Music is nothing but Mind Under Supervision of Invariable Consciousness If you vary on thoughts while you play practice or perform, then you're not doing real music!
Nithyamusic

seen from Germany

seen from Norway
seen from France

seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from Israel
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Ecuador
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from France
seen from Saudi Arabia

seen from Kazakhstan

seen from France
seen from China
Music is nothing but Mind Under Supervision of Invariable Consciousness If you vary on thoughts while you play practice or perform, then you're not doing real music!
Nithyamusic
Hiatus
Perihal Jeda di Musik Frau
Dalam "Mesin Penenun Hujan" dan "Tarian Sari", single dari album pertama dan kedua, Frau selalu mengambil jeda 6-7 detik setelah intro. Setelah kosong itu, Frau--alter ego dari Leilani Hermiasih--baru mulai mendendangkan liriknya.
Tentang jeda ini, di sela gladi resik untuk konser peluncuran album keduanya, Happy Coda, Lani berseloroh, "Ini aku kasih tahu sebuah rahasia." Dengan logat Jogja-nya yang kental, dia menjelaskan bahwa dia selalu merasa merinding ketika harus henti sejenak setelah memainkan intro sekian bar itu. "Aku 'ndak tau selalu merinding gitu lho di belakang setelah neng-nong-neng-nong," ujarnya sambil menirukan intro "Mesin Penenun Hujan" dan "Tarian Sari."
Ada ketakutan yang selalu dirasakan Lani untuk melanjutkan lagunya setelah intro. Tubuhnya bergetar. Konsentrasinya seringkali terganggu. "Gimana kalau tiba-tiba nyanyinya salah kunci. Kan 'ndak lucu," tukasnya.
Tak hanya di lagu, Frau juga mengambil jeda dalam proses penciptaan karyanya--hiatus yang cukup panjang. Setelah debut pertamanya lewat Starlit Carousel pada medio 2010, Frau baru muncul kembali pada tahun ini lewat album Happy Coda. Dalam pengakuannya, seperti dikutip Felix Dass di liner notes untuk album Happy Coda, jeda bermusiknya terpotong kesibukan lain. Fokus pada urusan studi disebut-sebut sebagai alasan yang utama.
Tapi hiatus-nya tak pernah sesederhana itu. Dalam kisah Frau, berada di dunia musik, bukanlah berada di ruang yang cliché. Ada banyak "ketuk panggil berbunyi dari pintu depan berulang kali" dan membuatnya harus mengintip untuk kemudian mengizinkan tamunya masuk atau justru mengunci pintu. Ada banyak arahan angin dan cahaya matahari menelusup jendela yang harus dirasakan dengan baik, dipetakan dengan bijak, kemudian diikuti atau dilawan.
Terus berada di ruang itu, ternyata, membuatnya merasa musik begitu membosankan dan tidak menawarkan hal segar yang membuatnya hidup sebagai manusia. Ada masa dimana dia merasa kecewa dengan panggung, tidak menikmati berada di atas panggung, dan membuatnya berkesimpulan, "saya tidak suka lama-lama di atas panggung, makanya lagu saya tidak lebih dari empat menit." Karena itu, dia memilih untuk menghilang, melakukan banyak hal lain yang lebih memberikan arti.
Delapan lagu di Happy Coda secara jelas mewakili masa-masa hiatus itu. Happy Coda merekam perasaan-perasaan yang sama ketika Frau mengambil jeda setelah intro pada "Mesin Penenun Hujan" dan "Tarian Sari": perenungan, kebimbangan, ketakutan, kehilangan konsentrasi, kebahagiaan sederhana, dan perasaan kompleks lainnya.
"Tarian Sari" yang menjadi single dan rilis terlebih dahulu dari albumnya menjelaskan keadaan jeda Lani yang dia wakilkan pada sosok Sari. Sari, seorang nenek penari, telah berhenti menari. Namun menari adalah sesuatu yang tak bisa dia tinggalkan. Dia rindu masa jayanya. Dalam perhentiannya, Sari menemukan harapan baru dalam tawa cucunya;
"Sontak, tangan si mungil kepakkan sampurnya menggoda Sari Sari terhenti, tetiba muncul pelangi Dalam tawa si mungil, semua yang-tak-akan berganti yang-akan."
Dalam kebimbangannya, akhirnya Sari memutuskan untuk kembali menari. Dalam kebimbangannya, akhirnya Lani memutuskan untuk kembali bermusik.
"Tarian Sari" memainkan langgam khas tradisional, baik pada melodi maupun lantunan vokalnya. Karenanya, lagu ini menonjol dari nomor lainnya dalam Happy Coda. Di beberapa lagu, seperti "Empat Satu" dan "Mr. Wolf," beberapa bridge, outro, dan humming masih sangat kental terasa Regina Spektor dan vokal yang kadang Disney-esque. Namun "playfulness" tetap menjadi benang merah dari permainan pianonya. Apalagi di lagu "Empat Satu" Frau memainkan lirik naratif tentang permainan kartu empat-satu. Liriknya menggambarkan kebimbangannya atas pilihan-pilihan yang akan diambil dalam permainan hidup ini. "Lawan-lawanmu t’lah mulai menabung kartu yang diimpikan/ Bagaimana denganmu Tuan, apa hanya mendapat sisa?"
Papermoon Puppet Theatre menafsir "Empat Satu" dalam lakon
"Water" adalah rangkuman dari perasaan-perasaan pada keadaan jeda Frau. "Water" sekaligus menjadi nyawa dari album ini. Lagu ini merekam kegelisahan Lani yang merasa kehidupannya masih mengambang. Sementara kehidupan perempuan lain yang seusianya terus mengalir.
"Your waves ride high, while mine are low You head to sea, you're sailing free I'm living fate, I will not roam."
Lani belum beranjak. Lani belum tahu kemana dia akan pergi. Lani belum punya tujuan yang teramat pasti. Namun Lani menikmati keadaan ini dan masih merasa bahagia. "Happy Coda adalah tentang kebahagian-kebahagiaan sederhana," ujar Lani. Tentang pelagu yang ingin mengeksplor kemampuan-kemampuannya lebih jauh dalam "Something More." Tentang pertemuan-pertemuan seru suatu pasangan dalam "Mr. Wolf." Tentang kekhawatiran seorang ibu terhadap perubahan sikap anaknya dalam "Suspense." Serta juga tentang pria kantoran yang hidupnya dianggap membosankan dalam "Whisper". "His office may seem like a boredom to us/ But it’s his sweet dear lullabye." Lagu-lagu tersebut merekam kebahagiaan masing-masing yang tidak semua orang bisa merasakannya.
"Happiness doesn’t take its time to judge Who should get its taste Water flows in us as our souls are filled with joy And tears in our own ways"
"Arah" adalah sebuah kesimpulan. "Arah," meski di album berada pada nomor 6, dimainkan sebagai penutup dari konsernya yang pertama dan terakhir di tahun 2013 ini. Dengan mengalunkan adagio, "Arah" menyampaikan nuansa jerih payah yang usai.
"Genggam lelahku di tangan-Mu// Agar lengkap sudah diriku/ untuk-Mu."
Selesai sudah tanggung jawabnya menyelesaikan apa yang telah dia mulai beberapa tahun lalu. “Membuat album adalah sebuah usaha untuk tetap menjawab dorongan kuat dari salah satu bagian diri saya yang selalu minta diperhatikan. Happy Coda adalah perwujudan dari semua hal itu. Tetap memproduksi musik memberikan keseimbangan bagi pribadi saya,” tutur Frau tentang bagaimana musik mengambil peran penting dalam kesehariannya.
Hiatus Frau sudah berakhir. Frau kembali melanjutkan perjalanan musiknya meski dengan keputusannya untuk mundur perlahan dari aktivitas panggung. Tapi mungkin Frau akan tetap mencipta lagu di sela kesibukannya melanjutkan studi S2 Social Anthropology di Queen’s University Belfast, Irlandia Utara. Semoga.
September, 2013
Frau - Suspes (Happy Coda's Album)
"Datarnya itu menyimpan sekarut makna, kembalikan lagi dia oh Dewata"
T'rimakasih oh Dewata
Terimakasih mba Lani untuk syair dan nadanya. Lagunya saya izin posting di tumblr saya ya mba .. :)