#glodok #dki #dkijakarta #dki_jakarta #jakarta #westjakarta #west_jakarta #jakartabarat #jakarta_barat #streetart #street_art #tamansari #taman_sari (at Glodok, Jakarta Barat) https://www.instagram.com/p/Cfov5t_Pqxz/?igshid=NGJjMDIxMWI=
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from France
seen from Philippines
seen from China
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Spain

seen from Singapore

seen from United States
#glodok #dki #dkijakarta #dki_jakarta #jakarta #westjakarta #west_jakarta #jakartabarat #jakarta_barat #streetart #street_art #tamansari #taman_sari (at Glodok, Jakarta Barat) https://www.instagram.com/p/Cfov5t_Pqxz/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Rekam Jejak Perjalanan #1
Pagi ini aku duduk menatap lalu lalang manusia di sekitar stasiun. Aku sempat merasakan grogi manakala sesaat aku ingat aku disini sendiri. Ah, padahal di kota sendiri. Aku duduk bertopang dagu sesaat setelah beberapa kali ke kamar kecil. Gadis di sebelahku bertanya, barusan yang dimaksud kereta kemana, tapi sayang aku sendiri tak begitu jelas mendengarnya.
Barisan gerbong datang disertai riuh suara manusia bersiap-siap mengudara. Aku terpental mengikuti langkah gadis itu. Gadis itu duduk di kursi belakang sedangkan aku mencari dimana temanku yang naik dari kecamatan sebelah. Selang beberapa detik, langkahku terhenti. Ada tangan menarik lengan jaketku.
Dia bercerita tentang kegiatannya kemarin hari. Menceritakan kisahnya menjenguk kawan yang sedang berproses pada KKN. Ah, aku sungguh ingin tapi apalah daya. Tak ada kendaraan untuk kesana. Selang beberapa menit seorang temanku lain datang. Kami bertiga lebih suka menyebut diri dengan musafiroh desa. Pergi untuk mengais ridho-Nya juga mencari jejak pahlawan di Kota Surabaya.
Surabaya di sore hari. Untuk kali pertama aku menginjakkan kaki disana tanpa rombongan banyak. Begitulah, aku selalu datang kesana beserta rombongan. Entah dari sekolah maupun jamiyah ngaji. Kami menikmati santapan bekal yang dibawa dari rumah. Sederhana saja, hanya nasi dan mi goreng. Setelah sesaat mengendorkan otot-otot juga beribadah, kami berniat melanjutkan perjalanan ke kawasan makam sunan ampel. Namun sayang, hujan turun begitu lebat. Aku mencoba membuka ponsel. Kulihat satu pesan dari bapak menanyakan jam pulang esok hari. Salah seorang teman membuka tiketnya, seraya bertanya padaku jam berapa sampai stasiun. Kulihat tiketku, dan aku terenyak menatapnya. Bagaimana mungkin jam kepulanganku berbeda dengan dua temanku itu?
Kepanikan mulai melanda kami. Bahkan untuk tersenyum pun sulit sekali. Kedua temanku mencari informasi jam pelayanan loket, sedangkan aku duduk dan meratap mendengarkan rintikan hujan yang mulai menepi. Sempat aku berniat untuk menghubungi sepupuku yang tengah bekerja di Gresik, tapi kuurungkan. Takut mengganggu. Akhirnya, ketika hujan benar-benar berhenti kami bertiga beranjak dari Masjid di dekat stasiun. Kami lebih memilih berjalan kaki, menyusuri jengkal kota yang bangunannya banyak yang kumuh tak terawat. Jalanan bekas hujan menyipratkan air ketika mobil dan motor berlalu lalang. Kucincingkan rok dan berjalan berhati-hati, sebab kucium bau kotoran ayam ketika hendak mendekati area makam.
Area makam tidak sebegitu ramai. Mungkin ini karena hujan baru reda. Kami mendekati makam dan mengambil buku yasin masing-masing. Yasin, tahlil, dan doa-doa kami panjatkan. Suasana mulai ramai kembali, dan kami bergegas meninggalkan makam. Ketika kulewati sebuah pintu, aku melihat beberapa orang tengah berdoa disana. Aku mencoba melihat, ternyata disana mereka bertawasul kepada Alm. Mbah Bolong. Orang yang menciptakan lubang di masjid, yang katanya dahulu ketika melongokkan kepala keluar akan melihat Baitullah.
Kami bergegas mencari penginapan di kawasan makam. Malam yang dingin ditemani nyamuk yang besar menggiring kami menuju sebuah tempat tepat di sebelah timur masjid. Disanalah kami mengistirahatkan diri semalam untuk melanjutkan aktivitas esok dengan ceria kembali. Ah, aku sampai lupa bagaimana nasib tiketku. Dalam hati berkata, 'Santai wes'.
Taman Sari Water Castle, one of the must-visit places in Yogyakarta.
My sometimes enemy, but I love you 💓🤗
[Tentang Air] Ketika kami sedang berada di Pemandian Putri Raja-raja, saya saat itu berusaha mengambil foto air. "Kak, susah banget ya foto air. Gimana tekniknya coba. >.<" tanyaku pada sang kakak. Entah tak begitu fokus dengan apa yg ia jawab kemudian, saya teringat kejadian saat menunggu in-depth di Dept Tekim. . . Saat menunggu in-depth interview dengan seorang profesor pekan lalu, mataku tertuju pada sebuah buku di atas meja. Judulnya Mata Air Biru. Saat kulihat nama-nama penulisnya wah ada teman satu angkatan. 'Keren juga beliau' ekspresiku dalam hati. Sebuah buku berisi pengalaman perjuangan mahasiswa-mahasiswa yang memperoleh beasiswa tersebut. Sampailah pada sebuah part yang dibagian depannya bertulis, "Jadilah mata air yang jernih yang memberikan kehidupan bagi sekitarnya." ~BJ. Habibie . . Simple pesannya tapi dalam maknanya. Air sebagai sumber kehidupan, memberi kebermanfaatan bagi yg menggunakannya dengan baik. Juga memberi kesejukan dikala gersang. Ha... rindu masa-masa punya mimpi banyak untuk bermanfaat (re: mahasiswa). Kini kuputar kembali lagi mimpi-mimpi itu dan kucoba rangkai lagi. Sudahkah menjadi mata air? atau Menuju menjadi mata air? Jernih kah? Masihkah mimpimu tetap bermanfaat untuk menjadi sebaik-baiknya manusia? . . Entah... :"" @30haribercerita #day23 #230117 #memori220117 #selfreminder #monolog #catatanperjalanan #tentangair #pemandianratu #tamansari #visitjogja #explorejogja #3dayexploring #jogjakarta #hikma #writing #nature (at Pemandian Taman sari jogja)
Taman Sari Water Palace, an iconic location in
Taman Sari Water Castle, a beautiful place with an amazing architecture in
Enjoy the beauty of Taman Sari Water Palace,