Hot August Nights! #2017 #sparks #nevada #HAN2017
seen from China
seen from Türkiye

seen from Ukraine

seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Italy
seen from Australia

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Lithuania
seen from Türkiye
seen from Canada
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from Russia
Hot August Nights! #2017 #sparks #nevada #HAN2017
This has always been my #dreamcar #MustangShelby #HAN2017 #mancation2017 #prettycars#hotaugustnights2017 (at Reno, Nevada)
Selamat Hari Anak Nasional, Kebahagiaan bersama 😘😘👍👍 Franklin P. Jones mengatakan, "Kau bisa belajar banyak hal dari anak-anak. Misalnya saja, seberapa sabar dirimu." #goakidsceria #harianaknasional #kidsranger #HAN2017 #bahagiaselalu
SELAMAT HARI ANAK NASIONAL 2017 by : rizkisani
Hari Anak Nasional 23 Juli 2017, Indonesia masih memiliki beberapa PR besar atas permasalahan yang melanda anak-anak di Indonesia. PR besar karena Indonesia membutuhkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Sebagai bagian dari bangsa ini tentu ini bukan hanya permasalah yang harus dituntaskan oleh pemerintah saja, segala sektor kehidupan yang berhubungan dengan anak harus ikut berpartisipasi dalam pengentasan masalah ini terlebih sektor yang berhubungan sangat dekat dengan anak yaitu keluarga.
Salah satu permasalah anak di Indonesia adalah masih banyak anak-anak yang memilih tidak melanjutkan pendidikannya dan lebih memilih bekerja. Hal ini dikarenakan karena sudut pandang yang terbentuk pada anak adalah sudut pandang kebermanfaatan hari ini, bukan kebermanfaatan di masa yang akan datang. “Lebih baik saya mulung, sehari dapat 20ribu, kalau sekolah butuh jajan dan bikin capek, jadi ga menghasilkan”. Permasalahan ini muncul pada pengalaman penulis sendiri ketika mendapat kabar bahwa seorang anak didik tidak melanjutkan pendidikannya lagi.
Anak bersangkutan memiliki latar belakang tinggal di daerah pengepul sampah dan orang tuanya juga bekerja sebagai seorang pemulung. Mungkin berawal dari keinginan anak yang ingin merasakan susah payah pekerjaan orang tuanya, sampailah si anak mencoba melakukan pekerjaan tersebut dan mungkin juga karena adanya pembiaran oleh orang tua, dan berakhir dengan anak yang memiliki sudut pandang yang demikian.
Dalam sebuah artikel di factsforlifeglobal.org dengan judul “Child Development And Early Learning” dikatakan bahwa anak dalam masa perkembangannya memiliki cara menyikapi sesuatu yang sangat logis serta powerful. Mereka akan kecewa ketika ada hal yang tidak mereka bisa lakukan, mereka akan sangat ketakutan ketika diganggu oleh orang asing, takut akan gelap, takut akan tempat baru. Anak-anak dapat merasakan dengan sensitif ketika mereka terekspos dengan tekanan mental dan fisik atau terekspos dengan kekerasan, dan anak-anak yang terekspos dengan lingkungan tidak baik dapat menjadi anak-anak dengan sudut pandang yang tidak baik pula. Ini lah bagaimana anak-anak merespon terhadap lingkungan mereka serta dampak yang dihasilkan dari lingkungan tersebut terhadap sudut pandang anak.
Benar bahwa kita tidak dapat memilih di lingkungan mana kita dilahirkan dan dibersarkan ketika tiba ke dunia ini, namun bukan berarti kita melakukan pembiaran atas apa yang ada disekitar kita ketika itu merupakan hal yang salah. Keluarga sebagai sektor terdekat dengan anak memiliki peran yang sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak baik secara mental maupun fisik. Cara yang positif dan efektif untuk mengarahkan sudut pandang dan sikap anak oleh keluarga, dapat berupa :
1. Memberikan penjelasan yang jelas kepada anak atas apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.
2. Memberikan respon terhadap anak atas apa yang telah mereka lakukan sebagai bentuk penilaian for what is right and what is better.
3. Serta, menunjukkan sikap yang baik kepada anak.
Baik orang tua, saudara, atau pengasuh anak, harus berperan aktif dalam memperhatikan dan menjaga pola tumbuh kembang anak. Sehingga anak menjadi pribadi yang memiliki semangat untuk tumbuh baik hari ini maupun di masa yang akan datang. Lihat, bagaimana dengan menjadi orang tua dan saudara yang baik saja, kita secara tidak langsung memberikan kontribusi pada bangsa ini dalam proses pengentasan permasalah anak.
LALU BAGAIMANA DENGAN KITA YANG BELUM MENJADI ORANG TUA?
Ya segerakanlah menjadi orang tua.... ga deng canda. Tapi bener juga loh..
Masalah yang terjadi pada anak-anak Indonesia khususnya masalah yang sebelumnya penulis sebutkan tidak semata karena kesalahan orang tua atau keluarga. Namun ini merupakan bentuk akumulasi dari lingkungan negatif lainnya yang terekspos kepada anak, a.k.a efek negatif Sosial Media. Jika ditanya anak lebih memilih sekolah atau libur, anak lebih memilih libur. Karena anak melihat bersekolah adalah hal yang berat, melelahkan, serta tidak menyenangkan. Beberapa hari yang lalu penulis melihat sebuah meme di Instagram bertulisan “17 Juli” dan didukung dengan gambar orang yang stress dan lelah, kemudian dilengkapi dengan caption “I’m not ready for this”. 17 Juli 2017 merupakan hari pertama anak TK dan SD kembali melanjutkan aktifitas belajar mereka setelah sekian lama berlibur, dan meme diatas memberikan pandangan bahwa hal ini sangat tidak menyenangkan.
Hal ini mungkin terkesan bercanda karena mewakili apa yang sebagian besar kita rasakan ketika memulai kembali aktifitas bersekolah. Namun menurut penulis, ini merupakan salah satu penyebab kenapa anak dengan mudahnya meninggalkan pendidikan mereka, karena adanya mindset-mindset negatif yang terekspos kepada anak melalui sosial media tentang bersekolah, dan kita tau sendiri bagaimana anak-anak saat ini dengan mudah mengakses sosial media tersebut. Dan masih saja kita melakukan yang namanya pembiaran...
Dalam sebuah buku berjudul “ The Tipping point” karya Malcolm Gladwell, terdapat sebuah teori yang berhubungan dengan pembiaran. The Broken Windows Theory oleh Wilson dan Kelling, sebuah teori yang menunjukkan bagaimana sebuah pembiaran atas sesuatu yang negatif dapat menyebabkan berkembangnya hal negatif tersebut. Teori ini berawal dari sebuah permasalah yang dihadapi United State pada tahun 1980an yaitu kasus kriminal yang sangat tinggi. “If a window is broken and left unrepaired, people walking by will conclude that no one cares and no one is in charge. Soon, more windows will be broken, and the sense of anarchy will spread from the building to the street on which is faces, sending a signal that anything goes.
Berdasarkan teori diatas dapat kita renungkan bagaimana akibat pembiaran yang kita lakukan atas mindset-mindset negatif yang terekspos kepada anak tentang bersekolah. Siapa tau suatu saat nanti anak-anak bisa benar-benar menjadi malas dan mungkin saja benci untuk bersekolah. Disinilah terjawab peran apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda dalam mengetas permasalahan pendidikan anak di bangsa kita ini. Stop sebarkan info-info yang tidak menyenangkan tentang bersekolah, baik dalam bentuk meme ataupun status. Stop berkeluh kesah tentang beratnya bersekolah atau kuliah melalui sosial media, stop menunjukkan tugas-tugas yang berat melalui sosial media. Percayalah itu bukanlah hal yang berat hanya saja kita yang tidak memaksimalkan diri untuk menyukurinya dan Allah pun tidak akan memberikan cobaan diluar kapasitas hamba-Nya. Daripada memberikan komentar atau pandangan negatif tentang beratnya bersekolah, akan lebih baik menunjukkan bagaimana serunya bersekolah, bertemu dengan teman ketika belajar kelompok, berdiskusi dan bermain bersama guru, indahnya bersemangat dalam persiapan ujian, dan bahagianya menjadi kebanggan orang tua saat menuntaskan pendidikan dengan nilai yang baik. Sehingga anak-anak dapat mendapat energi positif bahwa ternyata bersekolah itu merupakan hal yang menyenangkan, ketika mereka sudah menjalani pendidikan dengan hati yang senang dan nyaman maka anak suatu saat akan memahami dengan sendirinya bahwa pendidikan itu adalah hal yang penting.
Jadi teman-teman se-generasi, peran dalam pengentasan masalah di bangsa ini tidak melulu melalui orasi, demo, atau diskusi terbuka bersama pemerintah yang terkesan kita hanya menuntut pemerintah untuk menuntaskannya. Tapi mulailah dari diri sendiri, dan yakin hal kecil yang kita lakukan secara terus menerus dapat memberikan kontribusi yang besar pada bangsa ini. Semoga hal kecil positif yang kita lakukan dapat bermanfaat bagi pendidikan anak-anak di bangsa yang kita cintai ini.
Selamat Hari Anak Nasional 2017.
Karena kita tidak bisa disebut dewasa tanpa melewati fase anak-anak. Karena kita yang telah disemat dengan amanah menjadi orang tua telah juga melalui fase anak-anak. Oleh karenanya, untuk saya dan siapa saja yg pernah menjadi anak, ingatlah bahwa sekarang kitalah filter mereka yang masih anak. Untuk itu, jadilah filter yang menenangkan, agar mereka (anak-anak) bisa memenangkan impian tanpa merasa tertekan. Jadilah filter yang menguatkan, agar mereka kelak paham bahwa segala kemungkinan kenyataan kadang berseberangan dengan harapan. Jadilah filter yang Berketuhanan, agar mereka bisa paham memahami tentang arti perbedaan. Selamat Hari Anak Nasional! . . . #HariAnakNasional #StopBullying #HAN2017 (at Surabaya North Quay)
Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2017 🎉 Sebagai Storialis yang baik, mari bersama kita ciptakan konten literasi yang sesuai umur dan bermanfaat untuk mereka! Jadi, kamu punya tulisan tentang anak atau tulisan yg dikhususkan untuk pembaca anak-anak? Share dong linknya 😉 . #harianaknasional #han2017 #sayaanakindonesia #sayagembira #childrensday #indonesia
Now is a great time to Invest in Hawaii. Beautiful beaches and lots of new places to #relaxshop with a full motion Digital Film Industry #hawaiifilmindustry #han2017 #hfistudios
The only thing missing is you. www.hawaiistalent.com #hfistudios #hawaiifilmindustry #han2017 (at Oahu)