Seorang anak membuka surat dari ayahnya,
"Salamku untukmu anakku sayang, juga rindu untuk ibumu. Aku mulai denganmu dan ibumu karena kali ini akan aku kisahkan teladan Guru Agung dalam keluarga. Tentang seorang ayah dan ibu. Tentang sepasang mentari dan rembulan. Tentang tempat terbitnya dan terbenam. Ibarat dua lautan yang dipertemukan, tak satu pun mampu melampaui batas yang lainnya. Yang satu pangeran gagah perkasa. Yang lainnya putri teramat jelita.
Merekalah sumber mutiara dan batu merah delima. Yang satu putih bersih, yang lainnya membersit memerah darah. Dan dari keduanya teruntai permata nan tak terpecahkan.
Sepasang Guru Agung ini mengajarkan rahasia semesta. Yaitu gigih memperjuangkan hak walau tubuh hancur berderai, walau buaian gugur terjuntai, walau rumah berlempung pasir itu terbakar. Ia ajarkan teguh sampaikan kebenaran.
Atau bersabar demi kebaikan yang lebih besar. Menunggu untuk tujuan yang lebih luhur. Menanti untuk cita mulia, hingga satu saat tertumpah itu rindu.
Sebagai keluarga, mereka dahulukan sesama. Mereka rela lapar asalkan anak yatim, miskin dan tawanan tertidur dengan kenyangnya. Dalam doa yang dipanjatkan, terdapat semua handai taulan, tapi tak satu pun untuk diri sendiri.
Bila sang pangeran berangkat perang, sang putri menunggu sepenuh tenang. Nampan di depan dan kain di tangan menyambut sang ksatria pulang. "Duhai," ujarnya, "belum lagi lukamu yang lama sembuh, luka baru sudah datang."
Bila sang putri berdoa, semesta memuja bersamanya. Bila ia berduka, gemintang menangis karenanya.
Kenali mereka, anakku sayang. Karena mereka sumber bahagiamu. Seberat apa pun deritamu, mereka telah memikulnya, bahkan jauh dari itu. Kapan saja ada beban, lihat sinar mereka. Kapan saja ada kesulitan, baca kisah mereka.
Aku merindukanmu dan ibumu, karena kerinduanku pada mereka. Kerinduan ini juga yang kelak mengantarkanku kembali kepadamu, suatu hari nanti...kapan pun waktunya tiba.
Andai saat itu tak kunjung datang, arahkan biduk hidupmu pada sepasang Guru Agung ini. Karena aku mengarahkan bidukku juga pada mereka. Berharap angin timur ini mampu mengikis karat hatiku.
Bila beruntung, kujumpai kau di sana. Bila kau tak melihatku padahal kau sampai di singgasana mereka, sampaikan pada mereka salam rinduku. Mohonkan tulus maaf mereka bagiku. Aku masih tersesat di jalanku. Langkah kakiku masih terpasung penjara waktu.
Semoga kau dan ibumu sampai di istana itu. Peluk sayang dan sejuta rindu.
Seorang anak membuka surat dari ayahnya, "Salamku untukmu anakku sayang, juga rindu untuk ibumu. Aku mulai denganmu dan ibumu karena kali ini akan aku kisahkan teladan Guru Agung dalam keluarga. Tentang seorang ayah dan ibu. Tentang sepasang mentari dan rembulan. Tentang tempat terbitnya dan terbenam. Ibarat dua lautan yang dipertemukan, tak satu pun mampu melampaui batas yang lainnya. Yang satu pangeran gagah perkasa. Yang lainnya putri teramat jelita.
Merekalah sumber mutiara dan batu merah delima. Yang satu putih bersih, yang lainnya membersit memerah darah. Dan dari keduanya teruntai permata nan tak terpecahkan.
Sepasang Guru Agung ini mengajarkan rahasia semesta. Yaitu gigih memperjuangkan hak walau tubuh hancur berderai, walau buaian gugur terjuntai, walau rumah berlempung pasir itu terbakar. Ia ajarkan teguh sampaikan kebenaran.
Atau bersabar demi kebaikan yang lebih besar. Menunggu untuk tujuan yang lebih luhur. Menanti untuk cita mulia, hingga satu saat tertumpah itu rindu.
Sebagai keluarga, mereka dahulukan sesama. Mereka rela lapar asalkan anak yatim, miskin dan tawanan tertidur dengan kenyangnya. Dalam doa yang dipanjatkan, terdapat semua handai taulan, tapi tak satu pun untuk diri sendiri.
Bila sang pangeran berangkat perang, sang putri menunggu sepenuh tenang. Nampan di depan dan kain di tangan menyambut sang ksatria pulang. "Duhai," ujarnya, "belum lagi lukamu yang lama sembuh, luka baru sudah datang."
Bila sang putri berdoa, semesta memuja bersamanya. Bila ia berduka, gemintang menangis karenanya.
Kenali mereka, anakku sayang. Karena mereka sumber bahagiamu. Seberat apa pun deritamu, mereka telah memikulnya, bahkan jauh dari itu. Kapan saja ada beban, lihat sinar mereka. Kapan saja ada kesulitan, baca kisah mereka.
Aku merindukanmu dan ibumu, karena kerinduanku pada mereka. Kerinduan ini juga yang kelak mengantarkanku kembali kepadamu, suatu hari nanti...kapan pun waktunya tiba.
Andai saat itu tak kunjung datang, arahkan biduk hidupmu pada sepasang Guru Agung ini. Karena aku mengarahkan bidukku juga pada mereka. Berharap angin timur ini mampu mengikis karat hatiku.
Bila beruntung, kujumpai kau di sana. Bila kau tak melihatku padahal kau sampai di singgasana mereka, sampaikan pada mereka salam rinduku. Mohonkan tulus maaf mereka bagiku. Aku masih tersesat di jalanku. Langkah kakiku masih terpasung penjara waktu.
Semoga kau dan ibumu sampai di istana itu. Peluk sayang dan sejuta rindu."