Catatan Perjalanan Pendekar Ngirit ke Negeri di Atas Awan
Oleh: Putri Diana
Ketika membaca kata bertuliskan Negeri di Atas Awan apa yang terlintas dalam pikiran kalian?… Awan… Ketinggian.. Penduduk.. Pemandangan yang indah… dingin… sejuk?.. aahhhh… Sebuah negeri di atas awan pasti mengundang banyak orang penasaran untuk pergi mengunjunginya…
Rasanya ingin sekali merebahkan diri di atas tumpukan kapas?gulali…? hehe… Tidak-tidak itu adalah kumpulan titik air yang mengalami kondensasi.. berkumpul menjadi suatu bentuk padat yang kita sebut AWAN… terlihat seperti hamparan kasur putih yang bisa kita naiki… bahkan seakan ingin berlari di atasnya… Seandainya bisa seperti itu… sayangnya semua keindahan itu hanya untuk kita nikmati… golden sunrise pertanda kebesaranNya untuk kita agar tidak lupa bersyukur… Oke sebelum bercerita mengenai negeri di atas awan… kita mulai dari permulaan kisah ini terjadi…
Sekelompok prajurit dari daerah BeJak (Bekasi dan Jakarta) prajurit yang sedang merasakan kebosanan atas pekerjaan yang dilakukannya sehari-hari… penat akan hal-hal yang terjadi di sekitarnya… dalam hati ingin sekali mereka mulai menjelajah… melihat indahnya negeri di luar sana… mencari cari apa yang harus mereka lakukan… Tujuan yang sama… ingin merehatkan pikiran sejenak sebelum kembali ke rutinitas… mengumpulkan pendekar tersebut dalam suatu kelompok… Halan hantik… biar ala-ala anak gaul gituh…
Sekitar 4 bulan sebelum perjalanan … kelompok itu terbentuk… mulai berkenalan satu sama lain… beberapa orang mungkin sudah saling kenal sebelumnya… tetapi beberapa orang lainnya belum berkenalan ‘secara resmi’ . Banyak sudah percakapan untuk membaurkan suasana.. hingga akhirnya berburu dengan waktu… berburu kendaraan yang akan mengantar mereka lebih dekat ke Negeri di Atas Awan… berburu dengan banyak orang agar mendapat bagian dan tidak tertinggal.. Ya… 2 bulan sebelum hari H keberangkatan mereka mengantongi tiket perjalanan… dengan menggunakan kereta bertenaga listrik… andai ada pintu doraemon, mungkin akan digunakan.
Berkumpul dari berbagai tingkatan… dipilihlah perjalanan yang ekonomis… karena kita semua pendekar ngirit… yang akan bertemu dengan kawannya Traveler Ngirit di dekat negeri tujuan. Perjalanan ekonomis sekitar 11 jam mengantarkan kita pada perjalanan panjang… memberi jeda waktu pada kita agar semakin mengenal satu sama lainnya… dari yang bersemangat…. Ngobroll ini itu hingga akhirnya lelah dan tertidur… ketika bangun? Ternyataa belum sampai :’)… bangku dengan sedikit busa menemani perjalanan kita kala itu… dengan posisi lutut bertemu lutut…. dan ditemani angin semilir yang kadang terasa.. kadang tidak.. hingga mentari pun mulai menampakkan dirinya… kami pun berburu untuk mendokumentasikannya… tak lupa mendokumentasikan diri kami.
Karena Foto / video adalah cara terbaik untuk merekam memori… menyimpan memori untuk mengingatkan kita, ketika semua hal itu sudah terlewat… bahkan sekedar untuk menertawai diri sendiri ketika mengingatnya…
Waktu pun menujukkan pukul 8 kala itu 6 pendekar dari BeJak tiba di kotane Rika… dimana tata bahasa mulai berubah menjadi ngapak.. hehe.. Oh iya lupa belum di sebutin siapa aja personel pendekar BeJak
1. Bunda yang memancarkan cahaya surge ‘Jannah’ … ia mommy nya kita semua… tegas… cerewet :p… perhatian dan penuh kasih sayang
2. Hilda Silfia a.k.a idoot… seorang wanita yang sedang terus memperbaiki dirinya… untuk berhijrah.. wanita strong.. sekuat macan.. pesan.. jangan kasih kasih php.. maunya yg jelas jelas ajaa..
3. Vina Noviyanti… a.k.a tata na… panggilan kesayangannya… adik paling kecil , yg polos… ceplas ceplos.. dan banyak tingkahnya yg selalu bikin kita tertawa… jangan di boongin … nanti dia gampang percaya.. belajar biar ‘peka’ ya adee…
4. aku… Putri Diana… a.k.a Pidi… yg punya panggilan Uti seorang wanita keras kepala.. galak sebenarnya.. pendiem.. boong deng cerewet kalo sudah mengenal ku lebih dalam .. baik dan mandiri… saking baiknya hingga ia meninggalkanku memilih yang lain… kata orang gitu.. lagi belajar lebih baik dan semoga istiqomah..
5. Adam Komara… baby hui nya kita… bayi besar.. dede adam baik… tapi gampang baperan… hehe.. kalo ga ada dia ga rame.. terimakasih sudah bantu ngumpulin kita kita.. kadang kadang gitu sih suka jalan sendiri… mana teledoran.. segera butuh di dampingi kayanya.. takut licin.. iyalah wong sendale wis aus..
6. M. Khoir… we called him coir… yg bisa siap sedia untuk ngebantuin kita-kita… pekerja keras.. videographer yg handal.. karena dr dia kita baru tau guna nya timelapse.. yg merekam indahnya perjalanan kita. 1 lagi.. takut ketinggian… untung tidak pucat pasi saat perjalanan.
Di kotane Rika… ada 2 tambahan personil yg menemani perjalanan.. agen bantuan dari Traveller Ngirit
7. Indra Wardani … mamas indra… abangnya kita kita… yg hebat… kordinir perjalanan kita.. berkesan sangat… baik.. hehe tapi ya kalo lg moodnya jelek terlihat sekali… makasih sudah capek capek antar kita.. jago masak lagii..
8. Yono747… untung bukan 212..V^^.. pendiem.. tapi boong haha… harus melakukan perjalanan yg lama.. biar tau kalau dia.. lebih rame di media sosial… tertawa… terus.. karna tertawa menyebar keceriaan ..
Beberapa di antara kita baru 1 kali bertemu… tapi apa yg terjadi setelah perjalanan ini? Seakan bertemu saudara yang lama terpisah
Purwokerto, melepas rindu, bersilaturahmi
Sesampainya di sana… perut kami mulai bergejolak… mungkin seperti ada suara ayam berkokok… tanda harus berhenti sejenak untuk mencoba makanan khas di daerah Purwokerto.. soto jadi menu sarapan kali itu.. Soto apa ya? Lupa namanya.. khas sekali banyak daun bawangnyaa… tp enak kok segerr… dari sana pun menyempatkan diri untuk mampir mengunjungi teman di base camp.. BS (Biodiversity society) ketemu sama salah satu org hebat Purwokerto… nyong ngapak… mamas Apris.. semoga selalu menginspirasi… Silaturahmi lah kamu untuk menambah saudara… umur… menambah kebahagiaan tentunya…
Kebumen
Oke kita lanjutan perjalanan ke daerah Kebumen terlebih dahulu… deket lampu merah… ga jauh dr stasiun kebumen… Kala itu Jumat sang sekitar setengah 12 siang.. kalau dr peta ya ga jauh kita bisa sampai di persinggahan ke- 2… kampong halamannya bunda.. tapi apalah daya… Allah menguji kesabaran kita… kala itu teriknya matahari di atas kepala… ditemani asap kendaraan dan jalanan berdebu.. seorang warga baik hati memberitahukan bahwa ban mobil yg kami naiki bocor… melipirlah… berusaha untuk mengganti dengan ban cadangan… ujian kembali datang.. ban cadangan tidak ada.. mau tak mau.. harus mencari tambal ban… saat itu adzan berkumandang.. Jumat… bagi muslim laki laki harus melaksanakan solat Jumat… toko-toko pun tutup.. harus menunggu hingga ibadah jumatan selesai.. perjuangan prajurit laki laki mendorong menenteng ban mencari tempat tambal..
Tik tok tik tok.. waktu terus berjalan.
Ban yang di tunggu-tunggu pun belum usai di perbaiki.. di putuskanlah.. untuk menaiki angkutan umum untuk sampai lebih dahulu di lokasi ke 2. Dengan barang bawaan kami… ransel.. cariel pun kami angkut… dan bapak yg baik hati mengantaran hingga sampai lokasi.. Mamas hebat traveller ngirit menyusul belakangan menunggu selesai perbaikan. . *ini sungguh menguji kesabaran.. sabar ya mas mass
Pantai Karang Bolong Setelah beristirahat.. menghilangkan dahaga.. mengisi tangki tangki perut yang sudah mulai kosong kembali.. memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.. mencari keindahan pantai dan memburu sunset di pantai daerah Kebumen.. Pantai Menganti… tujuan utama kita.. ternyata… Alam berkata lain… perjalanan yg cukup ekstrim.. ala ala off road perjalanan menuju sana.. membuat kitaa….tak bisa..sampai… huft kita kalah dengan waktu.. mungkin malam kan tiba lebih dulu sebelum sampai di tujuan.. Tapi.. kita pun tak mau kalah, prajurit pemburu sunset.. akhirnya menganti haluan.. melipir ke Pantai Karang Bolong… menikmati lembayung senja… gradasi warna.. sebelum kegelapan datang… ditemani hembusan angin yang membawa ombak bergulung … memejamkan mata sejenak untuk menyimpan banyak cerita dan kenangan.. mendokumentasikan indahnya alam dan kebersamaan..
Malam pun datang.. pertanda kita harus kembali dan bersiap untuk perjalanan utama kita ..Negeri di Atas Awan… belanja… packing persiapan untuk summit esok malam.. menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sebelum pagi buta melanjutkan perjalanan..
Waktu menunjukkan pukul 1 pagi… hari Sabtu… ditemani langit bertabur bintang.. perjalanan pun berlanjut… Negeri di Atas Awan tujuan kita berada di Daerah Jawa Tengah. Kawasan Dieng Plateau yang termasuk dalam 2 kabupaten… Banjarnegara dan Wonosobo menjadi tujuan utama pendekar Bejak dalam waktu long weekend di minggu ke 2 April. Mas Indra terbaik yang mengantarkan kita… padahal kita tertidur lelap di perjalanan kala itu..
Bukit Sikunir Sekitar jam 5 pagi sudah sampai di kawasan Dieng … Bukit Sikunir menjadi tujuan utama… golden sunrise yang di harapkan dan didoakan semoga bisa memiliki kesempatan melihat kebesarannya. Tapi kamu tau… ketika long weekend.. ternyata banyak prajurit darii berbagai daerah yang menuju daerah sana.. Parkir penuh.. untuk masuk ke Telaga Cebong-Bukit Sikunir bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau menaiki ojek setempat. Ojek menjadi pilihan kita… ditemani semilir angin menyapu wajah… dingin… mulai terasa… bahkan saat berbicara keluar asap!!!.. seakan kita berada di luar Indonesia..
Menapaki jalan setapak demi setapak… menaiki entah berapa anak tangga… berburu dengan waktu sebelum mentari benar-benar bangun dari peraduannya… Belum terlalu jauh menapaki jalan menuju puncak Bukit Sikunir… mentari sudah mulai muncul memancarkan semburatnya… membuat banyak mata terpukau… menghentikan langkah dan berusaha untuk mengabadikannya.. Pos satu sudah di lewati… pendekar masih bersemangat untuk mencapai puncak bukit untuk benar benar melihat Golden sunrise sang primadona.. Bisa kah kamu bayangkan bagaimana kondisi di atas? . Ramai? Ya.. ramai oleh manusia yang haus akan suasana baru.. para pemburu sunrise dadakan sudah mulai standby di posisi terbaiknya… kami pun ikut mencari posisi terbaik.. mengambil dokumentasi … entah itu foto.. video maupun dalam bentuk timelapse.
Dari banyak sekali orang berkerumun memburu sunrise.. hingga bukit menjadi sepi dan hanya menyisakan beberapa kelompok saja.. kami masih di sana untuk mengabadikan moment berharga… menambah keakraban di antara kami… sekitar jam 7 pagi kami pun menuruni bukit… melewati anak tangga kembali … ingat.. berhati-hatilah kalau kamu melangkah.. pastikan alas kaki yang di gunakan tidak licin… dan fokus.. “karna saya pun sempat terpleset saat menuruni tangga -.-“. Di ujung jalan menurun sebelum bertemu dengan kios yang menjajakan makanan cemilan dan oleh-oleh, seperti tempe kemul.. cilok kentang dan manisan carica yang tak mungkin tertinggal… ada seniman yang selalu memainkan musiknya disana.. menemani wisatawan yang berkunjung untuk mendengarkan alunan melodinya… bahkan hingga mereka ikut bergoyang bersama terbawa suasana.
Perjalanan berlanjut, kami pun sarapan di salah satu warung makan dekat dengan tulisan Welcome to DIENG yang seringkali dijadikan objek foto bagi wisatawan. Mencoba makanan khas dieng… mie ongklok… teman kami ada yang memesan… yang lain icip-icip… karena berpikir akan summit nanti malam … jadi mengurangi konsumsi mie… Ciri khas mie ongklok… adalah kuahnya… kuah yang membedakannya dengan mie mie lainnya… kuah yang kental dengan cita rasa tersendiri… menjadikannya primadona.. ingat makannya pas hangat ya… kalau tidak makanan atau minuman panas sekalipun akan dengan cepat berubah menjadi dingin. Tak lupa mengabadikan moment kebersamaan dengan meminta tolong difotokan oleh abang siomay di depan tulisan Welcome to DIENG… menginvasi… bergeser… jadi deh foto tanpa ada pengunjung lainnya V^^. Terimakasih aban somay yang telah bantu kita…
Kompleks Candi Arjuna
Perut wis wareg… lanjut lagi ke marathon wisata selanjutnya.. Kompleks Candi Arjuno yang merupakan kompleks candi Hindu yang terletak di dataran Tinggi Dieng. Candi yang menarik, karena sebenarnya Candinya tidak terlalu luas, lebih luas taman berbalut rumput hijau, yang di temani beberapa tanaman bunga dan cemara. Candi ini kerap kali dijadikan sebagai tempat pelaksanaan Galungan dan ruwatan anak gimbal, yang bisa disaksikan saat rangkaian Dieng Culture Festival, Agustus nanti. Rumput di sana menarik perhatian kami, hingga akhirnya kami merebahkan diri diatas permadani hijau membentuk lingkaran, melakukan selfie seperti anak kekinian… padahal matahari di atas sedang terik teriknya. Bahkan apa yang kami lakukan, menarik pengunjung lain untuk ikut berfoto bersama kami. Sesion foto di kompleks candi Arjuna menjadi salah satu favorite kami, bunda dan mas indra melakukan sesi foto levitasi, ala aktor laga yang sedang berkelahi, tak lupa Choir pun ikut menunjukkan aksi… #adeganhanyabolehdilakukanolehprofesional, tak lupa sesi foto dengan gaya Yoga, agar orang-orang terinspirasi, dan kami terinspirasi untuk tak lupa olahraga.
Kawah Sikidang
Setelah melihat yang hijau-hijau, selanjutnya menuju kawasan sumber belerang. Kawah Sikidang, salah satu lokasi favorit yang dikunjungi, karena mudah diakses… berada di tanah yang cukup datar. Warna tanah kapur menjadi pemandangan di sekitar sana, letupan air di kawah dan gas sulfur menjadi pemandangan yang taka sing. Menuju sana kita akan melewati toko oleh-oleh terlebih dahulu, lalu jalan yang sudah di konblok. Kini, kawah Sikidang sudah ramai sekali dengan orang yang berjualan, menjajakan makanan untuk disantap langsung atau untuk oleh oleh bagi orang tercinta di rumah. Tapi banyak sekali yang berubah di sana… Kini banyak spot foto dadakan, seperti yang ngetrend di sosial media … kekinian.. Ada rumah Hobbit, foto dengan background bermacam-macam (tulisan MTMA, frame love ataupun foto dengan hiasan Gorila..) , bahkan ada spot foto duduk di ayunan, seperti Maribaya… Kalo aku pribadi, lebih suka kunjungan pertama ku… belum ada spot foto dadakan itu, yg membuat terlihat tidak alami… tapi membuat bebrapa pengunjung senang, untuk sekedar mengupdatenya..
Batu Ratapan Angin
Batu Ratapan Angin, merupakan batu pandang yang berada di dekat Dieng Plateau Theater. Dari atas Batu, bisa didapati pemandangan 2 buah telaga, yaitu Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Ada kisah menarik mengenai Batu Ratapan Angin… Disana ada beberapa spot foto… ada lokasi yang Bertuliskan Dieng Negeri di Atas Awan, yang hits di IG, tapi kalian haus membayar biaya retribusi tambahan untuk berfoto di sana… Selain itu bila turun sedikit dari Batu Ratapan Angin, Ada batu lainnya juga, yang lebih datar bisa untuk duduk dan spot foto yang bagus, ada juga ayunan, bila ada yang ingin berfoto diatas ayunan, bagaikan kita diwaktu kecil.
Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Telaga warna, merupakan danau vulkanik yang mengandung belerang. Disebut sebagai telaga warna, karena warna nya dapat berubah saat terpantul cahaya matahari. Kini di telaga warna, ada flying fox bagi yang ingin mencobanya. Telaga Pengilon berada di sebelah Telaga warna, diameter telaga nya lebih kecil dibanding telaga warna. Kedua telaga ini dapat ditelusuri dengan mengikuti batu konblok yang ada, karena konblok disusun teratur untuk memudahkan pengunjung berkeliling. Saat menuju telaga Pengilon dari Telaga Warna ada hutan lumut yang dilalui, bagus untuk lokasi foto. Tidak hanya dapat melihat Telaga, pengunjung juga dapat melihat 3 Goa yang berada di sekitar lokasi, yaitu: Goa Semar, Goa Sumur dan Goa Jaran. Di sana ada mata air, bila pengunjung membasuh wajahnya, maka akan awet muda, menurut kepercayaan orang sana. Tetapi, kini sumber air sudah di kunci.
Pos Pendakian Patak Banteng
Perjalanan yang menjadi tujuan utama pendekar Bejak datang ke Negeri di Atas Awan adalah melakukan summit. Ingin menikmati indahnya sunrise, ketinggian, membuat kita mendekat pada Tuhan. Ya… Summit Prau adalah tujuan utama nya kita… ibaratnya friendship goal gitu… hehe. Ada beberapa jalur yang dapat di lalui untuk menuju puncak Prau. Kami memilih jalur Patak Banteng, jalur yang umum di lalui, dikenal dengan trek nya yang dahsyat… karena Jalur yang lebih landai, ndak ketemu pos pendakiannya T.T… Sebelum pendakian kami mampir terlebih dahulu di pos pendakian patak banteng, tak lupa solat, merebahkan diri, beristirahat, mengisi perut, memastikan barang dan perlengkapan yang akan di bawa nanti. Tak lupa, untuk semua yang akan mendaki gunung, lapor simaksi yaa… lapor berapa orang dalam satu rombongan yang akan naik, berapa orang dan membayar biaya retribusi pendakian.
Pesan bunda…. Sebelum mendaki alangkah baiknya memijat kaki tangan punggung sendiri… hehe antisipasi… balur balur minyak tawon hehe… ampuh loh… Jangan lupa kalau mau mendaki jangan mendadak ga pakai pemanasan… Usahakanlah olahraga, melemaskan otot-otot di badan…
Summit Prau
Yey finally, puncak dari perjalanan pendekar BeJak dimulai. Malam itu, di temani cahaya rembulan, dan langit bertabur bintang, angin pun malu-malu, hanya ada nyanyian alam yang didendangkan hewan di sepanjang perjalanan.
Pendakian kami mulai sekitar pukul set 10 malam, diawali dengan berdoa bersama… mentaati aturan, menjaga lingkungan, menjaga omongan. Karena, tidaklah kamu menjumawakan diri, karna semua yang terjadi dalam hidup kita atas izin Tuhan. Pendakian dimulai dari melewati anak tangga dari pos pendakian patak banteng… di ujung anak tangga, akan sampai pada jalan yang lebih lebar, ternyata menuju perkebunan, perkebunan sayur. Sebelum melewati perkebunan, kami pun di periksa kembali, apakah sudah melapor atau belum, kalau belum lapor diri tidak diizinkan melanjutkan perjalanan.
Selangkah demi selangkah melalui jalan sambil membawa beban… di awal awal… ternyata terasa cukup melelahkan. Beberapa saat pun kami berhenti di tepian jalan.. sekedar mengatur pola pernafasan. Jalan yang lebar pun lama-kelamaan mengecil, menjadi jalan yang hanya dapat dilalui oleh 2 orang yang berdampingan… jalan terus menanjak, tetapi diawal perjalanan akan ada beberapa warung kecil yang dapat di jadikan sebagai tempat peristirahatan, atau sekedar berbelanja mengisi amunisi perjalanan. Ditemani bulan purnama kala itu, hutan yang dilalui pun seakan menjadi terang. Pendakian di malam hari ternyata mengasyikkan, karena kita hanya fokus akan jalan di depan, tidak melihat seberapa jauh, tinggi atau curam perjalanan di atas. Perjalanan terus berlanjut, menelusuri hutan pinus. Setelah menelusuri hutan pinus, akan dihadapkan dengan jalur yang lebih menanjak dan curam, serta licin, terutama ketika musim hujan. Terus melangkahkan kaki naik ke atas, hingga bertemu jalan setapak yang landai, pertanda kita akan segera sampai. Ternyata, selama perjalanan, yang awalnya bersama sama… kita sempat terpisah menjadi beberapa bagian. Adam dan Coir di barisan paing belakang, di tengah ada Pidi, Idot dan Vina.. disusul mas yono, nah kalau Mas Indra menemani kanjeng bunda di depan. Tidak terasa, sekitar jam set 12 kami pun sampai… Alhamdulillah cepat, selamat dan ditemani cuaca yang cerah. Setelah semua tim berkumpul kembali, mas indra pun mulai mencari spot untuk 2 tenda yang akan kami dirikan. Weekend, apalagi long weekend, Gunung Prau menjadi salah satu tujuan yg ramai dikunjungi, begitu banyak tenda sudah didirikan di area bukit teletubies-puncak Prau. Tak lama setelah beberapa menit berlalu, akhirnya kami menemukan spot, meski di lahan yang aga aga miring hehehe. Tenda pun segera didirikan.. Ternyata eh ternyata semakin lama dingin mulai terasa, selama pendakian tak menggunakan Jaket, tapi pas di puncak baru terasa suhu sekitar berubah… ujung ujung jemari pun mulai membeku, tetapi mencoba bertahan… hingga semua selesai di bangunnn…
Bunda langsung masuk ke dalam tenda, sedangkan anak anaknya… ya kami kami masih berbincang memandangi indahnya layar alam bertabur bintang… ribuan jumlahnya… ingin rasanya merebahkan diri sambil memandang ke atas, mencoba menghitung bintang? Melihat rasi bintang? Mencoba mengirimkan salam rindu pada yang terkasih, bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk melihat indahnya ciptaan Tuhan. Kompor portable pun mulai menjalankan peran, untuk memenuhi keinginan yang haus akan kehangatan.
Di Puncak banyak sekali ceritanya, bunda ternyata mengalami kedinginan hebat hingga memanggil nama suaminya… Sebagian tidur di selasar tenda…yang awalnya sih sok kuat, tapi lama-kelamaan dingin semakin menusuk ketika waktu sudah menujukkan pukul 3 pagi. Langsung pindah ke dalam tenda, mencoba memejamkan mata, ternyata pengunjung lain mulai berteriak gaduh, sunrise kan muncul -.-… Tak lupa saat waktu subuh datang, tanda waktu bagi kami untuk beribadah… Pengalaman pertama beribadah di ketinggian mendekat pada Tuhan… memori yang akan selalu di kenang… berharap suatu saat akan bisa seperti itu didampingi imam… eh hehe. Setelah puas mengabadikan moment sunrise… ternyata ada mas-mas siap siaga yang sudah mulai memasak roti untuk sarapan (Mas Indra) da best… Lanjutlah, 2 cewek kakak tertua… membantu memasak.. tahu, tempe, sop, sarden, plus nasi jadi menu kami di Puncak Prau… berbeda dengan kebanyakan pendaki lain yang membawa makanan instan (mie) , kami menghindari hal ituu…Seru juga.. lama ga masak di alam… Indahnya kebersamaan diselingi canda tawa… semakin mengenal karakter diri dari masing-masing diantara kita… diantara pendekar pendekar yang sedang melakukan perjalanan. Indahnya melakukan perjalanan, bisa menjalankan sistem perekonomian barter.. hehe barter bahan makanan dengan air… yuhu… itulah indahnya berbagi. Tak lupa setelah makan, berkemas… sebelum turun mengabadikan jejak denganberfoto bersama… dan perjalanan pulang pun kembali di lanjutkan… tak lupa semua perlengkapan di cek, dan sampah sampah diangkut, di bawa turun. Karena, GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH… jadi bawa turun sampahmu. Selama perjalanan menuruni Gunung Prau, terlihatlah indahnya dieng dari atas…. Sebanding dengan usaha atas perjalanan untuk mencapainya. Baru terlihat ternyata jalur seperti apa yg di lalui, karena saat malam tak terlihat… Licin, jadi lebih berhati-hati … memanfaatkan otot kaki untu bekerja lebih keras… mungkin hingga ujung jemari .. jempol misalnya, mengalami keram. Ada hal lain yang tak terlupkan, selama perjalanan ternyata yang jadi primadonanya Bunda kesayangan, 3 anak gadis nya ga ada yang di lirik :’(… hanya bunda yang diperhatikan… hehe pertanda bunda nya kita kita memang awet muda, atau kita yang tua?? Hehe…
Berburu dengan waktu, kami pun mulai mempercepat langkah karena harus kembali ke kota BeJak, menghadapi kenyataan bahwa besok hari Senin dan harus kembali bekerja. Sesuatunya perjalanan pulang kami dari stasiun Kebumen… hehe .. terbalik dengan awal perjalanan.. datang stasiun PWT tapi trus lanjut Kebumen.. eh pulang malah dr Stasiun Kebumen, padahal tidak mampir-mampir lagi.. lelah tapii pikiran senang.. akhirnya sampai di Jakarta.. tepatnya Stasiun Jatinegara jam 00:45.. lalu jam 7 harus sudah di kantor kembali…
Tapii… dibalik semua rasa lelah yang ada, terimakasih teruntuk pendekar-pendekar tersayangku… perjalanan bersama kalian merupakan memori yang tak terlupakan. Sampai bertemu di trip-trip selanjutnya… pendekar ngirit… Bekasi, 15 Mei 2017 PD yang merindukan perjalanan.










