"Nak, mamakiak lah. Bia tau urang baso awak di siko. (Berteriak lah minta tolong. Biar orang tau kalau kita ada di sini.)", ucap si ibu-ibu. Beliau sudah cukup tua. . . "Iyo, Buk. (Baik, bu.)", jawab si pemuda. . . Di sana. Di tengah reruntuhan itu, mereka di sana. Sekitar 15 orang. 14 orang yang sudah berumur. Dan ada 1 orang pemuda. Mereka selamat dari kehancuran gedung megah itu. Gedung megah yang hancur setelah digoncang gempa sebesar 9,2 SR (versi Rusia). Dan di sana. Di tengah-tengah gedung lah mereka. Tak bisa keluar. Hanya sebuah lubang nan jauh di atas sana tempat sinar matahari masuk lah akses mereka bisa keluar. Namun terlalu tinggi. Mulailah si pemuda berteriak. . . "Tolong! Tolong! Tolong!", teriaknya. . . "Terus, Nak. Agar ada bantuan yang datang.", ucap si ibu tua tadi. . . "Siap, bu.", jawabnya. Lanjut berteriak minta tolong. . . Begitu terus entah berapa lamanya. Hingga sang matahari berganti bulan dan berganti matahari lagi. Hingga... . . "Ada orang di bawah? Tunggu! Kami akan ke sana.", ucap suara dari arah lubang di atas. . . "Itu tim SAR!", batin si pemuda. Ia berbalik ke arah 14 orang tua lainnya yang bersamanya. "Pak! Buk! Pertolongan datang.". . . Hening. . . Tiada respon. Tiada jawaban. Tiada tanggapan. . . Entah sejak kapan, dia sudah menjadi sendirian di sana. Di tengah-tengah jenazah......yang masih baru.... . . #G30S #gempasumbar #gempa #bencana #gempa30september . . Ini lah kisah nyata seseorang saat gempa 30 September 2009 yang menghancurkan kota Padang. Masih menyisakan trauma untuk banyak orang. Termasuk aku. Jika bencana saja semengerikan ini, bagaimana kiamat? Astaghfirullah :'( . . Dan entah mengapa dari sekian banyak ingatan yang telah pergi, ingatan akan kejadian ini tak pernah ku lupa. 😭 . . Gambar didapat dari Google. (at Hotel Ambacang)
















