Nomad
Kau
Dan aku
Hanya pengembara
Yang tak sengaja berpapasan
Dan saling memberi kesan
Tak perlu, tak harus, dan tak bisa
Berhenti, menetap, dan saling mengisi.
Tapi tak apa,
Hidup bukan tentang memiliki.
-Jalanpagi
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Türkiye
seen from United States
seen from China
seen from France
seen from China

seen from Finland
seen from China
seen from France

seen from Ireland
seen from United States
seen from Australia

seen from Türkiye

seen from United States
seen from New Zealand
Nomad
Kau
Dan aku
Hanya pengembara
Yang tak sengaja berpapasan
Dan saling memberi kesan
Tak perlu, tak harus, dan tak bisa
Berhenti, menetap, dan saling mengisi.
Tapi tak apa,
Hidup bukan tentang memiliki.
-Jalanpagi
Menulis “Apa”?
Terbatasnya pengalaman menulis bukanlah menjadi penghalang bagi siapapun yang mau menulis; berapapun usianya, darimanapun asalnya, kapapnpun waktunya, dan apapun konten yang mau ditulisnya. Terlebih lagi bagi orang yang mempunyai tekat kuat untuk memulai merangkai kata-kata menjadi kalimat dan paragraf yang padu. Menulis adalah seni merangkai kata, bisa berupa kata-kata bijak, kata indah dalam bait puisi, kalimat berirama seperti pantun, hingga artikel-artikel panjang berkaitan dengan berbagai hal.
Lalu apa yang mau ku tulis? Seorang diri yang hanya terbiasa menulis pesan atau status dan caption di social media bisa menulis apa? Apa bisa menghasilkan tulisan yang bisa dinikmati, setidaknya oleh diri sendiri dan orang-orang terdekat? Apakah mudah merangkai kata-kata menjadi sebuah bahan bacaan yang bermanfaat nantinya? Banyak pertanyaan dalam diriku ketika aku memutuskan untuk mencintai kegiatan satu ini (read: menulis). Cinta itu tak datang tiba-tiba, cinta datang karena terbiasa. Kata-kata yang sudah tak asing lagi didengar oleh kebanyakan orang itulah yang menjadikanku semakin yakin untuk menulis, meski berawal dengan modal nekat saja.
Berkaitan dengan apa yang bisa dan akan aku tulis selanjutnya, dalam angan-anganku ada banyak hal yang ingin kutuangkan dalam bentuk tulisan. Sebagai anak rantau di negeri yang masih sedikit ditemukan makanan berlabel halal, aku ingin menuliskan hobi baruku di dapur, mengolah bahan-bahan seadanya untuk menghasilkan sumber tenaga (read: resep sederhana ala dapur iva >3<); menceritakan aneka budaya dan kebiasaan masyarakat di negeri mata hari terbit; berbagi kisah hidup di Negara empat musim; hingga kegiatan study ku di negeri sakura. Di sisi lain, sebagai seorang mahasiswa tentunya tak lepas dari tuntutan publikasi berupa artikel ilmiah, jurnal pendidikan, hingga syarat kelulusan berupa tesis yang menyita pikiran dan tenaga.
Jika diharuskan memilih, kewajiban study saat ini menuntutku menuliskan karya-karya non-fiksi berkaitan dengan kegiatan akademik. Namun, sebagai sarana rekreasi dan refreshing kisah-kisah kehidupan di negeri orang ini sepertinya asyik juga. Prioritasnya adalah apa yang sedang aku jalani saat ini, dan harapannya tak sebatas itu saja. Masih banyak jalan yang harus dilalui, dan dirimu pasti tahu jalan mana yang menjadi tujuannya saat ini. Semangat menginspirasi dengan tetap menjadi dirimu sendiri!
Hiroshima, 2017年11月22日
Iva Nandya Atika
Kelak akan ada orang yang membuatmu nyaman kentut saat sedang makan, ngupil di motor terus meper ke jaketnya, rela digigit karena gigimu gatel. Yang tidak peka kamu sedang PMS sampai akhirnya kamu nangis cerita kalau lagi sensitif dan dipeluk sambil diusep-usep punggungnya olehnya. Ngerengek mau makan lalu pada akhirnya sampai di tempat makan kamu juga yang bayar karena nggak tega dibayarin mulu. Akan ada orang yang membuatmu tahu batas untuk tidak terlalu manja dan kudu berangkat sendiri untuk urusan pribadi. Yang mau nyuapin kamu karena kamu kangen disuapin kayak pas kecil. Dan, kamu rela lakuin itu semua ke dia juga. Soalnya kamu sayang sama dia.
Ada, sabar aja.
Aku ingin menulis “gapapa”
Dengan kondisi dimana aku benar baik-baik saja
Nyatanya “gapapa” selalu mengandung lara
Aku ga mau terlihat lemah
Biarkan aku mengemas jiwa ragaku sedemikian rupa
Hingga kau benar-benar melihat diriku “gapapa”
-CEL
Matamu suka sekali ganti baju. Kadang seksi, kadang tertutup sekali. Sepertinya ia tak cukup percaya diri untuk bergaya jadi diri sendiri. Aku juga tak cukup dewasa untuk mengenal seluruhnya. Namun, bagaimanapun, bagiku ia tetap cokelat yang kujatuhcintai. Di dadamu banyak jejak kaki. Sisa-sisa masa lalu yang sakit sesekali. Ada cerita di tiap jejak kaki, ini milik masa kecil yang tak kau ingat lagi, ini jejak kaki masa muda yang berat, ini milik perempuan yang membuatmu patah hati. Aku juga tak cukup sakti untuk memahami. Namun, bagaimanapun, bagiku ia tetap rumah yang ingin kutempati. #nulisrandom2017
Regarding “A World Without You”
Not sure if anyone’s reading or waiting, but I’m really sorry about not updating A World Without You even though I said it wouldn’t take this long. My writer block is worse than I imagined and prep for uni is taking my time. Plus the challenge #NulisRandom2017 is over.
I’m already back home after re-registration for uni, and I have around 3 weeks left before uni starts, so I’ll try to continue it soon. No promises though, sorry.
Buuuut I got inspirations for new oneshots, so maybe you can look forward to it if you want?
Thanks!
Ramadhan #23 : Kepada Seribu Purnama
Kepada angin yang memeluk rindu Lirih menghempas desau Tak ingin erat melepas kata yang tinta tumpah berbekas puisi Kemana lagi aku harus berbisik sementara gerak tak cukup menarik Sesal Sesal ketidakpuasan yang tak berhenti mengutuk di lembah penghujung Sedikit tersisa hari sementara seribu Purnama akan berakhir Langit berselimut malam Memberi kesempatan bagi manusia merayu Sang Maha Hidup menjernih darah terbungkus lumpur Bandung 23 Ramadhan 1438 H/ 18 Juni 2017
Sekilas
Saya melihatnya, untuk ketiga kalinya, pada lorong rak buku kedua dari kiri dia membaca sebuah buku. Dia tidak berencana untuk duduk dan membaca dalam waktu yang lama, dia selalu berada disitu dan membuka lembar demi lembar buku yang dibacanya. Tidak butuh waktu lama, dia mengembalikan buku itu kembali ke tempatnya. Beberapa menit setelah dia pergi, saya penasaran dan menghampiri lorong rak favorite-nya itu. Saya menyisir deretan buku-buku yang berada di barisan rak kedua dari atas tepat sejajar dengan wajahnya. Saya mengingat di barisan mana dia meletakkan buku itu, dan sedikit berjinjit untuk mencari buku yang dimaksud. Beberapa hari lalu saya melihatnya pada tiga kesempatan tidak berturut-turut, namun seingat saya dia selalu membaca buku yang sama. Sampulnya berwarna abu, tentu saja saya tidak dapat membaca judulnya dari posisi saya selalu melihatnya. Setalah saya amati, ada dua buah buku dengan sampul berwarna abu pada barisan rak itu. Kedua buku tersebut saya ambil menuju bangku baca dan mencoba memperhatikan sampul itu bergantian. Selama 30 menit saya membaca beberapa halaman alakadarnya, namun tidak menemukan petunjuk apapun mengenai buku seperti apa yang sedang dibacanya? Untuk mengetahui apa yang menjadi fokusnya kini tidak cukup dengan melihat sekilas, membaca sekilas, berpikir sekilas, kemudian menemukannya. Saya memutuskan untuk meminjam kedua buku tersebut, saya ingin membacanya. Entah kenapa ini menjadi hal yang menarik perhatian saya, mungkin saya hanya penasaran pada apa yang saya lihat berkali-kali, hal yang sama yang secara tidak langsung ingin saya ketahui juga. Saya tidak mengenalnya, namun saya ingin tahu apa yang sedang dicarinya pada sebuah buku itu? Kenapa dia tidak menyelesaikan bukunya dalam waktu yang cepat?