Akhirnya, hampir tiga puluh hari lamanya kau mengirimkan surat-suratku. Dengan sabar pula kau membacanya, dan tak jarang kau menyisipkan komentar pujian akan tulisanku. Pujian adalah ujian bagiku untuk menulis lebih baik lagi. Terima kasih, J. Oh iya, tak mengapa aku memanggilmu hanya dengan “J” saja? Kita memang tak pernah sempat berkenalan, dan teman-temanmu ku lihat juga memanggilmu demikian. Ah, maafkan sifat sok tahu ku ini.
Lalu aku mulai kebingungan untuk menuliskan surat untukmu, seseorang yang tak begitu aku kenal, seseorang yang ku tahu hanya melalui kicauannya di Twitter saja. Tetapi rupanya kau tak begtiu asing bagiku, karena setidaknya ku dapati aku dan kau memiliki setidaknya dua kesamaan. Pertama, darah yang mengalir di dirimu tak hanya berwarna merah, tetapi ada hitam di dalamnya. Ya, kau sama sepertiku, menyukai klub sepak bola yang bermarkas di kota mode di Italia sana. Siapakah pemain idolamu? Apakah juga sama sepertiku, pangeran bernomor punggung dua puluh dua yang kini telah hijrah? Kedua, kau tampaknya juga menyukai remaja yang tubuhnya mengecil karena dipaksa meminum APTX 4869 itu. Aku juga menyukai detektif cilik itu, bahkan dua hal di atas tadi adalah hasil analisis ku yang sok tahu, haha! Bila salah, selagi lagi mohon dimaafkan.
Dan, mengenai surat-suratku yang telah lalu, maafkan aku bila beberapa diantaranya membuatmu terbawa perasaan, aku harap begitu. Dan tak semuanya benar-benar aku alami, kebanyakan hanya karanganku saja. Tapi keberhasilan penulis bukankah berhasil membuat pembacanya terbawa oleh cerita yang dibuatnya? Ya, aku tahu aku bukan dan belum pantas disebut penulis. Ugh!
Ya, barangkali itu saja kesan kesan untuk kang pos yang aku yakin banyak membuat iri para pengirim surat lain yang tak diantar langsung olehmu. Oh iya, di surat ini aku menyisipkan sebuah nama, namaku. Masih ingatkan kau cara membacanya?
Salam kenal, J.