Saya Bisa, Kamu Bisa, Kita Semua Bisa (hari 17)
Hari ini, kami sekeluarga menginap di rumah nenek dan kakek. Hari ini anak-anak sangat senang karena diberi kebebasan nonton, setelah seminggu tanpa gadget. Yang menjadi tantangan hari ini untuk anakku adalah, membatasi dirinya untuk menonton. Karena, jadwal harian tetap berjalan, jam 4 sudah waktunya mandi dan jam 5 adalah waktunya makan malam. Untuk kedua waktu ini, anakku berhasil memenuhinya tanpa tawar menawar. Tanpa kesulitan aku memintanya untuk mematikan televisi.
Yang tersulit untuk anakku adalah berhenti nonton untuk waktunya tidur. Jam 7 sudah waktunya tidur, tapi acara di televisi masih menarik untuknya.
Seperti biasa, aku meminta anak-anak untuk bersiap tidur jam 6.30, anakku mulai bernegosiasi; masih film, nanti sikat giginya waktu iklan. Pada saat iklan, barulah anak-anak bergerak menuju washtafel. Sikat gigi selesai, anak-anak lanjut nonton lagi di sofa. Sampai akhirnya jam 7 tepat. Aku sudah memanggil mereka untuk tidur. Anakku yg kecil sudah langsung masuk ke kamar. Anakku yang besar, masih merasa sayang untuk meninggalkan film yang tengah ditontonnya.
Mengendalikan diri untuk berhenti dari kesenangannya dan kembali dalam rutinitas, hal ini emang sangat sulit dilakukan. Tapi saya pikir, anakku harus bisa mengendalikannya. Akhirnya setelah kuhampiri, dia mau masuk kamar dan mematikan televisi dengan sedikit terpaksa.
Dikamar, dia mengakui dia masih ingin nonton, tapi sudah waktunya tidur. "Memang sulit berhenti dari yang kita sukai, tapi itu harus bisa kamu kesampingkan, karena kita memiliki kewajiban lain yang lebih penting," ini adalah nasihatku untuk dirinya dan diriku sendiri.
Mambaca kitab suci hari ini, berlangsung seperti biasa. Untuk bacaan hari ini, memang agak sulit. Akupun perlu beberapa kali mengulang membaca dan menterjemahkannya dalam bahasa anak-anak dan mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Catatan hari kemarin (hari ke 16)
ketika bangun pagi hari ini, aku coba tanya apakah dia membaca kitab suci kemarin. Anakku menjawabnya dia baca sendiri dan doa sendiri juga. Dia bilang kemarin dia tau harus doa apa, dia bilang kita harus membantu semua anggota keluarga. Secara umum dia dapat menterjemahkan bacaan yang ia baca kemarin. Kegiatan ini sepertinya akan aku jadikan kebiasaan dan rutinitas malam sebelum tidur.