Mengambil Peran
Hmm something wrong on instagram. Ada hal-hal yang bikin aku sedih dan down. Kejadiannya berkali-kali dalam waktu dekat, tentang gimana perlakukan orang-orang padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk deactive instagram. Walaupun berkali-kali meyakinkan diri bahwa orang-orang tersebut punya masalah dengan diri mereka sendiri, bukan aku. Kalau mereka melakukan hal-hal yang menyakitiku, itu berarti ada perkara dalam hati mereka. Tapi tetap aja ke akunya bikin nggak nyaman.
Ini cukup menghambat peranku sebagai semacam content creator dengan misi sebagai servant of Allah. Sedih rasanya kalau hal-hal kecil gini aja bisa bikin aku berhenti. Tapi aku ingat perkataan seorang perempuan bernama Aletta, "kalau mau berbuat baik tuh ya berbuat baik aja. Kalau mau nolong orang tuh nggak usah ribet lewat apa-lewat apa, langsung aja turun ke jalan! Pasti ada aja orang yang membutuhkan kita."
Mengingat ucapan Aletta, aku jadi tersentak. Media sosial bukan satu-satunya media. Media sesungguhnya justru adalah ketika kita berkontribusi langsung dengan turun ke jalan, ke lapangan, ke umat!
Alhamdulillah, Allah memang tengah memberi kesempatan padaku kali ini. Allah sedang mengirimku ke suatu desa yang semoga dengan hadirnya aku di sini, aku bisa banyak belajar dari mereka yang ada di sini, bukan mereka yang berguru padaku, karena aku paham sekali bahwa aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Hanya sebatas orang yang Allah kirimkan ke sini untuk membersamai anak-anak di sini. Itu tadi, servant of Allah.
Barangkali di sini ada yang pernah menjadi follower Aletta juga? Namanya Aletta Dannyal, kalau tidak salah. Seorang mualaf keturunan China yang sangat menginspirasiku pada setiap postingannya. Beruntungnya, ia punya keluarga yang sangat supportif. Keluarganya tidak menentangnya masuk Islam. Aletta bahkan memutuskan pindah ke kosan kecil dari rumahnya yang mewah, walau masih satu kota (Jakarta) karena di rumahnya mereka memelihara anjing yang dibiarkan berkeliaran dalam rumah. Karena Aletta tidak mau capek karena khawatir terkena najis, akhirnya ia memutuskan menyewa kamar kos kecil agar lebih terjaga kesuciannya untuk beribadah.
Aletta, kira-kira usianya sebaya denganku, menggunakan cadar, dan tentu saja cerdas. Hal ini terlihat dari bagaimana caranya menyampaikan dakwah di media sosial.
Sayangnya, sekitar dua tahun belakangan ini, akunnya sudah tidak muncul di kolom pencarian. Mungkin ia meng-deactive-kan instagramnya. Padahal orang seperti aku ini, selalu menunggu postingannya. Aku sering dibuat takjub dengan pemikirannya. Rasa-rasanya ia seperti bukan seorang mualaf, sebab bagaimana dia mendalami peran sebagai seorang Muslimah itu terasa sangat nyata melebihi kita-kita yang sudah sejak lahir menjadi seorang Muslim.
Kabar terakhir dari Aletta, waktu itu dia mengabarkan baru saja tiba di suatu pondok pesantren di daerah Jawa Tengah. Aku menangkap maksud bahwa sepertinya ia hendak memperdalam ilmu agama Islam, terutama Al-Qur'an.
Entah bagaimana kabarnya sekarang, tetapi Aletta, terima kasih banyak. Terima kasih karena sudah begitu banyak mengubah pola pikirku, juga memberikan pandangan-pandangan tentang kebaikan yang tidak pernah kujangkau keberadaannya sebelumnya.
Satu postingan Aletta yang berhasil kuabadikan sebelum akunnya menghilang adalah berikut ini, postingan yang menampar hati:
"Jangan pernah kita merasa layak untuk dicintai hanya karena kita berbuat sesuatu untuknya.
Jangan pernah kita merasa layak mendampinginya hanya karena kita khawatir dengannya melebihi kekhawatiran pada diri kita sendiri.
Jangan pernah mengira apapun yang sudah kita buat itu bisa membahagiakannya.
Karena sebenarnya bisa jadi ia tidak butuh itu semua. Ia hanya butuh orang lain yang berbuat satu dibandingkan kita yang berbuat sepuluh."
-@alettadanyall
Dan mungkin, boleh jadi kini Aletta memilih untuk berkontribusi langsung turun ke lapangan dan meninggalkan media sosialnya. Bagaimana aku tidak takjub? Bukan kepada Aletta, tetapi aku takjub pada Allah yang begitu mampu untuk memberi hidayah pada hati Alletta.
Aletta, barangkali kamu tak sengaja membaca ini, karena takdir Allah bisa saja, kan?
Aku ingin bilang terima kasih dan sejujurnya aku masih menunggu pemikiran-pemikiranmu yang lainnya. Sudah cukup lama kamu hengkang dari dunia media sosial kan, Aletta? Pasti ada begitu banyak cerita dan pengalaman yang kamu dapatkan selama ini. Semoga istiqamah. Tidak ada yang tidak mungkin dengan takdir yang Allah tetapkan, bisa saja suatu saat kita bertemu. Semoga tujuan kita sama, ah tentu saja sama! Kamu mengerti maksudku, kan?
Jadi, semoga kita bertemu di perjalanan, ya!
Yk, 12 Feb 2021 | 19.30 | @wedangrondehangat












