Habis sudah kami tertelan harapan. Kataku yang dimakan juga oleh waktu.
Berjalan kami di bibir pantai. Ombak menerjang kaki kami yang telanjang. Kata demi kata terucap, mengalir, semilir seperti angin laut.
"Semoga kamu bisa menang penghargaan suatu hari!" katamu yang mengiringi matahari tenggelam.
"Oh, itu yang aku harapkan!"
Pergilah ia mengikuti jejakku. Menemani dua es degam dan satu kripik pisang dalam hening tanpa henti. Oh, orang bilang kami seperti Rama dan Sinta. Lagi-lagi soal cinta.
Jejak kami tertinggal di belakang. Penuh harap ia berbicara. Cinta yang mengering oleh waktu. Disadarkan oleh percakapan tak berujung. Begitu lucu adegan itu hingga menemui titik. Berpikir sejenak, menghabiskan es kelapa muda. Terdiam. Hening. Benarkah rasa itu ada?
Berharap kami berdua. Dalam sorot mata yang redup. Tegang. Harap.
Suatu sore di Pulau Dewata. Entah Yang Maha Esa membawa jejak kami kemana.









