Tulisan ini adalah ekspresi keprihatinan dan keperhatian saya terhadap generasi anak-anak jaman sekarang. Saya bingung harus mulai darimana dan bagaimana menyampaikan keresahan ini. Adalah menghabiskan banyak waktu di rumah membuat saya melek akan hal ini. Jaman saya kanak dulu sangat berbeda dengan jaman sekarang.
Saya mengambil contoh dari adik-adik saya yang masih duduk di bangku SD. Liburan kenaikan kelas hampir dua bulan, banyak waktu mereka habiskan dengan ‘hanya’ nonton TV, main game, lelah main game di PC, nonton lagi, bosan, buka HP, main game di HP. Subhanallah, bisa dibilang ini adalah awal dari kehidupan tidak sehat, sedentary lifestyle yang bahkan dimulai dari usia dini yang dapat menimbulkan berbagai penyakit ketika dewasa nanti. Belum lagi, makanan favoritnya adalah mie instan serta junkfood sebangsanya, duh dek.
Contoh lain, adik sepupu saya yang masih empat tahun yang hobinya sama android, tiap kali datang ke rumahnya, yang dipegang pasti HP. Nah, beda lagi adik sepupu perempuan saya, headset selalu terpasang di telinganya dengan pandangan tertuju pada layar androidnya, saya ngelirik-ngelirik ternyata sepanjang hari dia mendengarkan boyband korea, yang menurut saya sama sekali tidak ada faedahnya. Pokoknya banyak sekali contohnya, yang buat saya hanya bisa ngelus dada. (kalau saya nih ya, mending banget duit kuotanya buat saya beli buku di gramed)
Jaman memang berubah, tidak bisa ditampik, dan saya tidak boleh membanding-bandingkan jaman saya kanak dengan jaman kanak sekarang, karena memang berbeda. Kalau dulu kami yang angkatan 90an biasa bermain diluar bersama teman-teman sekolah atau tetangga, entah itu bermain jeg-jegan, petak umpet, gobak sodor, kelereng, bekel, lompat tali atau bermain kasti, ya, yang jelas merangsang motorik, yang kadang diselingi berkelahi atau marahan/musuhan sama teman (kok sekarang jarang ya? Gimana mau berkelahi, sibuknya sama gadget- ingat adek saya kalau kalah dalam main game-yang dibanting mouse/stick/keyboard). Padahal, musuhan/berkelahi itu kadang penting sih dalam hubungan pertemanan. Kalau sekarang, bermain diluar memang tidak cukup aman, karena isu penculikan dan gangster-memang mengalihkan asyiknya bermain-main layang-layang menjadi asyiknya bernonton Bernard Bear di rumah. Ini apa boleh buat sih, ditambah jam sekolah sekarang rata-rata sudah full-day.
Tapi, ada yang saya paling sayangkan, yaitu minat baca yang juga kian terkikis sama jaman gadget ini, padahal dari zaman Nabi sudah diperintahkan ‘Bacalah’ yang itu berarti, membaca itu berlaku sepanjang jaman. Saya sedih sewaktu adik perempuan saya protes karena saya melarangnya bermain game di HP saya dan bingung tidak ada kerjaan, sayapun menunjukkan buku serial ba’da isya yang berisi kisah-kisah Nabi yang dibahasakan untuk anak-anak, dan dia menolaknya karena tidak suka. Padahal 12 buku serial itu sudah berkali-kali saya tamatkan seusia dia. In fact, Indonesia memang menempati urutan 60 dari 61 negara dari segi minat bacanya, menurut penelitian yang di publish theguardian.com. sedih gak sih guys? Dan Finlandia menempatkan dirinya pada posisi pertama. Silahkan baca beritanya sendiri.
Masih tentang membaca, (terima kasih buat Aba yang hobi beli buku dari saya kecil, novel-novel islami yang banyak menambah kosakata, sejarah dan pengetahuan-pengetahuan umum buat saya, dan bisa dipastikan hanya saya yang melahap novel-novel tersebut, hehe), bagi kemajuan bangsa amatlah penting, ingat akhir-akhir ini, kenapa banyak berita Hoax yang tersebar di Indonesia, itu karena warganya TIDAK BANYAK MEMBACA. Makanya reading habit (termasuk baca Alquran-kalau ini sangat penting banget tanpa tapi-tapi) ini penting banget dibangun dari kecil, yang sayangnya sering digagalkan oleh banyaknya tontonan tidak bermanfaat di TV dan serangkaian game fantasi. Nah, ini PR besar kita banget sebenarnya, calon-calon orang tua dan calon-calon pendidik. Semoga Allah mampukan kita ya, sebab umat di masa depan ada di tangan kanak-kanak sekarang. Wuih ngerik!
Saya sendiri suka sekali membaca, apa aja, dari yang ringan isinya sampai yang berat maknanya, jokes, quotes, kisah nasruddin in English yang banyak bantu saya belajar bahasa inggris, novel-novel islami juga novel-novel barat (yang kadang vulgar itu #ups), buku agama dari riyadhus sholihin sampai ‘A world without Islam’, buku-buku INSIST seperti Misykat, sampai-sampai karya-karya yang ringan seperti buku Ust. Salim A.Fillah. Saya juga suka nyekrol blog dan tumblr-tumblr orang inspiratif seperti punya Mba Mutia, Mbak Dewi A., Mas Gun dan Mas Edgar H.(baca ini selalu saya sempet-sempetin kalau lagi nunggu-nunggu gitu). Baca koran pun saya masih suka, apalagi di pesawat dan salut sama garuda yang bagiin koran ke penumpang sebelum boarding, juga berita-berita online internasional di theguardian.com, scientificamerican, atau dailyscience.com (jadi tau perkembangan ilmu tuh sekarang kayak apa). Tapi ini teh belum ada apa-apanya kalau mau jadi orang muda berbakat macam Maudy Ayunda, artis cerdas yang suka membaca, atau jadi orang hebat macam pak Hatta yang dipenjarapun beliau habiskan dengan buku. Sekian.