If you keep looking at the Sea (your worries, your problems, your obstacles) it will overwhelm you.
Look instead at the One who can split it in half.
Yasmin Mogahed

roma★
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
tumblr dot com

Janaina Medeiros
🪼
Stranger Things
Misplaced Lens Cap
Claire Keane

Origami Around
taylor price
art blog(derogatory)
Not today Justin

oozey mess

#extradirty

★

PR's Tumblrdome

JBB: An Artblog!

Andulka
Acquired Stardust
DEAR READER
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from Germany
seen from Italy

seen from Argentina
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Brazil

seen from Germany

seen from United States

seen from United Kingdom
@nashalia
If you keep looking at the Sea (your worries, your problems, your obstacles) it will overwhelm you.
Look instead at the One who can split it in half.
Yasmin Mogahed
Jika Anak Bertanya tentang Allah
Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar. Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi “tak mau tahu” alias ignoran, hehehe). Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH . Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya…
Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:
Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?” Tanya 2: “Bu, bentuk Allahitu seperti apa?” Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah? Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana? Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”
Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?
Jawablah :
“Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Tanya 2: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?”
Jangan jawab begini :
“Bentuk Allah itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.
Jawablah begini :
“Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬اۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١)
[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)
Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?
Jangan jawab begini :
Karena Allah itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Jawaban bahwa Allah itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Hadid (57) : 3]
Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.
Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.
Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma (Nama)-dan Af’al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Saw. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.
[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Q.S. An-Najm: 16-17) {ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}
Jawablah begini :
“Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?”
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris )
“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi,Bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”
Atau bisa juga beri jawaban :
Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.
Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan “Melihat Tuhan”.
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?
Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.”
Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana ?“
Jangan jawab begini :
“Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.” Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip Allahu Akbar itu bohong? [baca juga Ukuran Allahu Akbar]
Dia bersemayam di atas ’Arsy. <— Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.
Juga jangan jawab begini :
“Nak, Allah itu ada di mana-mana.”
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.
Jawablah begini :
“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”
“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (Hadis)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 186)
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 115)
Allah sering lho bicara sama kita.. misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)
Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”
Jangan jawab begini :
“Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.”
Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!”
“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)
Jawablah begini :
“Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.
Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)
Katakan juga pada anak:
“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?! (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
“Kenapa, Bu ?”
“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal
Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”
Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Allah. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).
Wallahua’lam.
Sumber : Jika Anak Bertanya tentang Tuhan | Muxlimo’s
Being a mom is a big deal, preparation is a must. Karena nasib peradaban ini dipercayakan pada tangan para ibu.
Go follow @SuperbMother | superbmother.tumblr.com
perempuan yang punya banyak mimpi
kamu tau nggak, perempuan yang punya banyak mimpi itu cantik dan hebat banget kalau dilihat dan dikenal. mereka menarik karena tampak cerdas, karena sekiranya bisa melahirkan dan mendidik anak-anak yang cerdas pula.
kamu tau nggak, perempuan seperti itu, super merepotkan kalau dijadikan pasangan hidup. kalau kamu jatuh cinta sama perempuan yang punya banyak kemauan, kamu harus bersiap-siap.
kamu harus siap menjadi tempatnya bertanya, berbagi cerita, bahkan berkeluh kesah tentang perjalanan mencapai mimpinya. sebab, sungguh tidak ada perjalanan mencapai mimpi yang mudah–meski selama ini kamu melihatnya demikian, bahwa dia penuh dengan kemudahan.
kamu harus siap dan sigap untuk menjadi yang pertama dalam membela mimpinya. menjadi yang percaya saat orang lain tidak. menjadi yang pertama menikmati karya-karyanya. menjadi penggemar yang paling utama dan setia.
kamu harus siap ikut menghidupkan mimpi-mimpinya sebagaimana mimpi-mimpimu sendiri. sungguh, bagi para perempuan seperti itu, kalah pada mimpinya bisa jadi sama menyedihkannya dengan patah hati.
kamu harus siap dengan semua kerepotan itu. bahkan, kamu harus siap untuk berkorban.
perempuan yang punya banyak mimpi itu berisik, merepotkan. tapi, kamu tau nggak, kebanyakan dari mimpi perempuan sebenarnya adalah hadiah untuk orang yang paling disayanginya. kalau kamu merasa pantas untuk mendapatkannya, bersiaplah untuk membantunya merakit hadiah itu.
berkasihlah dan salinglah memberi hadiah, niscaya kalian semakin saling menyayangi.
Puasa Hari 5
Kemarin lupa belum menulis, jadi menulis sekarang. Saya menemukan sebuah pelajaran berharga dalam riset-riset kepenulisan saya :
Salah satu kendala terbesar pertumbuhan kita adalah lingkungan. Dan ini, kutemukan di banyak sekali orang pada saat melakukan riset untuk penulisan cerita-cerita. Tapi, bukannya kemudian tersadar dan bergegas meninggalkan lingkungan tersebut tapi justru merasa sangat nyaman di sana. Kalau dalam istilah psikologi ada namanya Trauma Bonding, lebih ekstrem lagi Stockholm Syndrom atau Cycle of Abuse. Silakan teman-teman pelajari teori dari masing-masing istilah tersebut.
Istilah dalam psikologi tersebut saya buat menjadi sebuah penjabaran yang lebih general, karena ketika belajar teori dari istilah-istilah itu, saya melihat sebuah gambaran yang lebih luas mengapa seseorang, ketika sudah tahu bahwa mereka berada di tempat yang tidak membuat mereka berkembang, menahan mereka, membuat pikiran mereka tidak terbuka, tapi mereka tidak bisa, tidak berani, dan bahkan tidak mau meninggalkannya padahal jelas-jelas itu adalah alasan terbesar dari seluruh masalah hidup yang selama ini dikeluhkannya. Seringkali, saya dapati bahwa solusi dari masalah seseorang itu “sesederhana” perluas pertemanan, bertemanlah dengan orang-orang yang punya pemikiran lebih baik, cari lingkungan yang benar-benar bisa memberikan kita dampak terhadap cara berpikir, cara berperilaku, dan dorongan yang kuat untuk tumbuh. Karena, sempit dan kecilnya cara berpikir tersebut membuat semua permasalahan hidup terasa menjadi sangat berat karena minimnya referensi dan pengetahuan. Bahkan, ditekan oleh lingkungan yang seolah-olah membuat penilaian benar dan salah atas tindakannya. Sehingga membuat orang takut untuk berpikir karena takut salah.
Ketidak mampuan membuat keputusan, menganalisa risiko, memahami sebuah masalah dengan memahami konteksnya, berkomunikasi, memahami struktur masalah dan mencari akar masalah, menyusun strategi, bernegosiasi, dan semua kemampuan yang semakin dibutuhkan saat kita dewasa itu tidak bisa berkembang karena berada di lingkungan tumbuh yang salah. Tapi, pada akhirnya selama saya riset pun. Saya menyadari bahwa, ada saat dimana ada orang minta tolong, kemudian saya berikan semua jawaban terbaik, tapi dia sendiri tidak mau melakukan jawaban itu. Apakah saya akan tetap membantunya? Tidak. Apakah saya bersikap jahat?
Analogi ini semoga tepat: Ada seseorang mau tenggelam di laut kemudian saya lewat dengan kapal, kemudian saya lempar tali beserta pelampungnya agar dia bisa saya tarik, Tapi justru dia sendiri yang memotong tali dan membuat pelampung tersebut bocor. Dalam hidup ini, kita tidak bisa menolong semua orang. Tapi, kita bisa menolong orang yang memang mau ditolong. Akan kamu dapati nanti, orang yang mungkin justru menjadi ketergantungan denganmu saat kamu ingin menolongnya tapi dia sendiri tidak berniat untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia justru merepotkan hidupmu, membuat hidupmu terus dihantui perasaan bersalah kalau tidak membantunya. Dari pelajaran berharga selama riset ini, saya jadi memahami kapan saya harus menolong orang dan orang seperti apa yang memang bisa ditolong hidupnya. Jadi ini juga menjadi pertanyaan refleksi untuk diri kita sendiri, apakah kita mau menolong diri kita, menyelamatkan diri kita dari semua masalah yang sedang kita hadapi, dari kemalasan, dari sempitnya cara berpikir, dari sedikitkan teman-teman yang baik, dari keterkungkungan hidup yang selama ini kita keluhkan? Barangkali, selama ini begitu banyak orang yang sebenarnya ingin membantu kita tapi urung karena kita sendiri terlihat tidak berminat dan enggan bergerak untuk menyelamatkan hidup kita sendiri. ©kurniawangunadi
Tadi siang nggak sengaja dengerin kajian yang ditonton mama di youtube. Nggak tahu penceramahnya siapa, suaranya nggak familiar (berarti bukan penceramah terkenal).
Tapi pesannya MasyaAllah, ngena sekali.
Kira-kira begini katanya,
"Kita melakukan sholat dhuha, tahajjud, tilawah, atau ibadah2 lain agar dari situ Allah kasih rezeki. Kita nggak sadar, padahal rezeki terbesarnya adalah bisa melaksanakan ibadah-ibadah itu... "
Auto nyessss di hati.
Jadi, niat saya beribadah, ada di level mana?
Jangankan ibadah yang berharap untuk kelimpahan rezeki.... Banyaknya malah cuma sekedarnya.. Gugurin kewajiban.....
Ya Allah.... :"""""
Pernahkah kamu menyambut Ramadan dalam kesunyian?
Tak ramai oleh euforia yang kini lebih terasa sebagai repetisi tahunan nan simbolis. Ucapan yang sama, konten media sosial yang serupa, obrolan soal menu makanan berbuka, dan acara penyambutan yang lebih mirip upacara bendera.
Tak bising oleh ceramah kaku dan kering yang tidak membuat hati tersentuh apalagi jatuh cinta. Tak relevan, tak terdengar akrab dalam keseharian, dan tak melibatkan perasaan.
Tak penuh oleh agenda mendengarkan seminar yang narasumbernya gemar sekali berbicara. Seolah-olah makin banyak yang berbicara, pendengarnya akan makin paham (padahal makin tak paham).
Tak terkekang oleh berbagai target yang mengunggulkan kuantitas dibandingkan kualitas. Tentu alasannya karena lebih mudah mengukur kesalihan lewat angka daripada kualitas amal.
Hanya ada kamu dan Ramadan, berdua saja.
Mendalami dan mengalaminya dengan kaki dan tanganmu sendiri.
Menggali dan menemukan sendiri rasa yang tersembunyi.
Sebuah petualangan sunyi untuk mencintai Ramadan.
Sebuah perjalanan spiritual yang tak semua orang mengerti.
:)
#selfreminder
Untukmu diri,
Sering-seringlah bertanya apa kabar imanmu?
Pernahkah begitu nelangsa terbangun di kala adzan shubuh sudah berkumandang. Hilang sudah kesempatan untuk tunduk sujud bermesraan di sepertiga malam.
Kemudian, tergesa-gesa membersihkan diri untuk menuju masjid. Sesampainya di sana, iqamah pun sudah selesai dikumandangkan. Hampir saja menjadi masbuk, dan tentu saja dua rakaat sebelum shubuh hanya menjadi angan. Hilang sudah kesempatan memiliki dunia dan seisinya.
Pernah tidak begitu sebal karena lupa menyempatkan diri untuk menunaikan shalat dhuha di sela-sela aktivitas kerja. Atau benar-benar tidak memiliki kesempatan, karena sebuah perjalanan jauh, terjebak macet, atau terjebak di dalam sebuah meeting di pagi hari. Hilang sudah makna menjemput rezeki yang sesungguhnya.
Pernah tidak begitu malu di kala mengajak teman-teman untuk pergi ke kantin, demi untuk memenuhi keinginan perut. Sudah waktunya makan siang. Tapi, beberapa orang menolak dengan sopan karena sedang berpuasa sunnah. Sedangkan kamu sendiri sampai lupa hari, ini rabu atau kamis. Mereka lebih memilih mengisi jam istirahat bertadarus menggenapi onedayonejuz.
Kemudian, jum'at ke jum'at selalu terlewati begitu saja tanpa Al-kahfi, tanpa shalawat. Begitu merasa nelangsa melihat orang lain selalu bisa menyempatkan waktu untuk berlomba-lomba menambah pundi-pundi kebaikan.
Padahal satu harinya sama 24 jam. Pun sama dengan kesibukannya. Pun sama nikmat sehatnya. Dan dirimu bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuat jadi berbeda?
Keberkahan waktu.
Dan perasaan nikmat beribadah kepada-Mu.
Pernahkah senelangsa itu harimu? atau rasanya biasa saja, tidak merasa rugi apa-apa.
Untukmu diri,
Sering-seringlah menanyakan apa kabar imanmu?
Sepanjang waktu, agar tidak semakin jauh dirimu tertinggal.
@quotezie
:”(
Perempuan Berjuta Mimpi
Kalau nanti kamu memilihnya untuk menjadi teman hidupmu, maka kamu harus siap untuk menyelaraskan mimpi-mimpimu dengan mimpi-mimpinya.
Kamu sudah tentu punya alasan memilihnya, sebab barangkali alasan terkuat adalah kelak anak-anakmu akan dibesarkan dua orang yang sama-sama memiliki mimpi yang kuat, agar mereka kelak menjadi pribadi yang kuat.
Kamu harus tahu, bahwa dia barangkali tidak seperti kebanyakan perempuan. Dia yang tetap tak kenal menyerah dengan mimpi-mimpinya sekalipun tanggungjawabnya kini telah bertambah. Dia yang akan tetap memperjuangkan walau rasa-rasanya kemungkinannya 1 berbanding sejuta.
Nanti, kamu harus siap menjadi pundak pertama bagi dia. Saat ada air matanya yang tertumpah manakala ia gagal. Kamu harus menjadi yang pertama mengucapkan selamat untuknya saat ia berhasil. Kamu harus menggenggam erat tangannya saat ia mulai menapaki mimpinya.
Kamu pun harus siap berkorban sebagaimana ia berkorban atas mimpimu. Ia memang tangguh, tapi tetaplah ia seorang perempuan, yang tercipta dari tulang rusukmu yang bengkok. Ia tetap saja membutuhkanmu untuk bersandar, tidak boleh kau lepas sendirian.
Mungkin kelak kamu akan jauh lebih lelah, tapi lihat senyumnya saat nanti kamu membersamainya. Senyum tulusnya untukmu, sebab dalam ketercapaian mimpi-mimpinya, kamu lah yang nanti akan senantiasa diingat olehnya. Dalam setiap mimpi-mimpinya, ada doa untuk anak-anak yang kamu besarkan bersama agar kelak ia menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Dalam setiap jalan terjal mimpinya, ada doanya untukmu yang senantiasa sabar dalam membimbingnya.
Perempuan dengan berjuta mimpi, terdengar penuh ambisi, padahal mimpi itu hakikatnya kelak untuk membuktikan baktinya kepada seseorang yang dia cintai.
Surabaya, 17 11 2020 00.17
Tanpa Syarat
Barangkali di antara teman-teman kita, satu atau dua orang ada yang memiliki sifat selalu ingin mengomentari apa-apa yang ia lihat, apa-apa yang ia dengar. Sedikit-sedikit, ada saja komentarnya. Baik memang itu penting atau lebih seringnya tidak membawa manfaat apa-apa.
Dan pernah tidak di waktu-waktu tertentu, justru kamu bersyukur, karena komentarnya itu tiba-tiba saja membuka pemahaman baru. Sudut pandang yang lebih baik. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehmu.
Jum'at ke jum'at pesan taqwa itu tersampaikan kepada laki-laki soleh yang lebih memilih menjaga imannya untuk mendengarkan dua khutbah, melaksanakan shalat jum'at. Dibanding masih berkutat dengan kesibukan dunia, seolah-olah akan rugi banyak, bila menunda pekerjaannya itu. Padahal tidak lebih dari 1 jam lamanya untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Memperbaharui taqwa, kemudian setelah itu bebas kembali bertebaran di muka bumi ini.
Di antara laki-laki soleh itu, ada dua pemuda yang masih duduk santai di teras masjid. Kalau hari jum’at memang jam istirahatnya lebih panjang dari hari-hari yang lain.
"Kenapa, Sob? Kok sepertinya ruwet sekali pikiranmu?“ Tanya Jim kepada Tahsin yang sejak tadi terlihat gelisah memikirkan sesuatu.
"Ooh, bukan apa-apa, Bro. Lagi nggak habis pikir saja dengan manajemen masjid ini.” Jawab Tahsin dengan sedikit helaan napas.
"Maksudmu? Memang apa yang aneh?“ Jim mengerutkan dahinya, sedikit penasaran. Ia paham benar dengan tabiat temannya itu, kalau ada sesuatu yang dirasa kurang pas dengan pemikirannya, sesuatu itu bisa jadi ‘ganjalan’ yang cukup berat untuk hatinya. Seperti ada yang harus segera diluruskan. Meski seringnya itu hanya kerumitan pikirannya sendiri.
"Itu loh, kamu dengar kan tadi ya, kalau saldo kas masjid ini ada puluhan juta. Tapi, kok kemakmuran masjidnya nggak terawat begini. Misal, kran-kran di tempat wudhunya saja pada rusak. Aku lihat ada lebih dari tiga kran yang nggak berfungsi sama sekali. Padahal, berapa sih harga kran?” Tahsin mengeluarkan unek-uneknya.
"Oooh, maksudmu kenapa saldo kas banyak, tapi nggak dipakai untuk mengganti yang anggarannya nggak butuh banyak keluar uang gitu, ya?“
"Betul, Sob.” Tahsin menyungging senyum karena temannya mengerti dengan apa yang ia maksudkan.
"Oalaaah… pantas tadi aku perhatikan kamu ragu-ragu waktu mau masukin uang ke keropak.“ Kotak amal itu sempat lama terhenti di depan Tahsin, tapi tidak ada selembar uang pun yang masuk ke dalamnya.
"Ya, aku pikir lebih baik infak ke tempat lain daripada di sini yang ujungnya hanya jadi saldo. Nggak dimanfaatkan dengan baik. Benar toh? Seharusnya kan bukan jadi tabungan kas.”
"Sebelum aku menanggapi komentarmu itu, boleh aku tanya dulu. Kamu niat infak berapa memang tadi?“ Jim menyeringai.
"Umm…” Tahsin ragu-ragu.
"Hehe… becanda, Sob. Nggak perlu dijawab.” Jim membenarkan posisi duduknya karena mulai kesemutan. “Aku mau cerita nih, semoga ceritaku ini bisa meringankan unek-unekmu itu.”
Tahsin juga membenarkan posisi duduknya, terlihat antusias.
“Begini, dulu ketika masjid ini sempat di renovasi. Kebetulan aku ini ikut bantu-bantu. Waktu kami pada sibuk mengecor, mengaduk semen dan sebagainya, tiba-tiba ada Pak Tua yang menghampiri DKM masjid ini. Mereka mengobrol lama dan terlihat cukup serius. Pak Tua itu bertanya kepada DKM apa yang sekiranya ia bisa bantu untuk pembangunan masjid ini. Membantu tenaga Pak Tua merasa nggak akan mampu, membeli semen dan benda material lain pun rasanya berat untuk ukuran pendapatannya sehari-hari. Tapi, Pak Tua itu ingin sekali punya andil dalam pembangunan masjid ini. Ia juga ingin punya rumah di surga nanti meskipun sederhana.”
“DKM masjid ini pun sempat bingung menjawab pertanyaan si Pak Tua. Di sisi lain DKM nggak tega menolak keinginan tulus itu. Singkat cerita akhirnya DKM masjid ini mengusulkan agar Pak Tua membantu menyediakan kran masjid ini saja, kebetulan saat itu memang sudah ada yang pedalnya patah.”
“Mbah keberatan nggak kalau membantu membelikan kran satu atau dua buah? Nggak perlu yang harganya mahal, yang biasa saja. Insya Allah, kran itu akan berfungsi dengan baik dan membantu orang-orang yang akan bersuci sebelum menunaikan shalat.” Begitu kata DKM masjid ini.
“Boleh, Ustadz. Mbah, bersedia.” Cukup lama Pak Tua itu menimbang-nimbang keputusannya. “Kalau sudah ada nanti krannya mbah bawa ke sini. Terima kasih, Ustadz.”
Tahsin menghela napas, masih mendengarkan dengan baik cerita Jim.
“Sejak itulah, masjid ini seperti punya ‘donatur’ tetap untuk penggantian kran-krannya kalau rusak. Makanya, kalau diperhatikan kran-kran di tempat wudhu nggak seragam warnanya, alias warna-warni. Nah, hari ini kamu masih melihat ada kran yang belum diganti, mungkin karena tabungan si Pak Tua itu belum cukup.”
Tahsin mengangguk mulai mengerti ceritanya.
“Kau tahu nggak, siapa Pak Tua yang aku maksud di cerita ini, Sob?”
“Iya, siapa, Bro? Sejujurnya sejak tadi aku sudah penasaran ingin menanyakan hal itu.”
“Kau tahu kan, Pak Tua yang berjualan tissue di pintu masuk stasiun Bojong Gede?”
“Oh iya, Pak Tua yang itu. Aku pernah membeli tissue-nya beberapa kali.” Tahsin ingat betul dengan Pak Tua yang dimaksud. Karena hampir setiap hari ia melihatnya.
“Nah, Pak Tua itu yang aku maksud. Ia setiap hari berjualan tissue seharga dua ribu perak. Sebagian keuntungannya ia tabung untuk membeli kran untuk masjid ini. Sisanya ia gunakan untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Nggak besar-besar amat kan pastinya keuntungannya? Tapi Pak Tua telaten untuk menabung.”
Tahsin tiba-tiba merasa takjub. Tidak menyangka sama sekali.
“Memang benar setiap jum’at, kas masjid ini selalu dilaporkan saldonya puluhan juta. Tapi, aku tahu betul amanah infak jama’ah Masjid ini disalurkannya dengan baik. Salah satunya, pengurus DKM punya data anak-anak yatim piatu yang masih perlu biaya sekolah, sekaligus memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Ada ratusan anak. Salah satunya, cucu dari Pak Tua itu. Ia hanya tinggal berdua dengan cucu yang usianya baru 10 Tahun. Namanya Alif. Anaknya cerdas dan kalau nggak salah sudah hafal 15 juz.”
“DKM Masjid ini pernah cerita kalau sebenarnya saldo kas infak dari jama’ah selalu nyaris nol kalau sudah hari kamis. Di salurkan ke yang memang membutuhkan. Sesuai dengan yang sudah dianggarkan tiap minggunya. Tentu saja juga digunakan untuk perawatan masjid besar ini.” Jim menjeda ceritanya sejenak. “Tapi, berkahnya Masya Allah, setiap jum’at malam selalu saja masuk lagi infak baru ke rekening Masjid ataupun di antar langsung ke rumah DKM. Makanya jangan heran kalau setiap jum’at yang dilaporkan saldo kas masih puluhan juta.”
“Tapi, kenapa nggak pernah di umumkan rincian pengeluarannya, ya?”
“Untuk apa? Menurutku nggak perlu-perlu banget hal yang itu dibacakan, selain butuh waktu dan bisa mengganggu yang sedang berdzikir, shalat sunnah dan sebagainya. Kalau soal rincian lengkapnya sebenarnya selalu dipasang di papan pengumuman masjid. Kitanya saja yang kadang acuh, nggak tertarik untuk membaca pengumumannya.”
Tahsin mengangguk, ia mengakui termasuk jama’ah masjid ini yang tidak pernah mampir untuk melihat-lihat mading.
“Hanya soal pergantian kran yang rusak saja yang nggak pernah menggunakan uang kas, karena DKM masjid ini ingin menghormati dan menjaga azam Pak Tua untuk berinfak membantu kemakmuran masjid. Jadi, meskipun sudah rusak berhari-hari, kran tersebut belum juga diganti. Begitu ceritanya, Sob.”
Tahsin terenyuh. Mulai terbuka pikirannya dengan sudut pandang yang baru. Tanpa Jim katakan pun ia mulai paham, bahwa infak itu sudah seharusnya tanpa syarat apa-apa.
Jum’at ke Jum’at pesan taqwa itu menjadi pengingat kita semua. Taqwa dalam artian menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya.
Perintah dalam artian sepenuh yakin dengan ketetapan Allah. Infak itu termasuk perintah-Nya. Dan larangan-Nya dalam artian berprasangka buruk kepada-Nya. Dengan terus bertanya-tanya apa yang sudah kita keluarkan, takut-takut tidak disalurkan dengan baik.
Maka, sudah seharusnya infak itu tanpa syarat apa-apa. Selebihnya biarkan skenario Allah bekerja dengan kebijaksanaan-Nya. Biarkan Allah yang mengatur dengan keindahan cerita dibaliknya. @azurazie_
:”)
I’m so used to wondering if I’m not good enough, not working hard enough, not doing enough, that it’s honestly a shock to ask myself- what if I am? With a bit of effort, we can start flipping the script a little and give ourselves the confidence to believe we can do it! >: )
Chibird store | Positive Pin Club | Webtoon
Ketika luar biasa jadi rebutan banyak kepala, mungkin menjadi orang biasa tak seburuk yang kukira.
Justru lebih menenangkan. Ngga repot mikirin omongan orang asing. Ngga dikit-dikit cemas sama respons orang lain. Bisa hidup lebih mindful.
Yakin Sudah Menang?
Karena hakikat kemenangan adalah bukan sekedar kita terlahir kembali pasca perjuangan penuh di Bulan Ramadhan, namun bagaimana kita tetap mempertahankannya hingga 11 bulan mendatang.
Pertanyaan yang sudah seharusnya kita ulang-ulang di malam takbiran ini. Yakin kita sudah menang? Memang seperti apa definisi menang? Apakah ibadah kita selama ramadhan kemarin sudah dikatakan layak untuk mencapai derajat seorang pemenang?
Kalau ramadhan kemarin kita merasa masih belum maksimal, maka sekaranglah waktunya untuk memaksimalkan. Bukan menunggu lagi dan lagi di ramadhan tahun depan. Lantas, pada akhirnya kita kembali lagi seperti semula. Ibadah sekadarnya, infak dan sedekah seminimalnya, shalat pun asal seperti absensi saja.
Kalau ramadhan kemarin kita gagal untuk mencapai target khatam Al+Quran, atau bahkan belum mengkhatamkan sama sekali, maka sekaranglah saatnya. Tidak usah pusing dengan pahala yang tak lagi dilipatgandakan pada hurufnya. Memangnya, salah siapa kemarin tidak memaksimalkan? Sebab siapa pula yang menjamin masih bertemu dan bertadarrus di bulan Ramadhan tahun depan?
Tapi, tetap saja kita harus tetap berterima kasih. Pada Ramadhan yang masih mau hadir menjumpai. Meski tiap akhirnya selalu kau tuangkan janji-janji manismu tentang ramadhan tahun depan yang kau ikrarkan lebih baik lagi. Mesti barangkali tiap tahun selalu berakhir dengan penyesalan yang sama akan ibadah yang tak mampu kau maksimalknan.
Esok hari pasca ramadhan, tak ada lagi pahala yang dilipatgandakan. Tak ada lagi suara tadarrus yang bersahut-sahutan. Hingga pada akhirnya di situlah keikhlasanmu sebagai hamba Tuhan diujikan.
Sudah seharusnya kamu belajar pada ramadhan. Yang setiap tahun datang menyapa hambaNya dengan penuh keikhlasan, walau seringkali dikecewakan. Ingat, justru cintamu kepadaNya akan diujikan pasca Ramadhan. Walau tak ada lagi pelipatgandaan kebaikan, masihkah kau sudi untuk menyapa Allah di serpertiga malam terakhir? Masihkah kau sudi membuka mushaf-mu setiap hari dan mentadabburi maknanya? Masihkah kau sudi menyisihkan hartamu untuk orang.orang sekitarmu yang membutuhkan?
Maka lepaskanlah ramadhan dengan tenang. Biarlah ia pergi kembali kepada Tuhan. Lepaskanlah ia dengan amal ibadahmu yang akan terus kau jaga selama setahun ke depan. Agar kekecewaan yang ia bawa kembali ke hadapan Tuhan, perlahan berkurang. Dan dari sana, ia akan tersenyum melihatmu tetap dalam keistiqomahan. Agar ia tak jemu kembali menyapamu di tahun depan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang menang. Sampai ramadhan kembali menemui kita di tahun depan.
Sebagai Muhasabah Diri Malang, 23 Mei 2020. 1 Syawal 1441 H Mushonnifun Faiz Sugihartanto.
Netes.. 😭
Bagaimana Cara Berinteraksi dengan Masa Lalu Kita?
@edgarhamas | disampaikan dalam Kajian Online Cendekia Membumi
"Dulu, kami hanyalah penggembala domba
Lalu datang Al Qur'an, kemudian kami menjadi pemimpin bangsa-bangsa
Lalu kami menjauh dari Al Qur'an
Dan jadilah kami kaum yang digembala bangsa-bangsa"
Syair itu pernah saya baca dalam sebuah thread yang disampaikan seorang pakar sejarah Dr Ali Muhammad Al Audah. Ia singkat, tapi merangkum kisah sebuah umat yang berumur 1400 tahun lamanya dengan ringkas. Ia sekaligus juga menjadi kaidah yang memberikan kita pelajaran, bahwa kita jadi hebat dengan Al Qur'an, kemudian lemah jika menjauh darinya.
Saya jadi ingat apa yang disampaikan Khalifah Umar bin Khattab suatu hari kepada para panglimanya ketika membebaskan wilayah Syam yang mahal harganya, "kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan selain darinya, maka Allah akan menghinakan kita."
Ibarat sebuah serial, sejarah kita adalah rangkaian episode berisi gelombang naik dan turun. Ada klimaks, ada antiklimaks, ada episode kebangkitan, ada episode kejatuhan. Ada masa-masa dimana pemimpin shalih dan rakyatnya yang baik, ada juga masa dimana pemimpinnya lemah dan rakyatnya tercerai berai. Semua itu ada dalam sejarah Kaum Muslimin.
Maka masa lalu kita sebenarnya tidak selalunya dikaitkan dengan masa-masa kejayaan. Ternyata umat kita ini hidup dalam gelombang; tidak selalunya di atas, dan tidak selalunya di bawah. Tapi, bagi orang-orang yang mempelajari sejarah, mereka akan tahu bahwa ada setiap di atas syaratnya apa, dan setiap jatuh sebabnya apa.
Itulah yang dalam Al Qur'an disebut sebagai sunnatullah. "Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah)" (QS Ali Imran 137) bahwa kemenangan dan kekalahan itu dipergilirkan. Umat Islam pernah menang, tapi juga pernah kalah.
Nah, di situlah cara kita berinteraksi dengan masa lalu kita;
untuk mencari apa syarat-syarat kalau umat ini mau menang, dan mempelajari apa sebab-sebab yang membuat pendahulu umat ini terjatuh. Semua itu hanya bisa didapatkan dari mempelajari sejarah.
Benarlah kemudian hikmah ini berkata, "siapa yang tidak belajar dari sejarah, maka sejarahlah yang akan mengajarkannya."
Syarat-syarat Kemenangan
Apa yang membuat kita menang?
Mari kita belajar dari sejarah. Dalam rentang perjalanan Umat Islam, tercatat kita sering sekali memenangkan kemenangan besar dengan spektakuler. Kemenangan yang nampaknya hari ini kita bergeleng kepala karena cukup kaget ternyata kita pernah sehebat itu.
Ada kemenangan Kaum Muslimin di Badar, ada kemenangan Khaibar, kemenangan Khandaq, kemenangan Fathu Makkah, kemenangan Tabuk, kemenangan pembebasan Persia dan Syam, terbebasnya Andalusia, terbukanya India dan Asia Tengah, sampai kemudian pembebasan Konstantinopel. Banyak sekali. Dan inilah yang selalu diangkat oleh banyak sekali sejarawan.
Tapi pertanyaannya; apa persamaan kemenangan-kemenangan tersebut? Apakah keadaan Umat Islam saat mereka mendapatkan kemenangan itu?
Dalam setiap kemenangan yang Allah berikan pada Kaum Muslimin, kemenangan itu pertama-tama adalah kemenangan iman terlebih dahulu sebelum kemenangan fisik. Kondisi spiritual Kaum Muslimin sedang dalam puncak-puncaknya, sehingga akidah mereka mantap, iman mereka kuat, ibadah mereka berkualitas, dan dzikir mereka sangat banyak.
Hal ini sangat kentara dalam kemenangan di Badar. Saat itu jumlah Kaum Muslimin sedikit, perlengkapan perang mereka sama sekali tak sepadan dengan musuh, sementara kala itu pasukan Quraisy ada dalam keadaan angkuh, logistik yang mantap dan segala keperluan yang tersedia. Tapi iman menjadi poin penting yang membuat Kaum Muslimin dimenangkan.
Tak hanya kualitas iman saja, Rasulullah pun melakukan segala persiapan manusiawi dan manajemen yang maksimal. Pemilihan tempat yang strategis, bahkan sampai memikirkan arah sinar matahari. Penyusunan komposisi pasukan yang rapi, dan segala ikhtiar manusiawi yang bisa dilakukan.
Bersatunya iman yang total dan ikhtiar yang mantap menjadikan 17 Ramadhan 2 Hijriah itu sebagai kemenangan Badar yang besar dan paripurna. "tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS Al Anfal 42)
Pola seperti itu berulang dalam segala ekspedisi yang diberangkatkan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Berkali-kali Kaum Muslimin memenangkan sebuah pertempuran yang sulit dilogikakan 'kok bisa menang' seperti Yarmuk —36 ribu Muslimin menang atas 250 ribu Romawi—, lalu Qadisiyah —30 ribu Muslimin menang atas 200 ribu tentara Persia— dan banyak lagi terjadi di masa-masa setelahnya seperti kemenangan Shalahuddin Al Ayyubi di Pertempuran Hittin —13 ribu Muslimin menang atas 60 ribu pasukan Salib— dan Pertempuran Manzikert —20 ribu Muslimin menang atas 200 ribu pasukan Eropa.
Sebab-sebab Kejatuhan
Namun ternyata sejarah kita tak selalunya berisi kemenangan. Ada masa-masa dimana iman Kaum Muslimin lemah. Ada masanya Kaum Muslimin bangga dengan jumlah dan terlalu cinta pada dunia, dan itulah sebab-sebab yang menjadikan kekalahan dalam banyak episode Kaum Muslimin.
Seperti kisah Uhud, meskipun tak sepenuhnya kalah, tapi di situ ada sebuah kesalahan besar para pemanah yang buru-buru ingin mengambil harta rampasan perang. Lalu perang Hunain, ketika jumlah Kaum Muslimin ada di puncak-puncaknya, 13 ribu orang, tapi sempat mengalami kekalahan di ronde-ronde pertama pertempuran.
Lalu ada kekalahan Kaum Muslimin di Battle of Tours, ketika Kaum Muslimin sibuk menjaga harta mereka dan saling membenci saudara mereka sendiri. Kemudian kekalahan Lepanto, ketika Kaum Muslimin lengah dengan kehebatannya, menggampangkan musuh dan tidak berikhtiar sekuat tenaga. Semua kekalahan itu bermula dari lemahnya iman, hati yang terkena penyakit Al Wahn (cinta dunia dan takut mati) dan menggampangkan tanpa berikhtiar.
Semua itu belum seberapa dibandingkan dengan catatan sejarah lainnya. Ada 4 bencana besar Kaum Muslimin yang disebabkan jauhnya Umat Islam dari Al Qur'an, dari Ulama, dan dari Islam itu sendiri. Empat bencana itu adalah terjajahnya Palestina tahun 1096 dan sekarang, lalu hancurnya Baghdad tahun 1258, berakhirnya Islam di Andalusia tahun 1492, dan runtuhnya Negara Utsmaniyah tahun 1924.
Penyebabnya ternyata ya itu-itu saja; jauhnya Umat dari ulama, cinta dunia dan takut mati, tertutupnya pintu ijtihad, perpecahan internal di kalangan Umat, hilangnya semangat jihad dan acuhnya generasi muda pada permasalahan keumatan. Ya, seperti sekarang-sekarang ini. Persis.
Maka untuk berinteraksi dengan masa lalu, itulah caranya; mempelajari syarat kebangkitan dan berusaha membentangkannya hari ini, lalu mempelajari sebab-sebab Kejatuhan dan mawas diri jangan sampai ia ada di tengah-tengah kita sekarang. Sebab Rasulullah ﷺ bersabda, "seorang mukmin tidak akan terjungkal dua kali di lubang yang sama."
Khawatir
Jangan-jangan sebab Allah memberikanmu rezeki yang banyak saat ini ditengah kelalaian dan banyaknya maksiatmu agar segera terpenuhi semua hak rezekimu di dunia, kemudian segera Allah matikan kamu agar cepat dihisab dan dibalas semua amalmu di dunia. Setiap bayi yang lahir di dunia sudah Allah tentukan kadar rezekinya, tidak akan ditutup usianya sampai terpenuhi dan sampai padanya tentang jatah rezekinya.
Maha suci Allah yang telah menyembunyikan segala bentuk kemaksiatan yang tersembunyi darimu, dan sangat durhakanya kamu jika Allah telah menutupi aibmu lalu kamu meneruskannya seolah semua baik-baik saja. Kamu sendiri tau bahwa dunia ini sekarang sedang tidak baik-baik saja, sedang sakit dengan makin serakah dan angkuhnya manusia, beruntung jika masih ada orang baik disekitarmu, barangkali kamu merasa tenang sebab masih adanya dia.
Mulailah berpikir soal rezeki yang sekarang ada padamu, jangan-jangan batas rezeki yang Allah berikan padamu akan mencapai akhirnya, dan kamu akan mulai ditanya soal darimana mendapatkannya dan untuk apa. Padahal, baju yang sekarang kamu pakai pun akan ada masanya ia ditanya. Semuanya.
Usiamu ada limitnya, rezekimu ada batasnya, kekuatanmu ada lemahnya, jangan sombong dan angkuh apalagi merasa aman dari apa yang kamu miliki sekarang.
Mari menepi sejenak, mengevaluasi usia kehidupan dan perbekalan, beruntungnya kamu bisa menghirup napas Ramadhan, tapi semua akan sia-sia jika kamu melewatkannya tanpa usaha untuk kembali. Kembali pada hati, kembali bagaimana menyikapi bahwa hidup ini adalah untuk beribadah. Tunduk pada-Nya tanpa tapi.
Ramadhan dan ampunan
@jndmmsyhd
menohok sekali bagiku. :”
Roller Coaster, Rolling Faster
My latest post saying about roller coaster thing is... to be honest, apparently rolling faster. I always pray that I want to speed up my brain. Allah answered with an unpredictable way.
Is it getting better? In a certain way, yes. In several parts, getting worse.
What I’ve always been trying so far is to always be grateful in every moment. This process too, I believe, will have a good impact for me. If it is not now, then it will be in the future.
Kamu engga selalu harus terlihat kuat kok. Engga apa-apa kalau lagi ngerasa lemah.
Kamu engga selalu harus terlihat bahagia. Engga apa-apa, kalau kamu emang ingin menangis.
Kamu juga engga selalu harus terlihat hebat. Engga apa-apa, jika kamu menjadi biasa-biasa aja.
Semua orang pernah gagal, pernah kecewa. Setiap kita punya keterbatasan dan kekurangan.
Akui aja, simpan aja dulu keharusan-keharusannya.
Bukan kamu aja kok, semua orang juga khawatir dengan ketidakpastiannya.
Kalau emang lagi ngerasa engga bisa berpikir positif dan engga bisa optimis, engga apa-apa.
Engga usah dilawan. Terima aja, sadari aja.
Semua orang yang katanya sukses, yang katanya kaya, yang katanya paling beruntung, juga punya masalah, ketakutan, dan kecemasannya sendiri-sendiri.
Udah deh enggga usah pura-pura buat yakinin orang-orang, kalau kamu sendiri aja sebetulnya engga yakin.
Engga usah ngasih harapan ke orang-orang, kalau kamu aja masih sering kecewa sama harapan-harapanmu sendiri.
Lelah kan, berbohong?
Apalagi menghalalkan segala sesuatu yang sebenarnya kamu hanya ingin mendapat keuntungannya.
Iya, jujur ke diri sendiri itu penting banget. Siapa lagi yang bisa menjaga ketenangan hatimu kalau bukan kamu sendiri?
Istirahat aja dulu sejenak, mungkin keinginan-keinginanmu menggantung terlalu tinggi.
Iya, boleh kok bermimpi setinggi-tingginya, tapi kadang kamu juga perlu memulainya dari yang paling mungkin.
Bahkan engga apa-apa jika harus memulainya dari yang paling bawah sekalipun, memulai dari titik terendahmu.
Ingat ya, jujur ke diri sendiri dulu. Karena hati dan perasaanmu engga mungkin bisa berbohong.
—ibnufir
You did it!!! 🎉 You defeated this week! Hopefully you had some good things to remember from it, but it’s okay if you didn’t- there’s always next week!
Chibird Store | Positive Pin Club | Webtoon
:")