Tenang, saya tidak akan mengkampanyekan salah satu calon. Saya hanya ingin membagikan pendapat tentang mengapa Anda tidak boleh golput, terutama pada pemilu kali ini.
(Salah satu karya di Fest Mural Competition, Magelang, Nov 2023)
Saya tahu ada begitu banyak orang yang apatis jika sudah bicara tentang politik. Saya pun sama. Seumur hidup, saya tak pernah suka dengan politik Indonesia. Tak perlu saya jelaskan alasannya, Anda pasti sudah paham. Semua orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, keadilan, dan moral, pasti geram melihat kondisi negara ini.
Walau begitu, tidak suka ≠ tidak tahu.
Saya tetap (memaksa diri) membaca berita politik dan sebisa mungkin mengikuti kiprah manusia-manusia yang (sebagian besar) menjengkelkan tersebut. Bukan karena ingin, melainkan saya tidak mau dibohongi. Saya tidak suka dikelabui dan dicurangi terus.
Anda mungkin berargumen, percuma kita mencoblos. Siapapun presidennya, hidup tetap begini-begini saja, kebijakan tetap tidak pro rakyat, masalah tetap tidak selesai. Saya tahu kita semua mungkin sudah berada di tahap putus asa. Semua orang mengecewakan, semua orang tidak bisa diharapkan. Buat apa sih mencoblos?
Saya akan gunakan analogi sederhana.
Bayangkan Anda punya tiga calon pacar. Setelah sering mengobrol, Anda ternyata tidak sreg dengan tiga-tiganya. Semuanya ga bagus! Si X kurang perhatian, Si Y kurang baik, Si Z enggak cocok juga.. Enggak jadi aja deh! Dalam kasus ini, Anda menang. Dengan tidak memilih, Anda bisa keluar dan mencari ulang pacar yang sesuai dengan kriteria.
Sayangnya, pemimpin negara kita bukanlah pacar.
Bayangkan ketika Anda tidak mau memilih; tiba-tiba keluarga, teman, dan tetangga voting lalu sosok X langsung sah jadi suami/istri Anda. Wuuaa, gimana perasaan Anda? Yakin tidak menyesal ketika Anda - sosok yang punya kepentingan - tidak ikut sumbang suara dalam keputusan ini?
Saya tahu analogi ini sangat menyederhanakan dan tidak menggambarkan kondisi pemilu secara menyeluruh. Tetapi penekanan saya adalah, suka tidak suka - mau tidak mau - akan ada presiden yang terpilih untuk memimpin Indonesia. Saya tahu semua calon memiliki kekurangan dan Anda tidak merasa cukup yakin dengan salah satu, tapi ini bukan perihal memilih yang sempurna. Situasi sekarang lebih cocok digambarkan sebagai memilih yang terbaik di antara yang tersedia.
Sepanjang hidup, saya paling tidak suka bicara tentang topik yang sensitif seperti SARA dan politik. Namun, kali ini saya merasa perlu mencoba mengetuk hati kalian yang golput. Mengapa? Karena kali ini saya merasa nasib kita sedang di ujung tanduk.
Saya mohon, bukalah hati dan pikiran kalian. Coba kalian lihat track record, persona, dan kinerja masing-masing calon. Lihatlah segala macam keburukan dan kebaikan yang pernah mereka lakukan. Pertimbangkan semua hal-hal tersebut dari ketiga calon. Lalu, tanyalah pada diri sendiri, maukah Anda punya pemimpin seperti itu? Siapkah Anda diwakili oleh presiden seperti itu? Jangan termakan gimmick atau cara kampanye tertentu. Mereka ini nantinya akan jadi presiden, bukan standup comedian atau aktor, jangan pilih yang menghibur tapi yang mementingkan masyarakat luas.
Anda boleh bilang, 'Semua calon jelek!', atau 'Saya tidak mau dikecewakan lagi!', tapi di antara tiga calon, pasti ada yang menurut Anda paling buruk atau paling mending? Tolong gunakan logika Anda atau tanya pada orang yang Anda anggap lebih tahu. Boleh juga baca media independen yang menganalisis setiap calon (jangan baca media atau tokoh publik yang disponsori oleh partai politik). Ingat, kalaupun Anda tidak memilih, akan ada orang yang terpilih.
Nanti pasti akan ada banyak orang yang mengolok-olok, 'Tuh lihat pilihanmu, ternyata ga bener kan kerjanya? Dibilang juga apa!'
Memang melempar tanggung jawab itu enak. Karena tidak ikut memilih, kaum golput merasa sudah cuci tangan dari masalah ini. Kalau negara kacau, bukan salah mereka. Kalau negara maju, mereka ikut menikmati hasilnya. Gampang, ya?
Saya menduga para golput sebetulnya takut. Tidak mau mengambil risiko, tidak mau disalahkan kalau ternyata pilihannya salah. Tetapi hidup juga seperti itu, selalu penuh pilihan sulit. Kalau Anda tidak pernah berani mengambil pilihan, seumur hidup Anda tak akan dewasa. Dalam hidup di sistem demokrasi, menggunakan hak pilih adalah bukti kedewasaan (karena itu hak pilih hanya diberikan pada mereka yang berusia di atas 17 tahun).
Kalau sampai di titik ini Anda masih takut untuk memilih, coba lihat diri sendiri. Ketika dulu Anda merasa tak yakin dalam memilih mau kuliah atau menggeluti profesi apa, solusinya adalah bertanya dan memperkaya diri dengan pengetahuan. Cari tahu sebanyak mungkin sampai merasa mantap ketika mengambil pilihan. Tidak mungkin Anda memilih tidak kuliah atau tidak bekerja, kan? (Kalaupun ya, menyesal atau tidak sekarang?).
Saya tahu pilihan ini berat. Saya tahu kita juga bisa merasa salah pilih ketika sudah percaya pada satu orang tapi kemudian dikecewakan. Namun, itu semua masih jauh lebih baik daripada golput. Dengan tidak memilih, surat suara kita mungkin disalahgunakan. Suara kita yang punya hati nurani dan kemampuan berpikir kritis juga mungkin akan dikalahkan oleh para pencoblos bayaran. Saya tidak rela kalau kita yang punya pemikiran mendalam dan hati bersih dikalahkan oleh kroni-kroni partai politik yang bermain kotor.
Semoga kita yang punya hati dan harapan baik untuk Indonesia mau meluangkan waktu di 14 Februari 2024. Gunakan suaramu, pilih dengan bijak.