Stasiun Lasem, Saksi Bisu Tanam Paksa yang Perkasa
Lasem juga tercatat sebagai pengimpor senjata-api gelap dari Singapura. Ini terbongkar sewaktu berkecambuk Perang Jawa Pertama (1825-1830) atau Perang Diponegoro. Orang-orang Tiongoa penyelundup tersebut memasok senjata-apinya pada seorang pelarian wanita bangsawan kraton di Rembang, dan selanjutnya melalui pedalaman menyerahkannya pada pasukan Diponegoro. (Pramoedya Ananta Toer, 2003:14)
Setelah Perang Jawa usai, perang yang meruntuhkan keuangan itu, Pemeritah Belanda di Hindia melaksanakan tanampaksa untuk memperbaiki keadaan ekonomi. Mereka merampas sawah-sawah milik Pribumi. Sawah-sawah yang akan dijadikannya ladang kopi, karena kopi punya harga jual tinggi di Netherlands. Tapi pesisir Lasem, Desa Dorokandang milik Saidjah, tidak cocok ditanami kopi.
Pemerintah Hindia Belanda juga butuh kerbau lebih banyak. Kerbau-kerbau itu digunakan untuk mengangkut batu dan mortar. Kerbau-kerbau yang juga hasil rampasan dari tangan Pribumi. Reil kereta api dibangun di sepanjang pesisir pantai utara Jawa, supaya distribusi kopi dan kapok lebih cepat ke Semarang. Di Dorokandang, di dekat pohon besar dengan pagar kayu, sedang dibangun pula sebuah stasiun.
Di sini, saya ingin menceritakan sebuah kisah tentang Saidjah dan Adinda. Kisah milik Multatuli yang tersohor itu. Kisah pedih bangsa Pribumi dengan latar belakang tempat yang berbeda. Kisah Saidjah dan Adinda dari Dorokandang, dimana Stasiun Lasem dan Pohon Doro yang perkasa itu berada.
Sedih hati Saidjah ketika teman bermainnya dirampas. Seekor kerbau dengan tanduk yang perkasa sekaligus cantik. Ia meraung tiada henti. Tak mau makan.
Sang ayah pun dibuat gusar bukan main, melihat anak kesayangannya itu begitu menderita kehilangan sahabatnya. Ia juga memikirkan sawahnya yang juga harus dibajak jika musim tiba. Seketika itu pula, ia berjalan menuju ambin, mengambil keris yang disimpannya di bawah kasur, lalu pergi keluar rumah.
Bergegaslah ayah Saidjah menuju rumah seorang Cina dekat pasar. Saudagar itu penggila barang-barang pusaka, lalu dijualnya barang berharga terakhir miliknya itu. Duapuluhempat gulden didapat, cukup untuk membeli kerbau lagi.
Tergopoh ayah Saidjah berjalan seraya menggenggam tali kerbau di tangannya dan menggeret binatang besar itu dengan susah payah. “Saidjaahh! Saidjjjaaaaahhh!!” teriak sang bapak dari kejauhan.
Girang bukan kepalang hati bocah sembilan tahun itu. Ditungganginya sahabat barunya itu, berjingkrak-jingkrak tiada henti di atas punggung si kerbau. Hewan yang tanduknya masih mungil itu pun langsung tunduk kepada tuan mudanya. Mereka menyusuri jalan kampung, masuk semak-semak dan hutan jati, menuju Sawah Segoro.
Tebo, begitu kerbau itu diberi nama, segera menundukkan kepalanya yang berat lalu geleng ke kanan dan ke kiri, atau ke atas, sesuai dengan arahan tangan dari Saidjah.
Saidjah memang seorang anak yang mudah sekali bersahabat dengan hewan. Ia seolah bisa berbicara dengan bahasa hewan. Hanya dengan duduk di atas punduk, seketika pula, dengan perkasa hewan berkulit tebal tersebut langsung menghancurkan tanah liat padat, dan mengubahnya menjadi galur-galur bajakan. Tidak ada satu inci pun, tanah yang luput digaruk oleh raksasa.
Semua orang di desa itu suka pada Saidjah. Ayah Adinda (anak yang kelak akan mencintai Saidjah), yang sawahnya berdekatan, kerap mempercayakan Saidjah untuk menggiring dan mengajari adik-adik Adinda -yang masih kecil- menggarap ladang miliknya. Adik-adik Adinda belum paham betul bagaimana membajak sawah dengan baik. Adinda pun tak mau jika tak turut serta ke sawah ketika gerombolan bocah lelaki akan membajak. Biasanya, kisah itu akan diakhiri dengan adegan senda gurau dan badan penuh lumpur.
Tebo memang tidak sebesar kerbau pertama, kedua tangan Saidjah masih bisa merangkul lehernya. Galur bajakannya pun juga tidak selurus kerbau sebelumnya, atau gumpalan-gumpalan tanah yang sudah dibalik tidak sekali hancur, tetapi Saidjah dengan senang hati akan membetulkan dengan pacul. Dia tetap menganggap tidak ada kerbau lain yang mengalahkan kepatuhan si Tebo.
Suatu saat, Saidjah sebelas dan Adinda sembilan tahun, ketika mereka sedang berada di sawah, entah mengapa si Tebo tidak begitu bergairah dalam galur-galur bajakan sawahnya. Hewan itu tidak bergerak walaupun kata-kata serapah sudah diucapkan Saidjah. Tebo hanya menggeleng-gelengkan kepala seakan hendak melemparkan gandarnya, seraya mendengus dan gemetaran. Penderitaan tampak di mata birunya, dan bibir atasnya terlipat ke atas sehingga gusinya terlihat.
Tiba-tiba adik-adik Adinda berlari dari kejauhan sambil berteriak, “Lari! Lari! Lari, Saidjah! Ada macan!”
Dengan bergegas, mereka melepaskan gandar kerbau masing-masing, lalu melompat di atas punggungnya. Derap tapak-tapak kerbau itu cepat melewati sawah-sawah, galangan-galangan, semak belukar, ladang-ladang, dan jalan-jalan.
Di desa kami, Dorokandang, kadang kala macan tampak menyusuri Sungai Babakan, keluar dari rawa-rawa di baliknya. Mereka keluar hutan untuk mencari makan, kerbau dan bebek kami inilah buruannya. Kalau sudah begitu, pasti ada saja bebek yang hilang atau sisa bau amis sisa bangkai kerbau yang habis disantap macan. Atau paling beruntung, ya seperti kami, berhenti di bawah Pohon Doro dengan napas tersengal serta bermandikan keringat. Sambil berjalan perlahan kembali menuju kampung, kami melihat banyak orang bekerja menggali tanah entah untuk apa.
Ketika ayah Adinda memotong seekor bebek untuk sajen panen, Saidjah baru berusia limabelas tahun, dan Adinda mengenakan kain yang dilukisnya sendiri. Dia sudah belajar mengungkapkan pikiran-pikirannya yang melankoli pada kain. Mereka berbondong dengan membawa sajen lain, berjalan menuju tegalan.
Saidjah dan Adinda semakin sering bertemu. Kadang ketika gerombolan itu sedang di sawah, Saidjah dan Adinda hanya duduk di pinggiran, bercakap sambil melihat adik-adik Adinda yang sudah mahir membajak. Kali ini mereka asyik bersenda gurau di bawah Pohon Doro yang besar itu, pohon dengan pagar bambu.
Di siang hari yang semu panas, terdengar teriakan salah satu adik Adinda dari kejauhan, “Gawaat! Gawaattt! Gawat Saidjah!”, ujarnya dengan napas tersengal, kemudian melanjutkan, “Tebo dirampas lagi. Katanya untuk angkat mortar dan batu untuk bangun stasiun kereta.”
Terkejut bukan main Saidjah mendengar berita itu. Dalam kegusaraannya, ia berlari tergopoh menuju rumahnya, seraya berharap berita yang baru saja didengarnya itu hanyalah bohong belaka. Setibanya di jalan kampung rumahnya, banyak serdadu Belanda, dan melihat Tebo sudah digiring dengan kerbau-kerbau lain, yang juga berhasil dirampas.
Kerbau-kerbau jarahan itu untuk menarik gerobak berisi batu. Semakin banyak kerbau pengangkut, semakin cepat proses pembangunan stasiun kereta api.
Sesampainya di rumah, dilihatnya sang ayah dengan tubuh penuh luka. Luka-luka itu adalah hasil mempertahankan Tebo agar tidak berhasil dirampas. Tapi apa daya, mereka pegang senjata.
Apa yang bisa diperbuat Saidjah? Kembali Ia kehilangan sahabat. Kehilangannya kali ini terasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Ayahnya sudah tidak punya barang berharga lain yang bisa digadai ke saudagar Cina yang rumahnya dekat pasar itu. Sawahnya juga berhasil diambil paksa untuk tanam kapok.
Keadaan seperti ini hanya bertahan beberapa saat. Sang ayah yang sudah menua tak mampu lagi bertahan bekerja tanpa upah membangun stasiun. Ia pun meninggal dengan badan hanya tulang berlapis kulit. Si ibu, jaga tak mampu hidup sendiri. Beberapa bulan kemudian, sang ibu meyusul sang ayah berpulang.
Saidjah memutuskan pergi ke Semarang. Ia mendengar bahwa di sana ada banyak tuan yang mengendarai bendi. Dengan begitu, ia berpikir bahwa akan sangat mudah jika ia menjadi kacung bendi di Semarang. Dalam kurun waktu tiga tahun, ia akan memiliki cukup uang untuk membeli dua kerbau dan menikahi Adinda, pikirnya.
“Hitunglah bulan. Aku akan pergi selama tiga kali duabelas bulan. Buatlah takik pada lesungmu, setiap kali muncul bulan baru. Ketika kau sudah membuat tiga kali duabelas garis, pada pagi harinya, bergegaslah kau menembus hutan jati. Tunggulah aku di bawah Pohon Doro yang perkasa itu, tempat kau memberiku bunga melati,” ujar Saidjah kepada Adinda dihari keberangkatannya.
Adinda hanya menganguk mengiyakan. Saat itu, Saidjah tujuhbelas dan Adinda empatbelas tahun.
Kemudian, Saidjah merobek secarik kain dari ikat kepala birunya, yang sudah sangat lusuh, dan memberikan potongan itu kepada Adinda. Ia memohon kepada Adinda untuk menyimpannya sebagai janji, lalu ia pergi meninggalkan Adinda dan Lasem.
Saidjah berjalan selama berhari-hari. Ia menyusuri Jalan Raya Pos, melewati tambak-tambak garam pinggir pantai. Ia juga melewati alun-alun dan rumah gedong dengan pavilyun dua lantai milik Bendoro.
Setelah meyeberangi Kali Juwana, dan melewati beberapa galangan kapal, ia disambut dengan hamparan perkebunan kapok di Pati. Ia terus berjalan sampai akhirnya kembali menyeberangi Kali Gelis di Kudus.
Saat tiba di Demak, ia takjub melihat kemegahan Masjid Agung Demak. Ia terkesima dengan tiang-tiang kayu dan dinding porselein Cina bangunan itu. Ia belum pernah melihat seperti itu sebelumnya. Seharian ia tetap berada di sana karena kelelahan. Dan pada malam hari, ia lanjutkan perjalanan dalam kesejukan, dan akan sampai di Semarang, sebelum bayang-bayang turun sampai pada bibirnya.
Akhirnya Saidjah tiba di Semarang. Ia memohon kepada seorang tuan untuk mempekerjakannya. Si tuan yang baik hati itu bersedia menerima karena melihat Saidjah sepertinya adalah orang jujur.
Gembira sekali hati Saidjah. Ia bekerja dan berperilaku dengan baik, karena dibenaknya hanyalah dua kerbau yang harus dibelinya dan menikahi Adinda. Tubuhnya menjadi tinggi dan kuat karena makan tiap hari, sesuatu yang tidak selalu didapatknya di Dorokandang.
Dari dulu memang Saidjah mudah disukai oleh banyak orang. Di istal, mudah baginya untuk mendapatkan putri pak kusir. Tapi yang dipikirnya lagi-lagi hanyalah dua kerbau dan Adinda.
Majikannya pun sangat menyukai Saidjah. Segera saja ia diangkat menjadi pelayan rumah, menaikkan gaji, dan memberinya banyak hadiah. Pundi-pundi emas pun semakin banyak dikumpulkannya.
Namun, mereka menganggap Saidjah tidak tahu berterima kasih ketika setelah tiga tahun meminta berhenti dan memohon surat berkelakuan baik. Dengan sedih dan setengah marah, sang majikan mau tidak mau meloloskan permintaan Saidjah. Dan akhirnya, Saidjah pulang dengan hati riang.
Ia kembali menyusuri jalan yang sama ketika berangkat. Di Masjid Agung Demak, ia menghitung harta karun yang berhasil dibawa pulang. Limapuluhempat gulden, cukup untuk membeli tiga ekor kerbau, gemingnya dalam hati. Lalu ada ikat pinggang dari rantai perak dan pending emas untuk diberikan kepada Adinda. Harta karun itu disimpan bersama surat berkelakuan baik di dalam sebuah tabung bambu. Sedangkan, di sela ikat pinggangnya, terselip keris dengan gagang halus, yang dibungkus dengan kain sutra, dengan sarung berlapis perak. Tabung bambu yang, diikat dengan tali kulit itu disilangkan pada bahu, ia siap berjalan kembali.
Dalam lenggang jalannya, ia rasakan ayunan tabung bambu itu di pinggangnya.
Semakin cepat ia berjalan. Ia tidak peduli dengan keagungan Gunung Muria, ia tidak peduli dengan hamparan kapok yang luas dan jejeran galangan kapal. Ia tidak lagi peduli dengan rumah gedong dengan pavilyun dua lantai yang selalu ia kagum-kagumi kemegahannya. Saidjah hanya peduli dengan mata batinnya terhadap Adinda.
Ia pun tidak bisa mendengar apapun kecuali suara hatinya tentang Adinda.
“Selamat datang, Saidjah! Aku memikirkanmu ketika memintal dan menenun, serta menumbuk padi di dalam lesung yang punya tiga kali duabelas garis buatan tanganku. Di sinilah aku, di bawah Pohon Doro pada hari pertama bulan baru. Selamat datang, Saidjah, aku akan menjadi istrimu.”
Itulah nada yang menggema di telinga lelaki duapuluh tahun itu.
Akhirnya, ia sampai di pohon besar dengan pagar kayu kelilingnya itu. Ia duduk di bawah sepoinya pohon sambil menunggu esok pagi yang datang bersama wajah ayu calon istrinya. Lalu ia rebahkan tubuhnya di tanah, membayangkan masa-masa kecil bersama Adinda dan teman-teman lainnya. Ya, tempat ini adalah tempat dimana mata Saidjah beradu pandang secara berbeda dengan Adinda. Tempat dimana Adinda memberi bunga melati kepadanya.
Saidjah masih rebah dalam rindang Doro dan terang langit malam. Langit yang sedang ramai oleh bintang. Ia perhatikan pergerakan bintang di cakrawala, yang akan tenggelam di barat. Ia menghitung seberapa dekatnya Matahari akan terbit di timur. Dan ketika ia melihat sebuah bintang melesat jatuh, ia membayangkan Adinda yang terlelap dalam mimpinya. Menanti esok pagi tiba.
Akan tetapi, ketika sinar Matahari berhasil menyilaukan mata dari balik ranting, Adinda belum juga datang. Kemana dia? Tertidurkah dia? Tidak! Pasti gadis itu tidak tidur seperti dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa tidur? Segala kekacauan menghantui pikiran Saidjah. Tapi ia tetap menunggu.
Hari berselang kembali, Saidjah masih berada di bawah pohon, masih menunggu Adinda. Sudah kembali terang, tetapi yang ditunggu tidak jua datang. Ia mulau ragu, apakah hitungannya sudah benar atau belum. Ia kembali mengingat dan menghitung kembali garis yang juga dibuatnya pada sebuah batang kayu. Ah, mungkin Adinda yang salah hitung, begitu khayalannya menghibur diri. Dan kembali ia menunggu satu hari lagi.
Saidjah merasa gembira mengenang kembali betapa banyak tempat yang menjadi saksi kehidupannya. Ingatannya kembali pada sawah dimana ia beramai membajak dengan si Tebo yang malang. Ia juga melihat pohon kelapa yang melambai-lambai di pinggir pantai. Pohon kelapa dimana si Unah jatuh dan mati. Betapa ibunya meraung keras dan menggaruk-garuk tanah seperti orang gila karena kehilangan.
Pada hari ketiga, masih tidak tampak seorang pun datang darin jalan yang menghubungkan kampungnya dengan Pohon Doro. Oh! Pasti Adinda tertidur menjelang pagi, setelah lelah terjaga semalaman. Ingin sekali rasanya ia berjalan menuju kampungnya, tetapi itu tandanya ia meragukan kedatangan Adinda. Atau, haruskah ia memanggil lelaki yang yang sedang mengangkut batu untuk bangunan stasiun baru itu? Ah, lelaki itu terlampau jauh. Dan lagipula, Saidjah tidak mau berbicara kepada orang lain mengenai Adinda.
Ia akan menunggu, dan menunggu.
Tapi, kalau seandainya Adinda sakit, atau mati?
Bagaikan rusa yang terluka, Saidjah melesat di sepanjang jalan yang menghubungkan Pohon Doro dengan kampungnya. Ia berjalan tergopoh, sama keadaannya ketika hari dimana Tebo diambil paksa.
Ketergesaannya itu membuat Saidjah tidak menemukan rumah Adinda. Ia sudah berjalan sampai ujung jalan, lalu memutar arah kembali pada muka jalan, dan menyusur kembali. Ia pukul-pukuli kepalanya seperti orang gila. Tetap, ia tidak menemukan rumah Adinda.
“Mabuk, mabuk. Aku mabuk!” teriaknya keras-keras.
Beberapa orang yang mendengar teriakan segera keluar dari rumah, dan melihat Saidjah yang sedang kelimpungan modar-mandir di sepanjang jalan. Segera mereka mengenalinya, dan memahami maksud Saidjah yang mencari rumah Adinda.
Mereka menceritakan kisah keluarga Adinda yang nahas. Setelah perampasan kerbau dan sawah yang terakhir, ibu Adinda meninggal karena sedihnya. Adik perempuan Adinda juga meninggal karena tidak punya seorang pun yang bisa menyusuinya.
Ayah Adinda, yang sudah tidak bisa membayar pajak, kabur dari desa membawa serta Adinda dan seluruh adik laki-lakinya. Ia mencuri perahu nelayan pada malam hari, dan berlayar menuju laut. Soal kemana tujuan keluarga Adinda, warga kampung tidak mengetahuinya.
Mereka yang iba, dengan baik hati menuntun Saidjah berjalan menuju pondokan yang sudah rata dengan tanah. Ia melihat batang-batang bambu yang busuk dan kepingan atap yang jatuh. Ia ratapi setiap debu yang digenggam dalam tangannya. Ia menghela napas dalam-dalam.
Saidjah berjalan menyusuri lahan bekas rumah Adinda. Ia menemukan lesung yang hampir menjadi fosil, lalu Saidjah menghitung, tigapuluhdua garis.
Kemudian, ia memberi sejumlah uang kepada seorang perempuan yang mengantarnya ke bekas rumah Adinda, untuk membeli seekor kerbau. Dia juga akan membeli perahu nelayan, dan akan berlayar menuju laut.
Sementara, secarik kain biru terhembus oleh angin, berusaha menembus luka yang menganga di dadanya.