Surat Cinta Untuk Uni
Assalamuâalaikum warahmatullahi wabarakatuh
Teruntuk kakak yang hari ini berbahagia
Ketika menghitung hari menuju pernikahanmu, terpejam mata, terdiam kata mengingat engkau adalah kakak kandungku yang sebentar lagi dan hari ini telah menjadi permaisuri dari rumah tangga yang akan kau bangun bersama seorang laki-laki hebat.
Uni, begitu lah biasa aku memanggil engkau sejak dulu. Melalui masa kecil sebagai sepasang saudara, sepasang sahabat, dan sepasang teman, menjadi salah satu hal yang teramat adikmu syukuri. Salah satunya masa ketika keluarga kita pertama kali memiliki sebuah lemari pendingin, Papa yang saat itu sedang asiknya menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya setelah menyelesaikan sekolah di Ibu Kota, mengajarkan kita untuk berjualan Es Kacang padi. Beruntung kita memiliki seorang Mama yang begitu hebat berada disisi Papa yang kemudian menjadi Chef dari Es Kacang Padi yang nantinya kita titipkan di Kedai Om Rul di Simpang Muaro Penjalinan sebelum kita berangkat sekolah ke SD 02 Ulak Karang. Seingatku kacang padi tersebut kita hargai 300 Rupiah per plastiknya, dan ketika langit sudah menampakkan gelapnya, kita bergantian, engkau yang mengayuh sepeda dan aku yang memegang stang menuju kedai Om Rul berharap banyak Es Kacang Padi yang terjual, karena keuntangan dari penjualan es Kacang Padi tersebut menjadi tambahan uang jajan kita saat itu.
Ketika bibir ini menyimpulkan senyuman mengingat begitu hangatnya keakraban kita, terlintas sebuah kenangan ketika adikmu yang dulu berkaki kecil ini memegang balok kayu sepanjang kira-kira 50 cm, berlari mengejarmu dengan penuh amarah. Beruntung engkau memiliki langkah yang lebih besar, sehingga balok kayu tersebut tak sampai mendarat di tubuhmu, kalau lah sampai, saya khawatir ini merupakan salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh seorang adik pada kakak perempuannya. Padahal hal ini terjadi hanya karena engkau memaksaku untuk mandi di sore hari, namun adikmu yang nakal ini begitu malas jika disuruh mandi, dan berujunglah aksi kejar-kejaran tersebut.
Kakakku tercinta,
Kini engkau sedang bersanding bersama laki-laki yang namanya sudah ditetapkan oleh Allah di Laul Mahfuz untuk menjadi pelengkap imanmu. Persandinganmu hari ini menunjukkan kakakku kini telah menjadi wanita dewasa dengan title Istri. Namun merujuk pada cerita saya sebelumnya, tetaplah engkau menjadi kakak dari adikmu yang mau bekerja sama dalam hal apapun, bak sepasang kakak adik yang berboncengan sepeda, engkau mengayuh aku yang mengarahkan stangnya. Tetaplah menjadi kakaku yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, bak seorang kakak mengingatkan adiknya untuk mandi sore.
Kakakku tersayang,
Semoga surat yang saya sampaikan ini menjadi salah satu kado terindah, selain kado terindah berupa kebahagiaan didampingi oleh kedua orang tuamu dan kedua orang mertuamu dihari pernikahanmu. Walaupun engkau kini sepenuhnya sudah menyerahkan diri pada suamimu, tetaplah engkau ingat besarnya jasa papa dan mama yang membesarkan engkau mulai dari kandungan hingga hari ini, tetaplah engkau ingat ketabahan papa jauh dari anak istrinya demi masa depan keluarganya yang lebih baik, tetaplah engkau ingat derasnya keringat mama ketika pergi ke pasar membeli lauk pauk untuk makan kita sehari-hari, dan tetaplah engkau ingat adikmu yang dari dulu menyusahkanmu tetapi begitu besar cintanya padamu. Dan berterima kasihlah engkau pada papa dan mama karena dengan ridho mereka lah engkau saat ini berada di pelaminan bersama lelaki pilihanmu. Semoga dengan mengingat hal-hal tersebut engkau akan senantiasa istiqomah berbakti pada kedua orang tuamu.
Wahai abang iparku yang kubanggakan,
Mungkin kita tidak merasakan momen bersepeda dan kejar-kejaran balok ketika kecil, namun, melihat keberanian engkau untuk menemui orang tuaku dan menyatakan serius dalam menjalani hubungan bersama kakakku, menjadikan diri ini pun yakin dan percaya, insyaAllah kakakku bisa menjadi lebih baik ketika bersamamu dan engkau akan menjadi imam yang baik untuk kakakku. Dan kita akan menjadi sepasang abang adik yang baik mulai hari ini hingga masa yang akan datang.
Papa Mama yang begitu saya cintai, sayapun mengucapkan selamat atas pernikahan anak perempuan yang begitu engkau cintai, terima kasih atas ridhomu, sehingga hari ini saya dapat menyaksikan kakak saya sangat berbahagia bersama lelaki pilihannya. Namun, untuk sekedar mengingatkan bahwa belumlah selesai perjuanganmu karena masih ada anak bungsumu yang ingin menikah pula, Namun ridhomu lah yang akan mengantarkan anakmu pada jenjang tersebut.
Papa Mama mertua kakakku, sungguh pernikahan ini bukanlah jalinan antara 2 insan saja, tetapi juga jalinan yang menyatukan kita menjadi sebuah keluarga besar, dan saya mengucapkan terima kasih atas ridho yang engkau berikan sehingga kita menjadi sebuah keluarga besar yang insyaAllah dinaungi Sakinah Mawaddah dan Warrahmah dari Allah swt. Untuk itu sudilah pula engkau menganggap adik ipar anakmu ini sebagai anakmu sendiri.
Wahai kakakku dan abangku tercinta,
Saya akhiri surat ini dengan sebuah sabda dari Baginda Nabi Besar Muhammad Saw, yang mengatakan âBarangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnyaâ. Untuk itu wahai kakakku jadilah engkau istri yang solihah agar menjadi penolong separoh agama untukmu dan suamimu, dan abangku jadilah engkau suami yang bisa menjadikan istrimu menjadi jalan penyempurna imanmu, dan berbahagialah engkau wahai kakak dan abangku dalam sebuah Jalinan Mihrob Cinta
Dari Adinda Rizki Tercinta










