Jawaban di Balik Payung Rahasia
Goodbye Fairy - Yonezawa Honobu Sebuah ulasan oleh Ghina Hasna Afifa (@oghinaa) Senin, 02 Agustus 2021
—“Manusia, siapa pun dia, memiliki hak untuk bermimpi.” (halaman 219)
Hidup yang dijalani Moriya Michiyuki biasa-biasa saja hingga dia tak sengaja bertemu Maya, seorang gadis asing dari suku bangsa lain yang menyebut dirinya berasal dari suatu negeri nun jauh bernama Yugoslavia. Sejak kebetulan—takdir—yang mempertemukan mereka inilah hidup seorang Moriya berubah menjadi dipenuhi teka-teki yang didasari kalimat andalan Maya, “Apa ada makna filosofisnya?”. Pada akhirnya, semua hal yang dipertanyakan Maya berujung pada satu misteri saat dirinya memutuskan kembali ke negeri asal dan menghilang tanpa kabar setelahnya. Apa sebenarnya kebenaran dibalik kepulangannya itu?
Tahukah kalian kalau buku ini sejatinya adalah bagian dari seri Hyouka dari penulis yang sama? Naskah Goodbye Fairy ini diwacanakan untuk menjadi novel ketiga seri Hyouka yang pada akhirnya digubah ulang menjadi kisahnya tersendiri. Fakta tersebut kurang lebih bisa menggambarkan nuansa buku ini yang dinamikanya Oreki-Chitanda banget. Kalau kalian sudah pernah membaca seri buku atau menonton serial animasinya, pasti merasa familiar dengan suasana di dalam buku ini. Dibandingkan dengan Hyouka, buku ini tentu terkesan lebih padat dan intens dari segi permasalahan.
Berlatar tempat di Jepang, menurutku buku ini bisa dikategorikan ke dalam genre fiksi sejarah karena diceritakan pada era pecahnya Yugoslavia—negara perserikatan yang terdiri dari enam negara—pada tahun 1992 dan sedikit banyak menyinggung tentang konflik tersebut.
Walau tampak berat dan sulit diselami, cerita ini justru dibawakan secara ringan dengan banyak percakapan sehari-hari. Satu hal yang perlu disoroti dari kisah ini adalah bagaimana sang penulis mampu memboyong konflik Yugoslavia kala itu sebagai titik berat ceritanya dan menyelipkannya secara halus ke dalam kehidupan standar seorang murid SMA. Selain itu, kita juga banyak diajak menelusuri arti filosofis hal-hal kecil dalam budaya dan masyarakat Jepang.
Dilihat dari terjemahannya, kalimat-kalimatnya cukup mudah dicerna. Ada bagian-bagian saat Maya yang dijelaskan kemampuan berbahasa jepangnya berlum terlalu fasih, menggunakan kata-kata yang terdengar kaku bagi penutur aslinya, dan bagian ini dapat tersampaikan dengan baik secara makna maupun suasana. Ada juga sebagian kecil celetukan atau candaan yang seharusnya lucu tapi malah terasa hambar.
Bagi kamu para penggemar seri Hyouka ataupun para penyuka literatur Jepang, Goodbye Fairy ini bisa menjadi satu bacaan yang membuatmu hanyut dalam rasa penasaran seiring dengan misteri-misteri yang Moriya dan Maya serta tiga teman lainnya hadapi sepanjang 358 halaman buku ini.
















