puisi ini udah 7 tahun aja.
Misplaced Lens Cap
Game of Thrones Daily
Xuebing Du
Jules of Nature
dirt enthusiast
Peter Solarz

Kiana Khansmith
taylor price
wallacepolsom
d e v o n
styofa doing anything
🪼

Discoholic 🪩
NASA
TVSTRANGERTHINGS
hello vonnie

❣ Chile in a Photography ❣
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

祝日 / Permanent Vacation

★

seen from Pakistan
seen from Russia
seen from Brazil

seen from Kazakhstan

seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from Panama
seen from Colombia
seen from Colombia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
@irfanilmy
puisi ini udah 7 tahun aja.
Besok sore selepas pulang ngajar dari sekolah bakal disambut single barunya Sheila On 7. Yuhu. Di apple music mah udah ada sih--saya lagi dengerin preview-nya. He.
Lama enggak nulis di sini. Lupa udah berapa bulan yang lalu.
Oh iya, baru saja hari ini saya nuntasin nulis refleksi, renungan, atau sekadar catatan di momen pertambahan usia. Ditargetkan sih tiap tahun--semoga bisa. Nulisnya sih di Medium. Buat teman-teman yang kepo sama tulisannya, bisa baca di sini.
"Ciri orang yang cinta adalah yang didengarnya cuma ucapan kekasihnya, yang disebut cuma nama kekasihnya."
Abah Guru Sekumpul via @ulama.nusantara
Catatan:
Buku Yang Berbahagia ini berisi catatan persiapan dan perjalanan menikah. Meskipun bukan buku how-to, di dalamnya cukup banyak nasihat praktikal. Meskipun bukan buku agama, isinya mengandung sentuhan Islami.
Oya, bagi yang ingin membaca buku saya yang lainnya, Bertumbuh dan Teman Imani bisa dipesan melalui Tokopedia, yaitu di toko buku LangitLangit.YK.
Sekali lagi terima kasih karena berkenan membaca tulisan-tulisan saya. Semangat dari teman-teman sangatlah tak ternilai.
Salam kenal (lagi) Teh. He. Saya Irfan, semoga tidak lupa. Saya suka menulis, tapi belakangan kuantitas tulisan saya jauh menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Sedih sekali sebenarnya. Sebagai gantinya, saya selalu mengusahakan untuk membaca.
Salah satu di antara tulisan yang menarik untuk dibaca tentu tulisannya Teteh. Sebagaimana kesan teman-teman Tumblr lain saat membaca tulisan terbaru Teteh, begitulah kurang lebih respon saya juga: bahagia tak terkira.
Pentingnya menulis dengan jujur yang pernah Teteh sampaikan di Tumblr selalu menggema di ingatan saya. Saya senantiasa berusaha untuk menulis seperti itu juga. Apa-apa yang disampaikan secara jujur memang membuat hati terasa tenang.
Pertama tahu Teteh menghasilkan buku baru sebenarnya dari Twitter beberapa waktu lalu. Hanya saja waktu itu saya tidak ikutan tantangan sebagai syarat untuk mendapatkan drafnya. Semalam saya melihat postingan ini dan tergerak untuk berikhtiar jadi yang berkesempatan memilikinya.
Saya membaca seluruh “rayuan” teman-teman Tumblr agar teteh memberikan draf bukunya ke salah satu dari mereka. Sebagai pembaca, saya turut senang mengetahui kegembiraan dan rasa syukur yang teramat dari teman-teman setelah membaca tulisan-tulisan Teteh. Selamat atas itu Teh, dan tetaplah menulis—memberi kami sajian karya yang memberi sebanyak mungkin inspirasi.
Terkait kenapa tertarik untuk membaca karya terbaru Teteh, saya punya sejumlah alasan. Pertama, membaca mengenai sekilas buku ini yang berisi catatan persiapan dan proses menikah, saya langsung tertarik dan merasa butuh untuk membacanya. Saya pikir, apa yang ditulis di dalamnya—dan kelak saya baca kalau beruntung—penting untuk saya serap sebagai salah satu bekal berharga dalam persiapan pernikahan saya juga ke depan.
8 tahun perjalanan pernikahan Teteh membuat saya penasaran untuk mengetahui apa saja sih pelajaran-pelajaran yang telah didapat. Kalau pun tidak bisa sepenuhnya saya lakukan, paling tidak hal itu bisa jadi referensi, mana yang harusnya boleh, tidak boleh, atau sebaiknya dihindari.
Kedua, apa lagi kalau karena yang menulisnya Teteh. Penulis/pencerita dengan kekhasannya tersendiri. Kami-kami yang mengikuti Teteh sejak lama pasti ingin tahu isi pikiran dan secuplik kehidupan rumah tangga Teteh.
Ketiga, seperti judul buku ini, “Yang Berbahagia” saya pun ingin jadi bagian dari orang yang terciprat kebahagiaan itu secara langsung. Tak lain yaitu bahagia lantaran berkesempatan mendapatkan salinan buku terbaru Teteh.
Semoga saja “rayuan” saya terpilih dari sekian “rayuan” teman-teman lain yang pastinya ingin jadi yang beruntung mendapatkan hadiah give away-nya. Tapi, kalau pun tidak, saya akan berusaha untuk tetap bahagia juga.
Saya teringat apa yang telah disampaikan Sayyidina Umar bin Khattab. “Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”
Cikondang, 10 Juni 2024, 19.09 WIB
Kenapa kamu seringkali membandingkan hidupmu dengan orang lain? Tentang pekerjaan, tentang pernikahan, tentang apa pun itu. Tanpa sadar kamu telah menghina Allah. Seolah-olah Allah tidak pernah berlaku adil dalam hidupmu.
Gus Baha via @kyaigusbaha
. . .
Persoalan menerima segala yang terjadi dalam hidup, tiap orang punya tantangannya sendiri-sendiri. Yang dirasa pahit akan sulit diterima, apalagi dengan lapang hati.
Segenap rasa bercampurbaur dan mau tak mau (harus) diluapkan dalam bentuk yang beragam. Paling minimal adalah mengeluh. Lebih jauh barangkali bertindak yang tidak-tidak dengan resiko bahaya, bagi diri sendiri, tak jarang orang lain pun jadi turut terlibat: terciprat.
Saya belajar banyak soal penerimaan atas takdir dari kutipan-kutipan Gus Baha. Kutipan di atas salah satunya. Gus Baha menekankan latihan gigih untuk bisa enjoy menjalani jalan yang telah digariskan Allah atas hidup saya.
Sakit, kecewa, pahit, babak belur, dan sejenisnya usahakan agar diekspresikan dengan tidak destruktif. Lebih bagus kalau justru disikapi dengan riang hati. Ini susah yakin, tapi tetap harus dipaksakan.
Cikondang, 24 Maret 2024, 19.34 WIB
Tidak ada yang menyakitimu kecuali itu pikiranmu, tidak ada yang membatasimu kecuali itu ketakutanmu, tidak ada yang mengendalikan kamu kecuali itu keyakinanmu.
Maulana Jalaluddin Rumi via @arahbatin
Ketika menolong orang lain, jangan bangga, tapi bersyukur karena telah mendapatkan kesempatan untuk berbuat kebaikan.
Gus Baha via @ngaosbarenggusbaha
Jangan engkau iri kepada siapapun karena suatu nikmat karena engkau tidak tahu apa yang Allah ambil darinya. Dan janganlah bersedih karena sebuah musibah, karena engkau tidak tahu apa yang akan Allah hadiahkan untukmu.
Abah Guru Sekumpul
Sekalipun penuh derita, wajah tetap berseri-seri tertawa adalah kebiasaan dan adat pecinta.
Jalaluddin Rumi via @arahbatin
Termasuk kearifan kita sebagai manusia itu harus belajar dari takdir yang kita hadapi, yaitu keterbatasan kita sebagai manusia. Kita harus bisa ngelola kegagalan, menerima qodlo'-qodar.”
Gus Baha via @kiyaikita
Momen pertambahan usia baru beberapa tahun belakangan saya perhatikan. Misalnya dengan membuat refleksi baik lewat monolog di podcast, catatan, dan video singkat. Untuk tahun ini, saya kembali membuat versi tulisan sebagaimana 2 tahun lalu.
Waktu terasa cepat berlalu karena saya memang terlalu betah di dunia sepertinya. Berbagai bentuk upaya merekam memori semoga bisa sejenak menangkap beberapa hal penting yang telah terjadi. Untuk dikunjungi lagi kapan-kapan atau tidak, itu tak jadi soal. Yang penting pernah dibikin.
Oh iya, tulisan bagian pertama bisa dibaca di sini.
Yang disebut zuhud itu tidak banyak berangan-angan. Jadi hidup itu secukupnya. Makanya saya hidup itu tidak pernah saya angan-angankan repot-repot. Hidup ya hidup saja. Hari ini saya menyaksikan qudrah-Nya Allah, besok lagi menyaksikan qudrah-Nya Allah. Hidup ya gitu.
Gus Baha via @gusbahadaily
Ibadah yang paling menjengkelkan setan itu hanya satu, yaitu: kebahagiaan orang mukmin. Karena orang mukmin yang bahagia itu tidak akan menggugat Tuhan. Orang yang tidak menggugat Tuhan itu ciri khasnya mukmin sejati.
Gus Baha via @ngolahpikir23
Bahagia itu bukan berarti kamu tidak pernah menangis atau pun sedih. Bahagia yang sebenarnya adalah ketika kamu hidup bersama takdir-takdirnya dalam keadaan selalu memuji Allah Swt., berterima kasih kepada-Nya, dan selalu tersenyum.
Habib Umar bin Hafidz via @hanif.quotes.islami
Perayaan Sederhana Penuh Makna
Kemarin adik saya berulang tahun yang ke-23. Dari beberapa hari sebelumnya saya tempat terpikir untuk memberinya kejutan. Terpantik ide buat membelikannya jaket, hoodie, atau apa pun yang semisal.
Hanya saja uang saya enggak cukup. Honor bulanan ngajar (3 kelas dalam seminggu) hanya cukup buat saya jajan (nominalnya sengaja tidak saya cantumkan di sini). Jangan bayangkan jajan yang mahal-mahal, paling jajan kelapa muda murni, bakso, snack, dan sejenisnya.
Mamah menjelang Magrib meminta saya untuk membelikan ulang tahun buat adik. Tapi, bakda Magrib Mamah berubah pikiran. Beli sate saja katanya, soalnya enggak ada lauk buat makan malam. Besok saja beli kuenya, begitu kurang lebih. Mamah memberi saya uang Rp. 30.000,-, Rp. 20.000,- untuk membeli sate, dan sisanya untuk jajan yang asin-asin.
Saya pergi ditemani A Heri, tetangga depan rumah untuk membeli kue ulang tahun ke Manonjaya. Jaraknya mungkin sekitar 15 KM dari rumah. Meskipun mamah menyuruh buat beli besok, kararagok, sekalian saja beli kue ulang tahunnya sambil beli sate.
Untuk kue yang tidak mahal-mahal banget, saya ada uang. Enggak banyak, cuma Rp. 100.000,- dengan target kue yang dibeli Rp. 60.000,-. Tapi, ternyata tidak ada. Adanya yang terjangkau, Rp. 50.000, dan harga di bawahnya, serta Rp. 100.000,- dan Rp. 150.000,-. Saya pilih yang Rp. 50.000,- saja. Pertengahan.
Lalu, saya membeli hit refill pesanan teteh sekalian makroni dan kripik asin lainnya. Untuk sate, saya membelinya di tukang sate langganan a Heri, tidak jauh dari tempat beli kue. Sayangnya, hanya tersisa 12 tusuk saja dan a Heri mempersilakan buat saja saja katanya. Tadinya memang a Heri mau beli juga.
Mumpung di Manonjaya, saya mengajak a Heri buat ngopi dulu di salah satu Caffe di dekat tempat beli sate. Seingat saya, ini kali kedua saya minum kopi di Caffe, saking jarangnya. Alhasil, karena kelamaan di sana, orang rumah makan dengan lauk seadanya. Sampai di rumah pukul 20.30-an. Hampura Mah, Pa!
Setibanya di rumah keponakan saya sudah lelap tidur. Pada selalu antusias saat ada perayaan ulang tahun. Kami merayakannya ber-5, saya, adik, teteh, bapak, dan mamah. Kakak ipar saya di lantai atas sedang merawat tanaman peliharaannya.
Bapak memimpin doa dan kami mengamininya. Doa yang saya ingat adalah agar adik saya sehat dan tercapai segala cita-citanya. Begitu pun dengan kami, saya dan teteh dan intinya semuanya agar sehat dan berkempatan pergi ke Baitullah. Saya mengambil beberapa gambar dan video untuk kemudian mengeditnya di Capcut—sebagai dokumentasi.
Perayaan sederhana ini sejak beberapa tahun belakangan kami rutinkan di rumah. Simpel tapi bermakna. Senantiasa ada percik bahagia pasca merayakannya. Ini salah satu cara kami untuk merekatkan keharmonisan dalam keluarga. Semoga bisa terus istiqomah diadakan di tahun-tahun mendatang.
Bulan depan saya juga akan menginjak usia baru. Apakah akan dirayakan juga? Entahlah. Tapi, berharapnya sih iya. He.
Cikondang, 27 Oktober 2023, 05.16 WIB
Memulai Kembali Menulis Jurnal Harian
Terakhir nulis di sini (buku buat nulis jurnal harian) ternyata 2 tahun lalu, tepat sehari setelah saya berulang tahun.
Bulan depan nominal usia saya bakal kembali bertambah. Meski sedihnya pertambahan usia tidak berarti secara otomatis banyak hal yang diangankan tercapai juga. Perasaan saya cukup sering diliputi ketakmenentuan karena banyak yang belum bisa diwujudkan.
Tapi, saya ingin berusaha tetap tenang. Kepanikan, kekhawatiran, ketakutan, seringnya tak membawa saya ke mana-mana.
Benar memang apa yang sering disampaikan Gus Baha bahwa meminimalisir melihat kenikmatan hidup orang lain adalah kunci kebahagiaan. Dan tak bisa dibantah lagi kalau pengaruh dari media sosial terhadap tingginya paparan informasi mengenai kenikmatan orang lain itu sangat tinggi.
"Kamu jangan sering melihat orang lain yang mungkin secara lahir dapat nikmat yang lebih tinggi ketimbang Anda. Kalau kamu enggak bisa ngelola hati Anda, Anda bisa hasud, bisa dengki. Paling tidak, Anda bisa enggak syukur."
- Gus Baha (dalam @bukusuhuf)
Kita (saya) harus pandai mendeteksi kerapuhan diri sendiri terhadap apa yang tersaji di media sosial yang memang pada prinsipnya serba terseleksi isinya. Kalau mental dirasa kuat, ya silakan berada di sana untuk menyerap banyak perkara yang positif--tapi tetap harus tahu waktu, jangan kebablasan.
Namun, bila diri tak cukup siap menahan gempuran perasaan membanding-bandingkan, lebih baik menarik diri dari sana dan lebih banyak melakukan aktivitas non daring.
Kalau pun harus berada di mode daring juga lebih banyak membaca apa yang tersaji di internet tapi bukan media sosial. Membaca lebih banyak opini di website koran, artikel ilmiah, tugas akhir, karya-karya sastra, dan informasi-informasi yang dapat menambah pembendaharaan wawasan serta mengajak otak untuk berpikir lebih banyak.
Pilihan lainnya podcast, agaknya ini masih relatif aman.
Cikondang, 26 Oktober 2023, 05.03 WIB