Harga Teman Mematikan Teman
Era digital memunculkan banyak jenis pekerjaan baru yang masih asing di masyarakat Indonesia. Sebut saja content creator, Ilustrator, komikus digital, social media planner, dan lain sebagainya. Banyak dari bidang pekerjaan tersebut yang semula merupakan hobi yang kemudian menjadi ladang uang. Namun pada kenyataannya masih banyak dari masyarakat kita yang menganggap remeh pekerjaan tersebut dan belum menghargainya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya konsumen yang meminta ‘harga teman’ pada prosudennya.
Mungkin terlihat remeh temeh, namun hal ini dapat berdampak serius pada produsen. Sebagai seorang produsen, karya adalah barang dagangan. Untuk sekilas ‘harga teman’ tidak begitu merugikan, namun dari sudut pandang produsen ini menjadi masalah yang serius. Mungkin secara material tidak begitu terlihat tapi jika kita menilik bagaimana para produsen telah mencurahkan pikiran, tenaga, dan waktu mereka untuk membuat karya tersebut. Semua pikiran, tenaga, dan waktu tersebut jika dicurahkan untuk mebuat karya lain mungkin akan menambah pundi-pundi uang yang datang, daripada mengurus karya yang dibeli dengan harga teman.
Jika ditarik lebih jauh lagi, ‘harga teman’ ini dapat mengakibatkan para produsen gulung tikar. Tidak hanya secara finansial, ‘harga teman’ ini juga berpotensi merusak pertemanan yang ada. Mungkin ‘harga teman’ tidak menjadi masalah jika hal tersebut ditawarkan oleh produsen dengan suka rela, namun menjadi hal yang tabu jika konsumen yang memintanya. Jika memang kita mengaku sebagai teman hendaknya lebih mengapresiasi karya mereka dengan memberikan uang lebih kepada mereka.











