Hal Kecil itu Penyempurnanya
Hari itu aku bersama keluargaku dan satu anggota baru pergi satu rombongan menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa. Ya, beberapa bulan yang lalu keluargaku mendapat anggota baru karena kakak pertamaku baru sajamenyempurnakan separuh agamanya. Dan ini kali pertama kami pergi bersama-sama satu keluarga lengkap. Aku, Mama, Papa, dua kakak perempuanku dan adek berangkat bersama dari rumah, sedangkan kakak pertamaku berangkat bersama istrinya dari kos mereka.
Kami sampai di salah satu plaza yang ada di Surabaya tepat pukul 19.08 ( kebetulan lihat jam, hehe). Bergegas kami menuju lantai paling atas dan langsung masuk ke tempat nontonnya karena sudah dimulai. Biasanya, aku menonton film yang diadaptasi dari sebuah novel setelah selesai membaca novelnya. Namun kali ini, aku belum sempat membaca novel 99 Cahaya di Langit Eropa ini. Alhasil, selama film berlangsung, aku hanya bisa menerka-nerka karena belum tau alurnya sama sekali, hanya tahu bahwa nantinya di film ini akan ditunjukkan berbagai peninggalan peradaban islam di Eropa. Entah kenapa aku selalu merasa, antara novel dan film yang diambil dari novel, selalu lebih nikmat membaca novelnya itu sendiri. Karena aku bebas mengimajinasikan segala peristiwa yang diceritakan di dalamnya dengan berbagai rupa tokohnya, hehe. Jadi terkadang, jika imajinasi yang aku bayangkan jauh berbeda dengan yang tersaji di film, bisa jadi membuat kecewa karena ekspektasiku yang berlebihan, hehe.
Over all, selesai menonton film ini, apresiasi dari aku pribadi bagus. Ada beberapa adegan yang membuat aku merinding karena takjub sekaligus merasa berdosa karena belum mengenal baik sejarah agama islam. Betapa islam memang sungguh-sungguh pernah berjaya di sana. Dan bukti-bukti yang diperlihatkan mungkin baru sedikit dari yang sebenarnya ada. Harus disadari pula bahwa bukti peninggalan peradaban islam itu ditinggalkan bukan karena ketidaksengajaan. Allah pasti sudah menyiapkan begitu rapinya agar kita –umat islam sendiri—mau belajar dari sejarah. Jika bukan Allah yang mengatur, maka tidak akan patung yang dibuat oleh Napoleon Bonaparte, tugu emas, dan lain-lainnya itu ternyata berada dalam satu garis lurus yang menuju ke Ka’bah, rumah suci umat islam. Aku hanya bisa berdecak kagum atas semua rencanaNya yang selalu penuh makna dan bisa diambil hikmahnya oleh mereka yang mau berpikir. Dan satu lagi, film ini membuatku ingin membuktikan sendiri semuanya, mengunjungi Cordoba!! Semoga suatu saat, aamin ^^
Terlepas dari agungnya peradaban islam yang diperlihatkan dalam film ini, ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku, yaitu adab-adab yang diatur dalam agama islam yang disajikan dalam film ini. Dalam film, aku temui adegan saat Hanum, Fatma, dan Aesya makan bersama, awalnya diperlihatkan Hanum makan dengan tangan kiri. Saat adegan itu, sebenarnya aku berekspektasi lebih bahwa Aesya akan mengingatkan Hanum untuk makan dengan tangan kanan. Eh, ternyata setelah itu diperlihatkan bahwa mereka bertiga sama-sama makan dengan menggunakan tangan kiri, gagal deh. Saat mengambil minum pun menggunakan tangan kiri. Bersalaman antara wanita dan pria yang bukan muhrim juga ada. Dan yang menurutku paling parah itu, saat Mahendra meninggalkan sholat Jumat, aku melihat kurang adanya penyesalan saat mengganti dengan shalat dhuhur. Meskipun setelah itu Mahendra dan Hanum berkonsutasi dengan seorang Syekh. Hei, lelaki yang meninggalkan sholat jumat itu terancam kafir loh :(
Memang mungkin terlihat sepele, mempermasalahkan hal-hal kecil. Tapi sungguh, aku sangat menyayangkan, kenapa tidak ada yang lebih detail lagi memperhatikan adab-adab kecil itu agar dalam film ini benar-benar terlihat aspek keislamannya secara utuh. Sesungguhnya islam itu mengatur dengan sangat detail seluruh kegiatan yang kita lakukan. Meskipun sama-sama dilakukan, tapi jika cara untuk melakukannya berbeda, maka esensi yang didapatkan tiap individunya juga akan berbeda.. Dan karena pengaturan hal-hal kecil itulah islam menjadi agama yang agung, mulia, dan sempurna!
Meskipun aku menyayangkan, tapi harus tetap mencoba memaklumi, karena tidak ada hal yang sempurna di dunia ini kecuali Allah, dan agama yang diturunkanNya untuk kita. Terlepas dari itu semua, tetap banyak hal positif yang bisa didapatkan dari film ini. Ambil yang positif, buang jauh yang negatif. So, it's still recommended to watch!! ^^
yang juga tidak sempurna,