Jalan-jalan ke Glodok, Jakarta Barat. Salah satu tempat yang lumayan rame dikunjungi. Sampe 2x ke sini karena ngajak temen. Merasakan vibes ‘Little China-nya” dan sedikit mengulik sejarahnya (karena di sini bangunan-bangunannya lumayan berumur). Petak Enam ini letaknya di Gedung Chandra, karena pandemi beberapa toko terlihat tutup. Tapi, di hari Sabtu-Minggu lumayan banyak yang berkunjung ke sini.
Di bawah didominasi makanan-makanan, selain dijual di toko juga ada stand-stand makanan-minuman. Kalau di atas kebanyakan jual minuman kayak kopi. Tapi bagi yang muslim, hati-hati ya pilih makanannya..
Akhirnya nemu cempedak aka tiwadak di Jakarta. satunya 20rb (ukuran besar terus dipotong-potong- yang sedikit membedakan adalah dapat gula merah, jadi gula merah cairnya disiram ke-gorengannya. Ini letaknya samping tangga Petak Enam ya..
Ini di dalam pertokoan disamping-sampingnya Petak Enam.
Berasa di Malioboro, wkwkwk.
Penasaran sama gang-gang sekitar Petak Enam, jadi kita ngide keliling-keliling jalan kaki. Di belakang toko bunga ini, ada Wihara (rumah ibadah umat Buddha)
Susah banget nyari ni gedung, namanya Gedung Chandra Naya. Ternyata gedungnya ‘ngumpet’ diantara hotel dan apartemen. Gedung ini dulunya rumah seorang Mayor keturunan China, tapi gak bisa masuk ke dalam rumahnya.
Ada kolam dan ikan-ikannya. Lumayan luas dan ada Pak Satpam yang jaga. Ada semacam foodcourt juga diantara gedung ini.
Makan bakso depan petak enam, mayan rame yang beli. enak (karena kalau ditanya rasa ya jawabanku : kurang enak, enak, enak banget). Tapi yang bikin heboh adalah tetiba sampingan sama ibu yang punya fotokopi di ponbet (Fotokopi Arrayan), dan ibunya bilang familiar ama wajahku. Kayak hah demi-apa, ibu masih ingat saya :” (terharu..) katanya : “saya kayak pernah liat mba, kayak familiar” padahal Tamima yang nyapa ibunya karna aku gak ngeh. Jadinya kita cerita-cerita deh keadaan ponbet sekarang dan sedikit nostalgia jaman di kampus dulu.
Depan Gedung Chandra ada Plaza “Pancoran”. Seneng liat ada beberapa tangkai bunga matahari yang mekar, masih heboh sih kalau liat bunga matahari wkwk makanya langsung aja selfie nih..
Habis dari Petak Enam, kita ke Kedai Teh yang saat itu lumayan viral di Tiktok dan Instagram. Sebagai penyuka teh, penasaran juga jadi tanpa pikir panjang kita langsung cus ke sini. Lumayan deket dari Petak Enam, gak nyampe sekilo kayaknya.
Ada 2 lantai, masih dengan suasana khas Chinese.
Kita milih duduk di lantai 2. Untuk harga, menurutku lumayan pricey (seingatku, teh yang paling murah itu 150rb). Disarankan ke sini bareng temen, kalau sendiri kurang pas aja hehe. Oya tehnya dihidangkan langsung sama mba-mbanya. Kita juga dijelasin tentang tata cara penyajian dan minum teh ala China. Filosofi-filosofinya dan manfaat minum teh (maaap bagian penjelasan ini lupa wkwk). Cuman ingat, kalau minum teh nya itu pakai gelas kecil dan pakai dua tangan (tangan kiri pegang piring kecil, tangan kanan pegang gelasnya). Dan minum tehnya gak pakai gula yaa
Itu di bawah tekonya ada api buat manasin air putihnya. Pakai teh bubuk, dan gabisa nambah teh ya tapi cukup untuk beberapa kali seduh.
Ini interiornya, gimana bener-bener ala Chinese kan ya. Glodok memang Little China-nya Jakarta.