Seringkali, orang yang ngga pernah tahu rasanya dihargai akan sulit juga untuk menghargai.
Orang yang jarang diberi ruang merasakan sedih, kecewa, marah, akan sulit juga untuk peduli dan memberi ruang itu pada orang lain.
Orang yang ngga mendapat empati dari lingkaran terdekatnya, bisa jadi akan sulit menempatkan dirinya dalam posisi orang lain.
Orang yang jarang merasakan kebaikan terhadap dirinya, bisa jadi sulit untuk berbuat baik pada orang lain.
Sulit bukan berarti tidak mungkin. Hanya saja, butuh kesadaran diri yang tinggi untuk mengabaikan pengaruh-pengaruh negatif itu dan mengeluarkan versi terbaik dirinya.
Ketika ada seseorang yang dalam pandangan kita "kurang menghargai orang", "ngga punya hati," "ngga bisa berempati," "jahat", mungkin orang itu adalah orang yang justru paling membutuhkan penghargaan, kepedulian, empati, dan kebaikan.
Seperti sebuah rantai yang berkaitan. Kita semua terhubung. Manusia bisa saling menumbuhkan atau menghancurkan.
Usaha untuk menjadi orang baik meskipun sesederhana sapaan akrab dan ramah, bisa berdampak besar. Apalagi jika dilakukan oleh banyak orang. Bisa mengubah satu jaringan.
Banyak buku dan tokoh berpendapat bahwa kemanusiaan sedang dilanda sakit parah. Banyak masalah kesehatan mental, banyak kasus kejahatan, kerusakan demi kerusakan tidak berujung. Mungkin obatnya lebih dekat dari yang kita kira. Mungkin, obat itu bernama kebaikan.
Jangan lelah berbuat baik. Meski hanya sesederhana berkomentar baik di unggahan orang lain. Mendoakan orang lain yang mendapat musibah. Menahan diri untuk tidak reaktif. Meluangkan sedikit waktu untuk mendengarkan orang lain. Memberi makan hewan yang kelaparan. Berbagi cerita dan pundak.
Semua itu punya dampak pada kemanusiaan. Pada kualitas hidup yang lebih baik. Karena kebaikan itu menular. Dampaknya melipat ganda. Seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkainya lahir seratus benih baru. Terus tumbuh dan beranak pinak.