Seorang perempuan tua terduduk di teras sebuah rumah yang terbuat dari susunan kayu tua, atapnya adalah genteng tua yang beberapa darinya sudah hitam dan berlumut. Di antara rongga-rongga atapnya, kamu dapat menemukan sarang burung gereja dan beberapa kelelawar yang masih terlelap. Tiang-tiang penyangga rumah itu nampaknya telah lapuk bersamaan dengan usia janda tua itu. Tidak begitu jelas apa yang dipikirkan olehnya, daun tembakau yang kering dan daun sirih di pangkuannya adalah sebuah bahan bakar untuk mesin di mulutnya untuk tidak berhenti bergerak, menginang. Bibir merah itu masih saja menginang, meski giginya telah tinggal seberapa, tak pelak membuatnya berhenti untuk menikmatinya.
“Sugeng siang Mbah.” Sapa seorang pemuda berperawakan kurus namun, terlihat otot-otot di tangannya. Kulitnya hitam legam, sering bergumul dengan panasnya matahari.
Si janda tua hanya mengangguk, pemuda itu mengingatkannya atas suaminya yang telah lama hilang, meski dahulu suaminya lebih tampan dari pemuda itu, suaminya sedikit kuning dan memakai pakaian perlente. Lalu seketika pikirannya terbang melintasi waktu yang telah berpuluh tahun, mengorek semua ingatan yang telah menempel di otaknya. Di saat dia masih menjadi seorang sinden remaja yang memesona, di mata seorang dalang, dia adalah perwujudan dari Dewi Sri, mungkin bukan sebuah kebetulan juga jika dia memiliki nama Sriti. Sriti dilahirkan di sebuah pedukuhan kecil. Orang tua Sriti memiliki harapan bahwa dia akan mampu terbang tinggi dan lama. Ketika Sriti kecil beranjak tidur, emaknya tak pernah lupa untuk menembang untuk menghantarkan tidurnya. Ajaran dari kedua orang tua ini yang kemudian menjadikan Sriti jatuh cinta dengan budaya Jawa yang adigung, adiluhung, dan adiguna. Saat Sriti masuk dalam sebuah pagelaran, banyak lelaki yang rela menempuh perjalanan jauh demi melihatnya menyinden.
31 Juli 1961, Sriti dan rombongan wayangnya, mendapat sebuah surat dari seorang tumenggung. Surat itu diberikan oleh seorang ajudan, yang kemudian menjelaskan bahwa ada sebuah acara di pendopo alun-alun dan kelompok itu didaulat untuk membawakan sebuah lakon pewayangan.
17 Agustus 1961, Sriti dan kelompoknya mementaskan pewayangan di depan para pejabat tinggi dan ratusan warga Temanggung. Sebuah pergelaran yang luar biasa megah. Di antara ratusan warga tersebut, seorang pemuda gagah berpenampilan necis dengan dasi kupu-kupu merah yang mencolok, pemuda itu bernama Bagyo. Selayaknya pemuda yang lain, Bagyo juga terpesona dengan kecantikan Sriti. Bagaimana tidak? Kemben hijau yang Sriti kenakan begitu anggun, payudaranya yang ranum dan subur, tak kalah dengan Sumbing dan Sindoro, sanggulnya tinggi menampakkan lehernya yang kuning langsat, hampir menyerupai padi yang siap dipetik. Setelah pergelaran berakhir, Bagyo memberanikan diri untuk menemui Sriti. Lalu takdir yang membuat keduanya jatuh dalam buaian kidung Asmarandana dan ikatan pernikahan.
Keduanya hidup dengan kebahagiaan. Sebuah rumah sederhana, dengan perabotan yang saat itu bisa dibilang mewah. Pasangan muda ini sering kali berdansa diiringi lagu romantis dari gramofon di saat senja. Namun, keduanya melupakan gelap yang hampir tiba.
10 Oktober 1965, riuh sepatu lars yang dihentakkan secara bersamaan terdengar begitu mengusik sepi. Jangkrik yang biasanya mengisi malam, takut untuk bersuara. Sekelompok orang itu menuju rumah Sriti. Mendobrak pintu depan, mengangetkan dua sejoli yang tengah bergumul di atas ranjang mereka. Kemudian sekelompok orang itu masuk ke kamar sepasang suami istri tersebut, dua bilah bedil sudah ada di hadapan Bagyo, dan satu bedil mengarah di muka Sriti. Sementara tentara yang lain sibuk menggeledah dan mengobrak-abrik rumah kecil itu.
“Ada apa ini?” Bagyo bertanya kepada para tentara.
“Dasar penghianat! Masih saja bertingkah polos ya?” teriak lantang sang komandan pasukan seraya memukul Bagyo dengan gagang bedil, darah segar mengucur dari pelipisnya. Darah Bagyo mengingatkan Sriti pada dasi kupu-kupu merah kesukaan Bagyo.
“Lapor komandan, saya menemukan sebuah bukti.” Seorang tentara membawa buku berwarna merah bergambar dua lelaki yang memiliki kumis dan jenggot tebal.
“Hahahaha! Mau mengelak apa lagi kau penghianat?!” teriak komandan kepada Bagyo, disertai tendangan telak di perut Bagyo. Tubuh Bagyo tak kuasa menahan hentakan sepatu lars, seketika ia muntah dan tumbang. Bagyo yang sudah tidak sadar diangkat oleh dua tentara yang sedari tadi menodongkan bedil di mukanya.
“Tolong jangan bawa Mas Bagyo. Dia tidak punya salah, apalagi sampai berkhianat.” Sriti memohon dan bersujud kepada komandan.
“Diam kamu! Masih untung kamu tidak ikut kami bawa.” Sang komandan mendorong pundak Sriti agar menjauh dari kakinya kemudian pergi keluar, Sementara itu, Bagyo diseret menuju kegelapan malam. Tinggallah Sriti yang hanya bisa mengiba kepada malam. Malam kembali hening, hanya isak tangis Sriti yang terdengar.
Sriti tua masih saja menginang, bukan salahnya jika ingatannya tidak begitu kuat. Sriti tua terjangkit pikun. Di dalam rumah tua itu terdapat sebuah foto, seorang perempuan remaja berkebaya hijau yang cantik dan tengah duduk di pelaminan dengan seorang Dalang dari rombongan wayang Sriti.