Suara mesin ketik yang suaranya melenggelegaki ruangan dengan berisik itu memecah sunyi malam.
Pulau Buru senyap seperti biasanya. Orang-orang hanyut dalam lelapnya tidur, sesekali ditingkahi tangan yang menepuk nyamuk. Nyamuk-nyamuk berdatangan, dengungannya merangsek telinga, memecah konsentrasi untuk mengistirahatkan tubuh. Ada yang melenguh, bentol-bentol sebesar anggur tercetak jelas di kerak-kerak kulit. Wabah penyakit malaria kala itu sedang ramai, musim penghujan semakin membuatnya riuh. Nyamuk pembawa petaka itu berkembang-biak dengan liar.
Lima orang dokter tak akan cukup untuk menangani sekian ribu pasien. Banyak diantara mereka yang pada akhirnya meregang nyawa, mati dalam keadaan pedih—jauh dari sanak-saudara, tanpa ditahu bahwa salah satu anggota keluarganya telah tiada. Tentu, tentu persoalan itu berlaku bagi mereka-mereka yang diasingkan di Pulau Buru.
Siapa tahu orang tua mereka tewas dibantai—atau istri dan anak-anaknya. Atau semuanya. Tewas ditembaki, dipenggal, digorok. Lantas mayatnya dibuang ke sungai. Sungai kala itu bak tempat kuburan masal, bukan lagi tempat bagi air mengalir. Mayat-mayat penuh, amis darah menyemerbak, tak henti-henti. Mayat bergelimpangan tanpa tangan, kaki. Kepala. Mayat tanpa nama. Hanya satu saja identitas mereka: merupakan bagian atau simpatisan PKI.
Apa itu PKI. Ah, sudahlah, jangan dibahas. Akan ada anak-anak menangis karena ketidak-adilan yang mereka unduh akibat sejarah berdarah itu. Lagi pula tidak ada buku-buku yang membahas pembantaian satu juta jiwa pada tahun 1965 sampai 1966. Sejarah mengerikan yang dikubur rapat-rapat. Tapi anyir busuknya masih terasa. Menusuk hidung. Bau busuk yang menutupi segala fakta dan kebenaran. Tidak tahulah.
Kanugra tidak tahu akan seperti apa negara ini dalam puluhan tahun esoknya. Bahkan ia tak tahu sampai kapan dirinya diasingkan begini. Apakah hal mengerikan ini akan berakhir besok atau tidak sama sekali. Barangkali kehidupan tidak selamanya berjalan. Ia barang tentu sudah mati, entah karena apa. Mati di sebuah pulau kecil sempit jalan untuk melarikan diri.
Ada laut membentang. Ada tentara-tentara bersenjata. Kalau ingin bebas, tinggal pilih saja, mau mati tenggelam atau kepalamu dilubangi bijih besi yang dilepaskan para tentara—bahkan itu bukan lagi masuk klasifikasi mimpi terburuk—karena satu tembakan tepat di jantung bukan perkara mengerikan, itu cukup bagus. Tak perlu merasakan sakit, langsung mati saja. Ke surga atau neraka—atau ke mana lagi sekiranya kalau bukan surga dan neraka? Pokoknya ya begitu.
Tentara-tentara itu bukan semuanya orang baik. Banyak lagi kejamnya. Senang sekali mereka menyiksa dulu sebelum menembak tepat di dada—atau kepala, atau apa saja yang langsung membuat orang tewas seketika. Mula-mula kaki ditembak, lantas si tentara bertanya dengan nada iba.
Oh, sepertinya sakit sekali. Mau ditambah lagi?
Jangan jawab dulu kalau ditanya begitu. Terlebih menggeleng-geleng. Jangan. Nanti ditembak lagi. Lagi. Lagi. Begitu terus sampai kehilangan banyak darah. Matinya pelan-pelan tapi sakitnya bukan main. Mending berenang, kalau tidak sial ketemu hiu, ya ujung-ujungnya tidak jauh juga. Mati tenggelam. Paru-paru dibanjiri air garam. Laut ‘kan, memang kubangan besar isi air garam. Asin. Hidup ini pun asin. Asin-asin pahit. Apalagi kalau dituduh bagian dari PKI. Habis sudah. Kalau bukan mati karena ‘pembersihan’, ya, mati karena malaria.
Malaria… era-era koloni nyamuk sedang berpesta. Mereka penghisap darah. Mumpung banyak stok manusia, lemah-lemah, kotor-kotor. Kapan lagi dicoba.
Seorang teman menepuk pipinya sendiri. Kanugra melirik sebentar. Lantas ia lanjutkan mengetik. Menulis surat di tengah malam memang bikin tenang, tak usah risau dipergoki tentara. Sial memang kalau ketahuan. Pasti suratnya dibakar. Abu yang memusnahkan aksaranya sekaligus.
Kanugra acap kali berkhayal. Surat kemarin yang dibakar tentara itu pada akhirnya sampai ke tangan Zamroni. Tidak dalam bentuk utuh, tapi dalam bentuk lain. Contohnya… apa ya. Oh, ya, ya. Surat itu sampai lewat mimpi. Dalam tidur nyenyaknya (tanpa takut kedinginan dan takut akan ancaman malaria), Zamroni bermimpi mendapat surat dari tukang pos. Siapa tukang posnya, boleh siapa saja. Kenapa harus ribut-ribut memikirkan siapa tukang pos.
Kemudian Zamroni membaca surat itu di depan jendela kamarnya (atau di mana pun yang ia suka, di ruang tamu, misalnya). Isinya sama persis dengan surat yang dibakar si tentara. Memberitahu kalau Kanugra ada di Pulau Buru, sedang mati-matian melawan malaria (dan menahan diri untuk tidak melarikan diri). Diakhiri dengan paragraf terakhir yang mungkin akan membuat Zamroni repot kalau harus dikabulkan.
Aku tahu kau memiliki pangkat yang cukup berpengaruh di Angkatan Darat. Maka dari itu, barangkali kau bisa menyelamatkanku karena jabatanmu itu. Orang-orang yang memiliki pangkat sudah tentu mendapatkan apa yang mereka mau. Itu saja. Aku tahu kau orang baik sebab itulah aku mengirimkan surat ini padamu.
Seorang teman yang menepuk pipinya sendiri itu terbangun. Khadiri namanya. Matanya mengerjap-ngerjap. Lantas ia melontarkan tanya. Tanya yang standar sekali, tak perlu dijawab pun boleh.
Khadiri kemudian mendudukkan diri, menguap lebar, menggeliat. Ada bekas luka di kepala. Katanya dipukuli tentara waktu ia diseret paksa. Kenapa dipukul? Jelas saja, karena ia melawan. Tidak terima buku-buku berharganya dibakar begitu saja. Buku-buku yang ia kumpulkan selama dua puluh tahun ia hidup. Ceritanya menyedihkan sekali. Padahal, katanya, buku-buku sangat berguna buat masa depan bangsa. Banyak catatan sejarah. Banyak sekali. Perjuangannya selama dua puluh tahun mengumpulkan buku satu demi satu harus berakhir dalam satu kobaran api.
Memang kejam mereka itu. Tak mau tahu sulitnya berjuang untuk diri sendiri—terlebih untuk bekal bangsa di masa depan nanti, seperti yang dilakukan temannya itu. Kasihan sekali dia. Akibat pukulan keras di kepala, telinganya jadi tuli. Dia harus menderita seumur hidup. Setelah apa yang coba ia pertahankan namun gagal, dia juga harus membayarnya dengan pendengaran. Kanugra heran. Kenapa orang macam ini tidak memilih mati saja? Apa lagi yang harus diperjuangkan dalam hidup?
Kalau mati ya, selesai sudah semuanya. Kalau saya masih hidup, berarti ada hal yang harus saya lakukan. Entah apa itu. Mungkin menulis. Walau tulisan saya dirampas lagi dari tangan saya, saya sepertinya memang harus menulis terus. Saya percaya saya hidup karena saya harus menulis. Menulis apa, tentu saja, menulis ini. Pengalaman diasingkan di Pulau Buru. Agar semua orang tahu, begini-begini kita juga manusia. Kita juga punya keluarga. Kita juga hidup dan harus mempertanggung-jawabkan kehidupan yang tersisa buat dimanfaatkan.
Begitulah Khadiri menjawab. Sok bijak sekali. Memang seperti itu adanya. Mula-mula dilarang menulis, lalu akhirnya mendapat izin. Seorang jenderal yang menaruh simpati pada dirinya memberikan alat-alat tulis. Lantas dia mendapat mesin ketik tua Royalle 470. Betapa luar biasa bahagia.
Mesin ketik inilah yang sedang dipinjam Kanugra untuk menyurati kawannya yang nun jauh di sana, Zamroni Saifullah. Surat yang diketiknya dengan sepenuh hati. Yang penting menulis surat saja dahululah. Tulis apa saja yang dapat menarik simpati Zamroni.
Teruntuk kawan seperjuangan;
Nah. Begitulah ia selalu awali suratnya. Kawan seperjuangan! Enak didengar, enak dibaca. Lalu surat dilanjut dengan keluhan-keluhan selama di kamp konsentrasi. Tidak bisa kemana-mana. Setiap hari makan singkong—atau apa saja yang dihasilkan alam. Membuat tempat tinggal sendiri dari kayu-kayu yang ada. Pohon terpaksa ditebang. Tidak apa-apa, hanya beberapa saja. Nanti juga ditanami lagi. Jadi taman bunga. Tapi orang yang menanam bunga itu sudah mati kini. Katanya.
Kau tentu bangsa ini sedang bergejolak, kawan. Pemusnahan terjadi di mana-mana. Orang-orang dibantai hanya karena mereka dicurigai sebagai simpatisan PKI. Bagaimana jadinya kalau kecurigaan mereka itu tidak benar? Aduh, sudah berapa banyak dosa yang mereka kumpulka. Banyak sekali seperti gunung. Dasa menggunung! Besar sekali yang harus mereka pertanggung-jawabkan. Mereka siapa, tentu, mereka yang menembak, memenggal, menggorok manusia-manusia lantas membuangnya ke sungai. Tentu.
Lalu sungai meluap oleh tumpukan-tumpukam mayat. Bau busuk tersebar ke mana-mana. Belatung-belatung menggeliat di setiap tempat. Mengerikan sekali. Itu juga yang sedang aku rasakan di Pulau Buru. Pokoknya mengerikan sekali. Sudah lima temanku tewas ditembaki karena melawan, sisanya terkena dampak penyakit malaria. Aku jadi bertanya-tanya, akan bagaimana aku saat mati nanti. Tapi kuharap aku tidak mati di sini. Aku mau mati di luar saja. Bersamamu kalau bisa.
Oh, ya, tentu saja, dia lupa kalau temannya itu agak tuli. Maka, ia mengulang jawaban yang sama. Kali ini lebih keras. Kanugra lanjut mengetik.
Sudah sampai mana tadi…? Hmm.
Kau pasti masih ingat perjuangan kita saat muda dulu. Bukankah menyenangkan memperjuangkan sesuatu bersama-sama. Kebebasan bangsa. Aku butuh itu. Kita semua butuh. Hidup terkekang sama sekali tidak ada enaknya. Apalagi yang mengekang adalah bangsamu sendiri—seperti apa yang terjadi padaku dan pada mereka semua yang ada di Pulau Buru.
Pernah terlintas di kepalaku, kenapa aku tak mati saja. Namun aku tidak bisa mati sia-sia. Untuk apa selama ini aku berjuang kalau aku harus mati pada akhirnya. Aku tidak bisa. Lagi pula aku belum menikah. Aku belum punya anak—anak yang kelak aku ceritakan mengenai kisah pilu tahun-tahun mengerikan ini. Dia harus tahu, tentu. Dia juga harus diberi peringatan untuk tidak sekali-kali menentang pemerintahan. Turuti saja. Baik atau buruk. Daripada haru mati sia-sia.
Bukan hanya itu saja motivasiku untuk terus hidup. Lebih utama ialah karena aku belum bertemu denganmu. Aku ingin bertemu, sudah lama sekali. Aku jadi bertanya-tanya apakah kau masih senang merokok. Aku rindu melihatmu merokok.
Lagi-lagi, pertanyaan itu. Kanugra menjawabnya tiga kali. Tapi tampaknya Khadiri masih belum puas.
“Maksud saya, siapa yang mau dititipi surat oleh orang-orang seperti kita?”
Boleh siapa saja. Itu urusan nanti, yang penting menulis surat dulu.
“Saya tahu kamu menulis surat buat dirimu sendiri. menghibur diri sendiri itu memang baik. Tapi apa artinya kalau sia-sia. Ujung-ujungnya kamu mengeluh juga, ujung-ujungnya menderita juga.”
Kanugra berhenti mengetik.
“Nah, sekarang baru sadar.”
p.s.: Khadiri adalah sosok Pramudya Ananta Toer, yang pernah diasingkan ke Pulau Buru. Sedikit banyak tulisan ini terinspirasi dari kisah hidup beliau selama pengasingannya di Pulau Buru.