Rekreasi Jiwa Bersama FOSMA JADETABEK
Hari ini, Minggu 23 Juni 2013, adalah salah satu ajang rekreasi jiwa yang paling berkesan buat saya. Ketika Allah memberi karunia semangat, dedikasi, dan hati penuh cinta pada remaja, maka itulah salah satu sumber semangat yang selalu membuat saya berpijar.
Pagi ini, saya dan istri beranjang sana menemui muda-mudi FOSMA (Forum Silaturahmi Mahasiswa) JADETABEK di Menara 165, Jakarta Selatan. Ada dua agenda yang bakal kami jalankan hari ini, yaitu mengikuti pengajian di salah satu rumah anggota Fosma, dilanjutkan dengan kunjungan ke sebuah panti asuhan di bilangan Bintaro.
Ah, ternyata suasana akrabnya masih seperti dulu. Beberapa anggota FOSMA JADETABEK yang saya kenal tetap semangat, ceria, dan penuh dedikasi. Well, I could not help myself but enjoy my morning chit chat like a lontong sayur breakfast!
Nggak terasa, kami pun sampai di rumah Rara, anggota FOSMA yang berkenan menyediakan rumahnya sebagai tempat pengajian. Well, agak déjà vu sesaat, soalnya nama yang punya rumah sama dengan sahabat baik di masa lalu saya yang kini sudah almarhumah. Yang lebih mengagetkan lagi adalah setting rumahnya yang super duper mirip dengan rumah Rara in my past. Lebih tepatnya sih, ini jadi menguatkan lagi afirmasi dan visualisasi lokasi rumah Rara yang saat ini sedang saya tuliskan kisahnya dalam bentuk novel. Nah loh, bingung nggak nih saya ngomongin Rara yang mana? Well, tentu saja yang saya tulis di novel adalah Rara sahabat saya dulu, hanya saja, kemiripan nama dan latar membuat saya makin semangat mencari penerbit untuk calon novel saya. Buat yang baca, mohon do’anya, ya…! J
Dalam pengajian remaja pagi ini, salah satu anggota FOSMA yaitu Kak Rezki berkenan memberikan pencerahan. Sepertinya bakal memakan waktu lama untuk menjabarkan makna yang luar biasa dari sharing tersebut, so let me summarize it for you.
Kak Rezki menyampaikan keistimewaan Imam Abu Daud yang memilah makna ratusan ribu hadits, dan menjabarkannya dengan memilih empat hadits. Kira-kira intinya adalah demikian. Seorang muslim yang baik haruslah mengawali segalanya dengan niat sebagai bentuk aktualisasi dari ibadah. Lalu, dilanjutkan dengan koreksi diri manakala ada kesalahan atau kekeliruan yang pernah diperbuat. Setelah itu, kita wajib mencintai orang lain seperti halnya mencintai diri sendiri. Sebagai penutup, muslim sejati diwajibkan untuk menjalankan yang halal dan meninggalkan yang haram.
Acara ditutup dengan kunjungan ke panti asuhan. Jujur, inilah salah satu momen berkesan untuk saya mensyukuri nikmat Allah. Lihatlah. Betapa anak-anak yang hadir saat itu, meski berada dalam kondisi yang berkekurangan jika dibandingkan dengan kita, namun mereka tetap semangat dalam belajar dan beriman. Bahkan, saya pribadi yang Allah berikan kebutaan, merasa sangat bersyukur karena hanya kebutaan ini saja yang Allah turunkan sebagai ujian. Well, mungkin kalau saya jadi salah satu di antara anak-anak itu, barangkali saja saya sudah patah semangat dalam menjalani hidup ini.
Maka, terbuktilah apa yang disampaikan mentor saya Dr. Aisah Dahlan, bahwa saat kita memposisikan diri kita sebagai hamba Allah yang beruntung, maka kita akan selalu bersyukur. Yes, yes I do…
“Ya Allah, terima kasih atas rekreasi jiwa di masa jelang Ramadhan ini. Terima kasih juga untuk teman-teman dari FOSMA JADETABEK yang sudah menggelar acara bermakna ini. The last one, terima kasih buat istri saya yang tengah menjabat sebagai BUMIL yang sudah ikut menyertai saya dalam kegiatan hari ini!”