Gudang LXXXIV
Setelah kebakaran Sudah siang, tak lagi kau tidur? Bau bensin seperti penanda kedatangan orang-orang demam. Pecahan kaca, lengkap menyayat punggung kaki saat aku melangkah di semak-semak tempat sebuah harapan terjungkal keluar dari kantong. Ada kobar api yang tak perlu, jerit tangis yang harus cepat usai, dan kalahnya Sepi dari raung perut lapar. Dompet cuma tempat mukim KTP. Uang, najis menetap sebentar untuk sekedar menyapa, atau membangunkan nominal yang koma. Begitulah, tetap kita sebut sebagai rumah. Kemudian kamar, kamar semakin jauh atau bahasa sederhananya: tambah asing dari sisa-sisa abu yang mencoba bertahan.










