Sejuta Senyuman Jl. Sumbawa No. 40 Blora
Pagar kayu berwarna hijau itu saya buka. Pagar yang kedua daun pintunya hanya terkait dengan tali plastik berwarna hitam. Tidak tampak ada orang, tapi pintu utama rumah terbuka. Saya memberanikan diri membuka kait tali plastik tadi, sambil berharap tidak diteriaki maling. Berjalan dua langkah menuju area rumah, berbalik badan lalu menutup serta mengkaitkannya kembali dengan tali, mengembalikan keadaan pintu pagar seperti semula.
Di hadapan saya tampak sebuah rumah dengan halaman yang luas. Masuk ke area rumah ini, seperti kembali ke masa-masa perang. Rumah dengan gaya Arsitektur Kolonial. Saya membayangkan ada tiga anak laki-laki bermain kelereng. Ayah asik membaca koran di teras rumah dan ibu menyulam. Mereka menikmati waktu santai seraya memperhatikan anak-anak bermain. Pada masanya, rumah ini tergolong gedongan, tetapi sekarang kemewahan rumah ini dikikis oleh usia. Keriput memenuhi dinding yang bercat putih. Pintu jendela tidak kalah mirisnya. Hijau dan kuning berpadu saling memucat. Genteng-genteng di atap seolah ingin meluncur bebas dari rangkanya. Aduuhh.. andai rumah ini diperawat dan dipelihara dengan baik.
Saya melangkah menuju pekarangan. Cukup luas. Kira-kira duapuluh kali sepuluh meter. Di sisi kiri ada halaman rumput yang menjorok ke dalam. Mungkin luasnya sekitar lima kali limabelas meter, memanjang menuju sebuah pintu Rumah Samping. Terlihat ada dua ekor kambing. Kambing pertama terikat di samping rumah, yang kedua berada di Rumah Samping, entah terikat atau tidak. Saya terus melangkah ke area tengah halaman rumah, menuju pintu utama. Di sisi kanan rumah ada lahan jati. Entah berapa luasnya. Perkiraan saya, lebih luas dari pekarangan yang pertama.
Saya terus melangkah menuju pintu utama rumah. Kerai bambu menjulur menutupi jendela yang terbuka.
“Kulonuwun.” kembali saya mengucap salam.
Saya melongok ke dalam rumah melalui lubang jendela. Di dalam, keadaan dalam rumah tidak jauh berbeda dari tampak luar. Banyak barang yang tidak tersusun secara baik. Umur furniture mungkin sama dengan rumahnya. Tapi yang menarik perhatian saya dan cukup mengaburkan pikiran tentang keadaan rumah tadi adalah foto-foto potret penghuni yang terpampang di dinding rumah. Diantaranya foto penulis idola.
Tiba-tiba ada suara orang dari arah belakang saya. “Mbak, itu ibunya di samping rumah.” ujar seorang lelaki.
Agak kaget dibuatnya. Ketika menoleh, ternyata lelaki tersebut adalah orang yang saya tanyai letak rumah ini tadi.
“Oh, iya, mas. Terimakasih.” jawab saya seraya berjalan menuju samping rumah yang dimaksud.
Lelaki itu menuntun saya menuju pintu samping rumah. Laga-laganyanya seperti dia sudah terbiasa melakukan itu. Terbiasa dengan banyaknya orang yang bertanya tentang rumah ini. Rumah ini memang sudah pasti dikenal oleh penduduk sekitar. Penikmat sastra mungkin banyak yang ingin datang ke rumah yang terletak di Desa Jetis, Blora, Jawa Tengah.
Seorang ibu tampak sedang memetik cabai yang pohonnya tumbuh liar di samping rumah. Umurnya sekitar limapuluh tahunan. Tidak pasti. Mungkin anak dari pemilik rumah. Lagi tidak pasti.
“Silakan, mbak.” ujar lelaki bertubuh gempal dan bergigi ompong di bagian depan.
Ibu yang sedang memetik cabai tadi menyambut dengan ramah. Dia bertanya asal muasal secara detail ketika beliau tahu saya dari Yogyakarta. “Yogyakartanya mana, mbak?”. “Slemannya mana, mbak?”. “Ngagliknya mana, mbak?”. “Rejodaninya sebelah mana pasar, mbak?”. Pertanyaan yang bertubi bukan?
“Saya Pakem, mbak. Deket tho?”
Oalahh.. akhirnya saya tahu kenapa dia bertanya seperti petugas sensus. Ternyata kita punya satu kesamaan. Asal usul. Ya. Memang kadang ada pertanyaan lanjutan setelah nama. Asal usul dan mungkin agama. Ada sebagain orang punya rasa ingin tahu yang besar terhadap orang lain. Sampai-sampai urusan pribadi pun diusik. Tapi sudahlah. Saya tidak ingin menulis tentang hal itu.
Setelah serbuan pertanyaan itu, akhirnya si ibu mempersilakan saya untuk masuk ke dalam.
“Silakan masuk, mbak. Itu bapak di dalam. Lagi ada tamu juga.”
Kemudian saya melangkah ke arah Rumah Samping. Tampak jendela yang terbuka, tetapi pintu tertutup. Dari jendela terlihat ruangan di dalam rumah sedikit gelap. Saya terus melangkah. Ingat kambing kedua yang saya bicarakan sebelumnya tadi? Dia tepat di sisi kiri saya dan tidak diikat.
“Permisi.” dengan ketakutan akan kambing saya memberi salam.
“Masuk.” Terdengar suara seorang laki-laki dari dalam rumah. Dia melanjutkan, “Tidak usah copot sepatu. Ini bukan masjid.” Suaranya tidak lantang tetapi cukup tegas. Saya tetap buka sepatu lalu masuk ke dalam area teras rumah. Lantainya licin, bukan karena terlalu bersih, tetapi ada seperti minyak pertanda rumah belum dibersihkan. Seorang lelaki bertubuh kecil dan pendek dengan rambut yang hampir semuanya putih membuka pintu, mempersilakan saya masuk.
Kami berjabat tangan, saling memperkenalkan diri. Terucap sebuah nama; Soes. Saya meyakinkan diri sendiri bahwa benar dialah adik kandung dari penulis terkenal yang rumahnya saya datangi ini. Di dalam rumah juga ada seorang anak muda yang lebih dahulu datang. Saya lupa nama pemuda itu, yang saya ingat baru kembali ke Blora setelah lulus pesantren di Jombang.
“Mari silakan duduk. Itu kursinya ambil sendiri.”
Saya mengambil salah satu kursi plastik berwarna biru yang tertumpuk di sisi depan pintu. Lalu mengambil area samping lemari kayu di depan pintu, lalu duduk di kursi tersebut. Mata saya bertamasya ke seluruh sisi ruangan. Lagi-lagi, terpanjang banyak lukisan dan foto seorang penulis idola. Ada poster-poster buku-buku beliau juga.
“Wah, berani sekali. Hebat. Tidak takut?”
“Jawaban yang bagus. Kenapa mesti takut?”
Saya tersenyum mendengar beliau mengulang jawaban saya tadi.
Lalu dia bercerita kalau manusia dipenuhi banyak ketakutan. Yang kadang ketakutan itu tidak mendasar alasannya. Karena menurut dia, manusia seharusnya hanya takut pada tuhannya.
Naahh kan! Apa saya bilang? Saya sebenarnya risih dengan jenis pertanyaan seperti itu. Tidak pernah sekalipun saya bertanya tentang agama kepada sesorang yang baru saja dikenal. Tapi apa daya, saya harus menjawab pertanyaan ketika ditanya oleh tuan rumah.
“Alhamdulilah Katholik, Pak.” Jawab saya seraya tersenyum.
“Saya Islam. Tapi saya memuja Buddha.”
“Saya juga.” Seolah tak mau kalah dengan Pak Soes sambil menunjukkan kepada beliau kalung dengan bandul Buddha yang saya kenakan.
Dia mengangguk-angguk lalu meneruskan percakapan. Dia bercerita tentang Buddha yang mengajarkan dharma. Dharma kepada sesama manusia, kepada makhluk hidup, dan alam semesta. Itulah dharma kepada Tuhan. Manusia mati tidak membawa benda. Manusia mati membawa dharma.
Kali ini saya yang mengangguk-angguk sambil garuk-garuk kepala. Bertanya kepada diri sendiri apakah saya tidak salah masuk rumah?
Mata saya kembali berkeliling melihat seluruh sisi ruangan berukuran kira-kira lima kali empat meter ini. Ruangan yang dipenuhi buku. Banyak buku. Ada yang tersusun dalam rak-rak, ada pula yang hanya tertumpuk tinggi dari lantai. Berdebu, pasti. Berlumut, entahlah. Ada beberapa foto dan lukisan di dinding ruangan. Saya menunjuk satu lukisan perempuan di sisi kanan dekat pintu.
“Itu lukisan siapa, Pak?”
“Annelies. Tahu Annelies?”
Ahhh.. lagi-lagi saya mengangguk seraya menyebut satu nama: “Minke.”
“Percaya kalau lukisannya hidup?”
Kaget bukan kepalang. Horror sekali rumah ini ternyata. Dia bercerita kalau lukisan perempuan itu dan lukisan lelaki bertopi di sampingnya kadang bergerak sendiri. Kalau malam suka terdengar suara. “Tapi ini bukan horror lho, lukisan itu bergerak karena tikus atau cicak.” begitu ujarnya meluluhkan ketegangan.
Kami tertawa. Dia bertutur bahwa dua lukisan itu tiba-tiba ada di rumah. Tidak tahu siapa yang meletakkannya. Siapa yang melukisnya saja dia tidak tahu. Tapi yang pasti pelukis yang sama.
“Suka buku Pram yang mana?”
“Hampir semua buku beliau saya baca dan suka. Sepertinya semua orang menyukai buku Pram. Tapi yang paling asik bacanya, ya Ken Arok. Sampai-sampai saya ikut deg-degan, merasakan lutut Ken Dedes yang gemetar ketika melihat lelaki ksatria itu.”
Saya menambahkan, bahwa perjalanan personal kali ini dimotivasi oleh buku-buku Pram. Perjalanan yang sudah saya impikan sejak sepuluh tahun yang lalu. Panggil Aku Kartini Saja, Jalan Raya Pos Jalan Daendels, Gadis Pantai adalah buku-buku itu. Saya adalah seseorang yang besar pada jaman di mana pelajaran sejarah diputarbalikkan. Di sekolah dulu tidak diajarkan kalau ternyata Kartini juga melukis, membatik, dan berdagang. Pelajar duapuluh tahun lalu hanya tahu sebatas judul seperti buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Bahkan isinya pun tidak tahu, kami hanya tahu bahwa buku itu adalah kumpulan surat-surat beliau. Tetapi Pram menulis secara lebih bermakna. Dari buku itu saya akhirnya tahu, kepada siapa RA Kartini menulis suratnya, pun Pram menulis makna dari tulisan Kartini itu.
“Itu kakak saya.” Beliau memamerkan diri sendiri. Lalu melanjutkan bicara, “Bisa kamu bayangkan ketika beliau menuliskannya di dalam jeruji penjara?”
Hanya Tuhan dan Pram yang mengerti betul perasaannya. Saya hanya penikmat yang berusaha masuk ke dalam cerita yang dibuat. Pram sering bercerita soal Blora, tanah kelahirannya. Bertutur kedamaian desa nelayan Gadis Pantai Rembang. Keheningan Pantai Scheveningen Jepara tempat Kartini bersantai.
“Boleh saya berkeliling, Pak?”
“Silakan. Di sini self service. Buku cari sendiri minum ambil sendiri. Jangan tanya saya buku A ada di mana? Ini hanya sebagian buku yang tersisa. Yang lain sudah musnah secara sengaja maupun tidak.”
Seraya saya ber-self service, pikiran saya sejenak ke hal yang bukan-bukan. Selain banyak yang mengagumi tulisan Pram, tetapi tidak sedikit juga yang berusaha memusnahkannya. Kerana dianggap sebagai ancaman. Pak Soes yang sedang duduk tenang memandnag jendela bercerita bahwa di sini orang bebas meminjam buku. Dia bilang kalau baru kemarin ada orang mengembalikan sebuah buku setelah dipinjam selama dua tahun.
Saya masih asik dimanjakan dengan seluruh bagian ruangan ini. Imajinasi saya mundur ke puluhan tahun silam. Ruangan kecil di mana Pram sibuk dengan buku dan tulisannya. Ruangan yang menjadi saksi bisu nafasnya yang tersengal ketika menulis. Ruangan di mana dia duduk menulis menghadap jendela sambil menikmati halaman rumah. Ruangan di mana angin hilir mudik.
Tapi saat ini, di ruangan ini buku tertumpuk begitu saja. Debu dan lumut. Sayang sebenarnya. Kondisi rumah yang juga cukup menyedihkan. Lantai licin seperti ada minyak seperti sudah lama tidak dibersihkan. Saya melongok ke dalam kamar di sisi kiri ruangan. Keadaan yang lebih mengenaskan. Maaf saya harus mengatakan ini. Tapi inilah keadaan sebenarnya. Kasur tua dengan kasur kapuk. Lagi-lagi buku berserakan. Ada pula piring dengan bekas makanan. Di kamar inilah penulis menghabiskan beberapa waktunya untuk menulis. Saya mengambil beberapa foto untuk dokumentasi pribadi. Lalu kembali duduk ke tempat semua.
“Saya bukan tipikal orang yang rela meminjamkan buku, Pak.” menyahut perkataan beliau tadi. ”Kalau saya merasa harus merekomendasikan buku ke seseorang untuk dibacanya, saya akan membelikan dia satu buah buku untuk dimiliki. Sedangkan milik saya tetap aman di lemari.”
Beliau tertawa mendengar penjelasan saya.
“Kamu lihat poster di depan pintu rumah tadi?”
“Bacalah Bukan Bakarlah.”
Ya ya ya begitu mudah orang membakar buku pada masa lampau. Ketika ada sebuah buku yang ditulis oleh seorang yang dirasa berbahaya, maka buku itu pun secara otomatis juga berbahaya. Akhirnya, buku itu harus dibakar. Saya rasa “aktivitas” seperti itu masih sering terjadi, tetapi mungkin tidak se-eksploit dulu.
“Saya ingin punya perpustakaan kecil seperti ini di rumah, Pak. Saya ingin memamerkan buku-buku koleksi kepada orang-orang yang datang. Mereka boleh bebas membaca semua buku, dengan satu syarat; tidak boleh pinjam.”
Kami tertawa. Lalu saya kembali bercerita tentang kenangan masa-masa kuliah. Kalau ada waktu senggang di jeda jam kuliah, saya pasti mojok di sudut rak sastra perpustakaan kampus. Saya boleh bangga, koleksi sastra di perpustakaan gedung fakultas kampus lebih lengkap dibanding dengan lain. Malahan, kalau saya sudah tidak bisa meminjam buku karena kuota penuh, saya selipkan buku yang sedang saya baca itu ke dalam rak lain di luar semestinya.
“Biar tidak dipinjam oleh orang lain?”
Saya mengangguk tanda setuju dengan Pak Soes.
Kami asyik dengan obrolan-obrolan serius namun tetap santai. Pak Soes berkelakar bahwa selain Pram, Pak Koes juga tak kalah hebatnya. Pak Koes lah orang pertama Indonesia yang bisa berbahasa Rusia dan empatpuluh bahasa asing lainnya. Pak Koes banyak menterjemahkan buku-buku Pram dalam berbagai bahasa.
Dia juga bercerita bahwa rumah ini sering mengadakan acara. Banyak penulis datang untuk berdiskusi. Kali terkahir Hari Kartini. “Di teras itu kita diskusi.” Dia menunjuk meja kursi bambu yang berada di teras depan.
Asyik sekali bisa singgah di rumah ini dan bercengkerama dengan Pak Soes. Rumah mendiang penulis idola, Pramoedya Ananta Toer, kakak Pak Soesilo Toer, si tuan rumah.
“Oiya, sudah isi buku tamu belum ya tadi?”
Lalu beliau menyodorkan saya sebuah buku folio klasik. Saya menuliskan nama dan keterangan lengkap data pribadi, lalu menyerahkannya kepada beliau.
“Lucia Widi.” Dia membaca nama saya.
Lalu tiba-tiba dia berkata seolah lupa akan sesuatu.
“Oiya, di sini setelah isi buku tamu, harus bayar sejuta.”
BOOM!! Seolah saya baru saja dilempari bom molotof oleh musuh dalam selimut. Tapi anehnya, saya merasa kok tidak percaya dengan ucapan dari seorang Soesilo Toer.
“Waduh, Pak, saya ndak punya uang segitu.”
“Apa saya bilang kalau sejuta itu adalah uang?”
Saya menggeleng sambil membenarkan ucapak beliau. Dia bilang, di sini orang harus bayar sejuta. Sejuta senyuman, sejuta cerita. Sejuta apa saja selain uang.
Luluh lantak saya dibuatnya. Aaiisshh.. Pak Soes.
“Kalau hanya senyuman, jangankan sejuta, semilyar pun akan saya berikan, Pak.”
“Bagus. Karena masih ada orang yang sulit sekali memberikan sesuatu kepada orang lain walaupun itu hanya senyuman.”
Saya melirik jam di tangan saya. Waktu sudah menunjukkan jam tiga sore.
“Masih siang, nanti saja perginya. Di sini orang datang minimal dua jam.” Beliau memergoki saya melirik jam.
“Aduh, Pak, saya harus sudah sampai Rembang sore ini juga. Melanjutkan perjalanan.”
“Kalau begitu, menginap saja di sini. Besok saya juga mau ke Rembang. Ada undangan nikahan kerabat di sana. Tidur di kamar tamu. Lagian jam segini sudah tidak ada bus menuju Rembang.”
“Mampuslah gue!” dalam hati mengumpat. Saya terus mendumel dalam hati. Menyalahkan diri sendiri karena terlalu asyik ngobrol ngalor ngidul dengan Pak Soes yang ramah.
“Aduuh, Pak, maaf, saya sudah ada janji dengan teman di Rembang. Lain kali saya akan singgah lebih lama dan menginap.” Terpaksa saya berbohong. Tapi ingat, berbohong demi kebaikan agar rencana perjalalanan ini tetap berjalan.
“Ya sudah kalau tidak mau dipaksa. Berarti kamu harus berjalan agak jauh ke perempatan jalan. Semoga masih ada bus yang ngetem.”
Kemudian saya berpamitan dengan Pak Soes. Beliau berharap semoga bisa bertemu lagi besok di Rembang.
Saya berjalan menuju pagar kayu yang pertama. Membuka pintu dan menutup kembali. Saya menyusuri Jalan Sumbawa sembari banyak berpikir tentang rumah tadi. Rumah yang bisa saja bernasib lebih baik. Jangan bayangkan untuk meminta penghargaan dari pemerintah atas jasa Pram yang mengaharumkan nama Indonesia di mata satra dunia, tetapi setidaknya ada gerakan swadaya komunitas satra yang peduli.
Tetapi di luar masalah itu, begitu berharganya pengalaman saya kali ini. Bertemu dengan Pak Soes, adik mendiang penulis idola, Pramoedya Ananta Toer. Mengenal lebih dekat ketimbang hanya membaca buku-bukunya. Masuk ke dalam rumahnya, merasakan aura tulisannya, menghirup udara yang sama dengan Pram. Menyentuh dinding yang sama. Apapun yang sama. Rumah keluarga Toer. Rumah Perpustakaan Pataba; Rumah Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa
Saya rasa, perjalanan personal kali ini akan memberi makna yang berbeda dengan sebelumnya. Ketika lainnya hanya memburu keindahan alam yang tanpa konteks, tetapi kali ini saya memburu keindahan dalam kritis. Keindahan yang hanya bisa saya rasakan sendiri secara personal. Keindahan tulisan Pram yang ingin saya rasakan. Keindahan yang getir. Perjalanan personal. Besok, selamat datang di Rembang.