كُلُّ شَئْ ٍلَيْسَ فِيْهِ ذِكْرُ اللهِ فَهُوَ لَهْوٌ وَلَعِبٌ إِلاَّ أَرْبَعٌ مُلاَعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَتَأْدِيْبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمَشْيُهُ بَيْنَ الْغَرْضَيْنِ وَتَعْلِيْمُ الرَّجُلِ السِّبَاحَةَ
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i).
Sejenak aku berpikir. Mengapa Rasulullah menyunnahkan berenang? Aku anak pendiam yang tak begitu sering pergi bermain bersama teman-teman sebayaku. Sebagian besar waktuku ku habiskan di rumah. Pernah sesekali bermain bersama mereka, di sawah, sungai, atau sekadar bermain di halaman rumah temanku. Namun, setiap kali diminta mandi di sungai, aku tak berani.
Mungkin karena dulu aku pernah mengalami kejadian "menyakitkan" tentang air. Dulu saat aku masih sangat kecil (ingatku aku belum sekolah), aku diajak ke pantai oleh om dan tenteku. Mungkin karena rasa penasaranku saat itu besar, aku berlari kecil mendekati bibir pantai. Sesaat kemudian,
Ombak menyerangku. Takut, panik, gelagapan! Dunia seakan menghilang dariku. Hitam. Untung om ku dengan sigap menyelamatkanku. Aku yang sekecil itu terpaksa harus trauma dengan ombak, berenang, dan segala hal yang berhubungan dengan mereka.
SD, SMP, hingga SMA, aku tak berani berenang meski sekadar belajar. Jika teman-temanku mahir memperagakan gaya dada, punggung, ataupun katak, maka aku konsisten dengan gaya andalanku, gaya batu. Ironis memang. Tapi mau diapakan? Sekali takut tetap saja takut. "Tenggelam" selalu menghantuiku setiap kali aku tubuhku di dalam air.
Kini aku tak lagi di masa putih abu-abu. Aku berada di detik-detik terakhir bangku perkuliahan. Ku pikirkan kembali. Mengapa? Ah, apa aku harus mencoba sekali lagi agar rasa penasaranku sirna? Baiklah. Mari mulai kembali, wahai diriku.
Seringkali di hari Jumat aku mendapat tawaran untuk bergabung bersama sahabat ku ke "agenda rutinan Jumat pagi"nya. Apalagi kalau bukan berenang? Berbagai cara kulakukan untuk menolaknya. Tapi tunggu! Bukankah aku perlu mencobanya lagi?
Hari pertama, aku bertahan dengan gaya andalanku, meski sesekali berlatih menahan napas di dalam air dan mengepak-ngepakkan kakiku di permukaan air sambil berpegangan erat di tepi kolam. Ah, rasa takut itu masih menghantui. Oke, hari pertama cukup sampai di situ.
Jumat berikutnya, hari kedua aku berlatih berenang. Kali ini aku mencoba sedikit berani dari sebelumnya. Aku mulai bertanya ini dan itu kepada sahabatku. Dengan sabar ia melatihku, membujukku terlebih dahulu memang. Dan perlahan aku mengikuti instruksinya. Tanpa bantuan pelampung, ban, atau sejenisnya, aku mencoba meluncur. Ah! Gagal lagi!
Namun sahabatku tak menyerah. Ia membantuku. Diulurkannya kedua tangannya. Ia memintaku untuk meraihnya. Aku belajar dengan cara ditarik dari depan. Ragu memang, tapi hanya di awal. Selanjutnya? Aku ketagihan. Bagaimana tidak? Dengan metode seperti itu, aku mampu mengarungi setengah dari lebar kolam renang. Sebuah pencapaian yang besar!
Aku mulai mengerti. Mengapa Rasulullah menyunnahkan kepada umatnya untuk berlatih kuda, renang, juga memanah. Mungkin satu poin yang dapat mencakup ketiganya, yakni "melawan rasa takut". Dahulu, salah satu cara penyebaran Islam adalah berperang. Tentu saja hal itu memerlukan keberanian baja tak terhingga.
Keberanian itu salah satunya dapat diasah melalui sunnah Rasul yang telah disebutkan di atas. Bagiku, orang yang hebat bukanlah mereka yang mampu mengalahkan lawannya. Melainkan mereka yang mampu melawan rasa takut yang gemar menghantui jiwanya.