Llong Comic - Golau (Light)
seen from Russia
seen from China
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from Australia
seen from Malaysia

seen from Australia

seen from France

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Ireland
seen from China
seen from China
seen from Malaysia
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Russia
seen from United States
Llong Comic - Golau (Light)
#Welsh Word of the Day: Golau/ #Light
Golongan Putih atau Hitam
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Asma Nadia Menjelang pemilu mulai banyak yang menyebarkan ide untuk menjadi golput atau secara terbuka menyatakan diri akan golput. Golput atau golongan putih dikenal sebagai sebutan untuk warga negara yang sengaja menolak memilih dalam pemilu, sekalipun mempunyai hak pilih. Ada yang menggelitik saya ketika mendengar lagi kata golput terutama mengacu pada singkatannya. Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me - milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam? Bukankah putih sering dianggap sebagai kebalikan hitam? Bukankah putih selalu identik dengan kesucian, kebaikan, dan kebenaran? Lalu mengapa yang tidak memilih malah dianggap kelompok putih? Kalau mau tetap menggunakan warna, menurut saya, putih bukan warna yang tepat. Saya pribadi selalu berusaha untuk memilih dalam pemilihan umum yang merupakan bentuk partisipasi minimal bagi warga negara dalam perubahan negeri. Jika setiap pemilih disebut sebagai golongan hitam, saya keberatan. Kadang terpikir, mengapa tidak kita sebut saja mereka yang tidak memilih dengan golongan hitam? Beri singkatan baru, golhit atau goltam. Tapi kalau kategori warna tidak cocok, ada beberapa usulan. Pertama golmal atau golas kepen- dekan dari golongan malas karena orang yang memilih untuk tidak memilih dalam pemilu sebenarnya malas. Bukan malas datang ke tempat pemilihan umum (TPU), tapi malas untuk melu- angkan waktu mencari tahu siapa di antara semua kandidat yang ada yang bisa benar-benar atau lebih baik dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Mereka mengambil langkah mudah menyamaratakan semua kandidat tak layak. Saya percaya masih ada politisi yang baik, yang masuk ke politik untuk berjuang bukan memperkaya diri dan ego. Untuk mengetahui mana yang baik mana yang busuk, kita harus mencari tahu, pelajari, bukannya malas mencari tahu dan memilih abstain. Atau bisa juga mereka kita sebut golpra alias golongan prasangka. Sengaja tidak memilih sebab beranggapan atau memukul rata semua poli- tisi adalah busuk. Prasangka atau sikap menghakimi yang dikombinasikan dengan malas tentu saja merupakan komposisi yang buruk. Bagaimana dengan sebutan golau? Golongan galau. Mereka tidak suka politisi dan perkembangan politik, tetapi memutuskan tidak memiliki andil untuk memperbaikinya. Hanya bisa sumpah serapah, mengeluh resah, tapi tidak bersedia terlibat bahkan sekadar memilih. Saya bukan tidak menyadari, situasi politik saat ini yang semrawut dan penuh kebusukan.Namun, selamanya tidak akan terjadi perubahan ke arah kebaikan jika kita memutuskan tidak melakukan apa-apa. Bangsa ini perlu solusi untuk memperbaikinya dan solusinya tentu saja bukan berlari atau menghilang seperti pengecut. Salah satu solusinya, orang baik harus masuk politik. Kalaupun tidak mau, maka orang baik harus memilih orang baik lain yang mau berkorban masuk ke dalam politik. Yang membuat saya terusik adalah se bagian besar mereka yang dengan ke sadaran memutuskan tidak memilih justru para intelektual, orang cerdas yang berpendirian dan berpihak pada kebenaran serta pro perubahan. Apa jadinya jika warga negara berkualitas memilih tidak berperan dalam pemilu? Indonesia tercinta justru akan kehilangan ba nyak suara orang yang peduli dan berilmu. Me re ka yang peduli harus bersatu hingga suara pro kebaikan lebih banyak, mengalahkan suara mereka yang plin plan, pemilih baru yang lugu, atau pemilih yang asal-asalan serta yang bisa di bayar. Jika tidak, pemilu hanya menghasilkan kandidat abal-abal: tidak berkualitas, sibuk memperkaya diri, dan ujung-ujungnya tersangkut korupsi atau pasif dan keberadaannya tidak memberikan angin positif bagi negeri.
sumber: http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/14/02/01/n0bhiy-golongan-putih-atau-hitam
----------------------------------------------------------
Hohoho, kurang sebulan lebih sedikit nih Pemilu 4 April 2014.
Nah,tulisan mbak asma nadia di atas bener-bener ajak kita tuk segera bergerak.
Bukan hanya mondar-mandir ke kampus lalu kost aja, atau bukan pula telunjuk yang mencetin TV buat ganti channel, atau bukan hanya jari tangan buat ketik di sosmed. Tapi substansinya nih, sekarang mulai bergerak cari tahu mana calon yang bener mana yang abal-abal.
Jangan pernah menjudge bahwa semuanya calon sama busuknya, coba deh dilihat dan dicari informasinya. Masak dari sekian ribu caleg, buat milih TIGA aja susah...hehe, kan kita cuma milih 1 buat dprd kota, 1 buat dprd provinsi dan 1 buat dpr RI. Bener kan? Plus satu lagi , jangan lupa DPD RI.
Nah, kawan yang cerdas, pilihannya juga yang cerdas. Bangsa Indonesia sudah saatnya sejahtera. ^_^ Pilih pemimpin yang kompeten.
Printing these today with lots of nice colours. Come to the exhibition! http://golauglau.wordpress.com http://idiotspasture.co.uk