pada hari minggu
Okeh, sekarang hari minggu di bulan oktober. Langit mulai mendung dan aku sudah makan siang tadi siang. Oh ternyata ini menuju sore dan sebentar lagi mau malam. Sekarang aku sedang berbaring di tempat tidur dan sedang nyaman, seolah aku berkata “jangan ganggu aku dan kamarku !”. Terderang suara gemuruh di atas genteng. Akankah hujan ? entahlah, kurasa iya.
Aku masih terdiam di tempat tidur ini, jika digambarkan ya seperti begitulah tampaknya. Seperti tempat tidur biasa yang cukup untuk satu orang. Tempat tidur itu aku bikin sendiri dibantu dengan ayahku yang seotang lelaki jantan. Aku ingin tempat tidur yang beukuran kecil agar aku gak bisa tidur bersama banyak orang. Terlalu sempit jika itu dipaksakan.
Kurasa bumi masih berputar pada porosna. Aku salut kepada bumi, mengapa ? karena dia gak pernah pusing padahal kalo pusing kan gak ada obatnya. Nanti jadinya kan ribet, nyusahin planet lain.
Matahari gak terlihat di kamarku, mungkin jika diluar sana bisa jadi terlihat dan silau. Tapi buat apa ? mending minum air biar gak haus. Sesekali aku menengok ke bawah ranjang, barangkali ada uang banyak buat bisa nelaktir diri sendiri.
Terkadang juga aku berkedip, hanya memastikan aku masih berkedip. Dan aku sering bernafas entah berapa kali, aku sengaja enggak menghitungnya karna bagiku gak ada gunanya. Lagi pula aku bukan peneliti, jika iya pun aku seorang peneliti, aku au nyuruh orang buat menelitinya biar aku bisa mempekerjakan orang dan gak nganggur. Ya, banyak pengangguran yang gak mau kerja, memang begitu nyatanya, jika iya pun bekerja namanya udah bukan pengangguran lagi.
Aku sempat minum air putih beberapa gelas karena aku tadi kehausan setelah makan gorengan yang mulai dingin. Rasa air putih itu keren, kenapa keren ? karena aku yang meminumnya. Gelas yang digunakan juga keren karena trasparan, jadi seolah aku meminumnya tanpa gelas. Mungkin begitu.
Barusan ada yang mebuka pintu kamarku, beraninya dia. Oh, ternyata itu adikku yang terkhir, entah apa tujuannya membuka pintu dan berkata “Eeeehhh”. Itu maksudnya apa coba ? pintunya juga gak ngerti apa maksudnya. Mungkin bermaksud membuka pintu tanpa maksud. Mungki pintunya juga bermaksud untuk membukanya. Pada intinya begitu, gak ada maksud apapa dari adikku maupun dari pintunya itu sendiri.
Aku ngin terbang, tapi gak jadi, gak ada yang ngajakin. Lagi pula aku gak mau terbang, takut disangka burung. Tanpa disadari aku punya burung dan itu gak perlu aku jelaskan jenisnya. Semoga aku bisa merawatnya dengan baik dan suatu saat aku akan melepaskannya biar punya banyak burung dan banyak sangkar.
Sunnguh, ini hari minggu yang keren, sebab aku bisa tiduran sambil nulis ini. Biasanya pada hari minggu aku ikut ayah ke kota, naik delman istimewa lalu aku duduk samping pa kusir yang bukan pengangguran. Dia dengan senang mengendarai delmannya. Suara sepatu kuda itu menggangguku, suaranya jadi aneh, kaya yang berlari di atas lumpur. Oh, aku salah ikut. Harusnya aku ikut ke ayah ke kota tapi aku malah ikut petani buat tandur, pantesan kakiku basah. Hmmmm...yaudah gak apa lah, sekalian ee aja deh. Lagi pula kalo harus nyeritain pulang dulu ke rumah nanti ceritanya bisa panjang, niatnya juga kan mau nulis sampai disini dan bilang dadahhhhhhhh.Dan diakhiri dengan kata terimakasih.
Wassalam...
Salam salaman dari saya, Ketua RT ketuanya.
Bandung, 15 Oktober 2017. Amalas.














