Hujan yang cukup deras kali itu tentu membuat kami kedinginan. Tapi, yang penting hati kami hangat karena bahagia bisa menjadi bagian dari proses adik-adik di SMA Terpadu Al-Mu’min Paseh Majalaya menggapai mimpi mereka. Sukses yah buat kalian adik-adik!
Bandung, 09 Maret 2020














