A year with this book.
Buku ini adalah hadiah ulang tahun dari Mba Asri tahun lalu, Oktober 2022. Saya menghabiskan tepat satu tahun untuk berhasil menyelesaikan membaca buku ini sampai akhir.
Lembar-lembar menuju akhir buku saya habiskan di penerbangan dari Bali ke Jakarta, sesaat sebelum landing.
Ini bukan cerita tentang review buku Conversations on Love, ini tentang perasaan yang membekas setelahnya.
Hati dan pikiran saya campur aduk. Banyak bagian dari buku yang sudah mulai terlupakan karena sudah cukup lama berlalu (setauuuuun), tapi kesannya tetep bisa saya ingat.
Bagian buku yang paling membekas tentunya di bab-bab akhir tentang How Can We Survive Losing Love. Mencintai dan kehilangan seperti dua kata yang kontra, tapi ga bisa dipisahkan. Sepaket dalam sebuah siklus yang absolut.
Saya mengagumi cara Natasha Lunn menjahit setiap keping-keping cerita dan pembicaraan di buku ini menjadi suatu pembahasan yang utuh. Membaca buku ini seperti menonton film dokumenter yang menghadirkan sosok-sosok dengan berbagai kisah mereka tentang cinta: makna, rasa, sosok, sebab, akibat, efek. Segala hal yang meliputinya.
Buku yang saya baca berbahasa Inggris (sepertinya belum ada versi terjemahan Bahasa Indonesianya), tapi dengan kemampuan bahasa inggris saya yang rata-rata, The Conversations on Love masih cukup bisa dipahami dan dihayati.
Kapan-kapan semoga saya bisa cerita lebih banyak tentang buku ini.
—
07.36am | Cilandak, 31/10/23










