“.... Harry berwajah kurus, lututnya menonjol, rambutnya hitam dan matanya hijau cemerlang. Dia memakai kacamata bulat yang bingkainya dilekat dengan banyak selotip karena seringnya Dudley memukul hidungnya. Satu-satunya yang disukai Harry pada penampilannya adalah bekas luka tipis pada dahinya yang berbentuk sambaran kilat”
“... ‘Baru pertama kali ke Hogwarts ya? Ron juga baru’ dia menunjuk anak laki-lakinya yang terakhir dan termuda. Dia kurus dan jangkung, dengan bintik-bintik di mukanya, kaki-tangan besar, dan hidung panjang”
“.... Anak yang kehilangan katak muncul lagi, tetapi kali ini ia ditemani seorang anak perempuan. Anak perempuan itu sudah memakai jubah Hogwarts-nya... suaranya berwibawa, rambut cokelat lebat dan gigi depannya agak besar-besar”
Lumos!
Saya masih ingat ketika pertama kali Mama saya memperkenalkan sebuah serial yang sangat magis. Saya masih sangat kecil ketika itu. Mama saya, yang ketika itu seorang wanita karir, pulang membawa sebuah VCD bewarna biru. Gambar anak laki-laki dengan luka berbentuk sambaran kilat langsung menjadi pusat mata saya.
“Ini apa?”
“Ini Film yang bagus. Bunda yakin wiwid pasti suka. Kita nonton bareng-bareng ya”
Saya pun mengangguk semangat dan duduk dengan manis di depan TV, sembari memperhatikan Mama yang memutarkan VCD untuk saya. Mata saya langsung fokus begitu rumah produksi yang mengeluarkan film tersebut muncul di layar diiringi dengan musik dan judul film. Saya belum terlalu lancar membaca dan hanya paham sedikit kata dalam bahasa inggris, namun saya bisa menikmati filmnya. Tidak perlu waktu lama, hanya dalam tempo lima menit setelah film di putar, saya dapat merasakan sebuah koneksi antara cerita tersebut dengan diri saya. Agak berlebihan memang, tapi itu juga tidak aneh karena anak kecil cenderung menggunakan perasaan dan visual untuk menyenangi sesuatu dan Harry Potter dapat melakukannya.
Dan hari-hari berikutnya, Film tersebut selalu saya tonton paling tidak dua kali sehari. Apakah saya tidak bosan? Anehnya tidak, saya senang dan sangat menikmatinya walaupun (sekali lagi) tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Apa yang sangat menarik perhatian saya sampai-sampai ditonton berulang kali pun tidak bosan? Tokoh-tokohnya, tongkat sihir, mantra, quidditch, hogwarts express, musik, dan (saya yakin semua orang akan sependapat dengan saya) HOGWARTS! School that everyone can dreamed of! Tanpa saya sadari, saya mulai melakukan imitasi terhadap film itu. Seperti berpura-pura menjadi penyihir, mencoba berbicara dalam bahasa mereka walaupun lebih terdengar seperti bahasa alien, dan yang paling bagus, saya jadi hobi banget memakai seragam sekolah. Hehe...
Saya juga masih ingat ketika membongkar buku-buku koleksi Mama dan menemukan nama saya di setiap buku Harry Potter yang ada. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan betapa senangnya saya ketika itu. Saya selalu menanti-nantikan Film dan bukunya setiap tahun. Bahkan selalu membeli Majalah Bobo Special Edition setiap terbit. Saya selalu merasa kalau saya dan para tokoh di dalamnya ‘are meant to be’.
Semakin saya dewasa, saya menyadari bahwa saya tidak hanya menikmati dunia fantasi ciptaan J.K. Rowling tersebut. Saya banyak belajar dari karakter-karakter fiksi itu. Melalui Prof. Lupin, Prof. McGonagall, dan Prof. Dumbledore, saya semakin menghargai jasa para guru karena mereka adalah orang-orang yang menopang dunia ini. Melalui Molly Weasley, saya jadi menyadari bahwa tidak perlu saling terikat darah untuk menolong dan berbagi kasih sayang dengan orang lain. Melalui Luna dan Gilderoy Lockhart, saya jadi paham mengapa kita harus tetap menjadi diri kita sendiri. Melalui Malfoy, saya jadi berhati-hati dengan kemewahan. Melalui Hermione, saya belajar untuk selalu peduli pada teman dan tidak meninggalkan mereka. Melalui Ron, saya belajar bahwa kita harus dapat melawan ketakutan kita sendiri. Melalui Harry, saya jadi menyadari adakalanya kita harus menghadapi kesulitan sendiri tanpa bantuan orang lain. Melalui Bellatrix, saya belajar bahwa obsesi dapat membuat kita kehilangan akal sehat. Melalui Umbridge, kita tidak seharusnya mencampuradukkan pendidikan dengan kepentingan politik. Melalui Neville, kita tahu bahwa semua orang adalah pahlawan dengan caranya masing-masing. Melalui Prof. Trellawney, kita mungkin tidak dapat mengubah masa lalu kita namun dapat mengubah masa depan kita. Melalui Cedric, kita belajar sebuah loyalitas. Melalui kreacher, kita diajarkan untuk menilai seseorang melalui perlakuannya dengan orang yang berbeda darinya. Melalui Draco, kita jadi menyadari bahwa tidak semua yang dilahirkan jahat akan menjadi jahat. Melalui Snape, kita diajarkan untuk tidak sembarangan menilai orang. Melalui Ginny, saya sadar kalau cinta itu butuh perjuangan (ehh..hehehe)
Dan pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan itu tidak bisa saya dapatkan melalui bangku pendidikan formal. Nah! Salah satu pencapaian terbesar lainnya dari membaca!
Apa yang saya dapatkan itu berguna banget ketika saya memasuki masa-masa sekolah. Berkat serial fiksi tersebut, saya jadi tidak kesulitan dengan yang namanya Bahasa Inggris, mempunyai sahabat-sahabat yang selalu ada sampai sekarang tidak peduli seberapa jauh dan sibuknya kami (It’s already 11 years of friendship!) saya menghargai hubungan baik yang saya jalin dengan orang lain, selalu menghormati guru (well, as a teenager there’s time that I often got annoyed by teachers, but still they’re all the person that teach me everything I need to face the world) and always be careful with my attitude. Harry Potter and all characters have big influence on how I treat people and build relationship with the others. Now, you see why these characters and the series are so important to me. And the fact that I’m growing up with this magical world make me realize that I and all Harry Potter’s characters are really meant to be.
Nox!
xWidyax
p.s : These pictures are not mine. All credit to scholastic














