Tyto alba sebagai Musuh Alami Tikus
Selamat awal pekan sahabat Agro. Di Senin ceria ini AgroWindow akan membahas tentang hewan yang erat kaitannya dengan dunia pertanian.
Hewan apakah itu? Siapa yang tak kenal dengan “Tikus”? Sudah pernah lihat wujud tikus?
Tikus merupakan hewan yang sangat mudah dijumpai disekitar kita. Di rumah misalnya. Akan tetapi, bila tikus muncul dan berkembang biak di lahan pertanian dan perkebunan, hewan ini bisa menjadi hama merugikan bagi petani. Tikus dapat menyebabkan rusaknya hasil pertanian dan penyebab gagal panen.
Terdapat 4 spesies tikus, yaitu tikus rumah (Rattus rattus diardii), tikus ladang (Rattus rattus exulans), tikus sawah (Rattus argentiventer) dan tikus belukar (Rattus rattus tiomanicus).
Sampai saat ini petani masih kesulitan untuk mengatasi hama tikus. Mengapa “Tikus” sulit untuk dikendalikan ?
Mempunyai daya adaptasi, mobilitas, dan kemampuan berkembang biak yang tinggi (5-10 ekor tikus tiap kelahiran).
Memiliki sifat neo fobia atau mudah curiga sehingga penggunaan perangkap atau pemberian umpan beracun sering tidak berhasil menurunkan populasinya.
Bagaimana upaya pengendalian hama tikus?
Penggunaan racun dan perangkap tikus selama ini kurang efektif sehingga dilakukan pendekatan penggunaan musuh alami burung hantu (Tyto alba) sebagai predator (pemakan) hama tikus. Pengendalian ini biasanya disebut pengendalian hayati.
Apa itu burung hantu (Tyto alba)?
Burung hantu (Tyto alba) termasuk burung buas (karnivora) yang aktif pada malam hari atau nokturnal. Tyto alba juga bersarang pada bangunan, gedung yang tinggi, serta lubang pohon. Tyto alba menyukai binatang kecil seperti tikus, kelinci, kekelawar, burung, kodok, kadal dan serangga.
Berikut beberapa keuntungan penggunaan Tyto alba sebagai pemakan tikus :
Letak mata menghadap ke depan seperti manusia (pandangan binokuler) memberi kesempatan untuk mengikuti gerak-gerik mangsa. Mata ini juga sangat besar dan dapat beradaptasi dengan sedikit cahaya.
Tyto alba mempunyai indera penglihatan yang sangat tajam. Dapat memantau mangsanya tanpa menggerakkan kepala. Tyto alba dapat mendeteksi gerakan sedikit saja dari mangsanya.
Kemampuan berburu sangat tinggi, tangkas, handal dan memiliki daya dengar sangat tajam. Bulunya yang halus tidak menimbulkan suara di saat terbang memburu mangsanya
Tyto alba mulai berburu setelah matahari terbenam, berburu berikutnya sekitar 2 jam menjelang fajar.
Cakar dan kaki burung hantu sangat kuat menyebabkan tikus yang disergap biasanya langsung mati, selanjutnya paruh yang kokoh dipakai burung hantu untuk mencabik-cabik dan menelan mangsanya.
Burung hantu mampu memakan 2-5 ekor tikus perhari. Namun saat populasi tikus tinggi, burung hantu membantai tikus lebih banyak.
Memiliki daya jelajah hingga 12 km dari kandang atau dari sarangnya jika tikus sulit didapat pada lahan pertanian dan perkebunan yang dekat.
Hidup berkelompok dan tidak bersaing dalam kawasan perburuannya. Setia pada sarangnya dan burung hantu akan selalu kembali ke sarangnya setiap musim berkembang biak.
Kemampuan bertelur hingga 2 – 3 kali dalam setahun dan menghasilkan 6 – 11 butir setiap bertelur.
Tidak mengotori lingkungan dengan racun ataupun zat kimia bebahaya lainnya.
Burung hantu (Tyto alba) memiliki sifat mudah stress, maka sebaiknya peletakkan kandang (nest box) atau sarang berada di bagian tengah lahan pertanian dan perkebunan agar jauh dari gangguan. Burung hantu (Tyto alba) merupakan musuh alami tikus yang dengan senang hati akan bekerja sendiri memangsa tikus di lahan pertanian dan perkebunan, sehingga petani bisa tidur nyenyak menanti hasil panen.
Sumber referensi :
Rajagukguk, B. H. 2014. Pemanfaatan burung hantu (Tyto alba) untuk pengendalian hama tikus di perkebunan kelapa sawit. Jurnal Saintech, 06 (04): 1-7. Hadi, M. 2008. Pola aktivitas harianpasangan burung serak jawa (Tyto alba) di sarang kampus psikologi universitas diponegoro tembalang semarang. BIOMA, 6 (2) : 23-29. Nurmuslimah, S. 2015. Aplikasi fuzzy tsukamoto untuk penggunaan jasa barn owl (Tyto alba) sebagai pengendali hama tikus di bidang pertanian. Jurnal ITATS, 11 : 285-294. Sabirin, P. Silalahi, G. Ginting dan M. Simamora. Mengendalikan tikus berkelanjutan berbasis kawasan.<http://ditjenbun.pertanian.go.id/>. Diakses, 27 Desember 2015, pukul 13.49 WIB.
Follow us:
FB: Agro Window Tumblr: agrowindow.tumblr.com Twitter: @agro_window Instagram: @agrowindow Email: [email protected] CP: 085740604188












