PERPISAHAN
Nampaknya kata itu kerap digunakan sebagai tema ataupun judul sebuah karya sastra. Hujan, misalnya. Atau Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. dua judul buku itu mengangkat tema perpisahan dan bagaimana mengikhlaskannya. Meski begitu sering, kali ini aku ingin mengangkatnya lagi, semoga kalian tak bosan.
Perpisahan tak mesti mengindikasikan sebuah perceraian atau perpecahan, meskipun jika ditelisik dalam kamus maka dua kata itu yang muncul sebagai padanannya. Buktinya, saat acara perpisahan sekolah misalnya, masih banyak di antara kita sering bertegur sapa, belajar bahkan bekerja bersama. Hal-hal semacam itu yang kuharap terjadi pada kita, meski hanya ber"muwajjahah" di dunia maya melalui social media. Dan tulisan ini sebagai salah satu ikhtiar mengikat tali ukhuwah yang telah tersulam 33 hari silam.
Bu Shofi, Bu Linda, Pak Aziz, Pak Makin, dan Pak Fikri. Kelima nama tersebut adalah partner sebulan lewat tiga hariku di Matsanewa (MTsN. 1 Kota Malang). Lima nama yang dulu asing hingga kini menjadi akrab di telingaku. Bagaimana tidak? Hari demi hari ku lalui bersama mereka. Entah apa yang terjadi jika tak dipertemukan dengan lima calon pendidik Bahasa Inggris yang asik seperti mereka. Ya! Nyatanya, setelah mereka selesai mengabdi lebih dulu, ruangan yang semula ramai dengan lelucon berubah menjadi gubuk tak bertuan.
Terimakasih untuk kalian berlima. Semoga sukses di luar sana. Semoga diperlancar segala urusan perkuliahan sampai tiba masanya kalian mengenakan topi segi lima kebanggaan yang telah dinanti dari awal masuk di universitas ini. Semoga kelak jika kalian ditakdirkan menjadi seorang pendidik, kalian bisa menjadi the best teacher. Dan semoga ikatan ini senantiasa dijaga oleh Allah hingga suatu saat nanti kita dapat bertegur sapa kembali.
Salam, Penanggungan, 260218. Empat menit menjelang pukul lima pagi.













