[ HARI SUPERSEMAR ]
11 Maret, Hari kelahiran Supersemar, hari kekalahan Sukarno
Hari Supersemar, singkatan dari Hari Surat Perintah Sebelas Maret, yang ditandatanganinya agar Soeharto mengembalikan kestabilan keamanan justru dimaknai lain oleh bawahannya itu. Melengkapi kudeta, Supersemar menjadi justifikasi Soeharto merebut kuasa sang pendahulu sampai titik terakhir.
Meski begitu, Supersemar hanyalah pucuk dari gunung es masalah Orde Lama yang terus meluas. Mengapa surat tersebut lahir tak lepas dari kejenuhan politik dan kerinduan masyarakat Indonesia akan harapan baru, harapan yang tak lagi dilihat dari pemerintahan Sukarno. Walhasil, surat yang hanya memerintahkan penjaminan keamanan dan keselamatan ia dan keluarganya justru menjadi peneguh wewenang Soeharto untuk 32 tahun ke depan.
Tapi tahukah kamu? Terdapat beberapa kontroversi perihal Surat Supersemar.
Menurut penuturan salah satu dari ketiga perwira tinggi AD, yang akhirnya menerima surat itu, ketika mereka membaca kembali surat itu dalam perjalanan kembali ke Jakarta , salah seorang perwira tinggi yang kemudian membacanya mengatakan bahwa itu merupakan surat pemindahan kekuasaan.
Tidak jelas kemudian naskah asli Supersemar, karena beberapa tahun kemudian naskah asli surat ini dinyatakan hilang dan tidak jelas hilangnya surat ini oleh siapa dan di mana karena pelaku sejarah peristiwa "lahirnya Supersemar" ini sudah meninggal dunia.
Bahkan tentang pengetik Supersemar. Siapa sebenarnya yang mengetik surat tersebut, masih tidak jelas. Ada beberapa orang yang mengaku mengetik surat itu, antara lain Letkol (Purn) TNI-AD Ali Ebram, saat itu sebagai staf Asisten I Intelijen Resimen Tjakrabirawa.
Dengan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia mengatakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.











