I called it as ⎯ Sadtember.
September 2022.
Maaf. Aku tidak lagi bisa mempertahankan kamu, sebagai pasanganku. Kali ini, dan sekali lagi, aku memilih diriku.
Perasaanku seketika hilang, ketika kamu menyamakan hubungan bagaikan sebuah transaksi, membayar untuk dibalas. Apakah aku memang semurah itu, dimatamu?
Sakitnya sungguh tak terkira.
Sarkas⎯kata kawanmu saat menceritakan tentangmu.
Astaga, Tuhan. Aku kehilangan kata, tidak mampu memproses semuanya.
Aku ingat semuanya.
Aku ingat waktu kamu belum menjadi apa-apa, dan masih aku yang menanggung semuanya. Aku ingat.
Aku ingat waktu setahun kita merayakan hari jadi, kita hujan-hujanan dengan motormu. Merepotkan, sejujurnya aku menyukainya. Sayang, kamu ngambek. Pengen naik mobil, tapi itu mobil mamaku.
Aku hanya menyayangkan sedikit saja, andai kalimat tersebut tidak keluar dari mulutmu, setidaknya semua ini masih bisa dipertahankan.
Tapi sudahlah, mungkin Tuhan sudah dengar doaku.
Ya Tuhan, dekatnya yang baik, dan jauhkanlah dari yang buruk.
Mungkin kamu termasuk salah satunya.
Maaf, sekali lagi maaf. Aku tidak lagi bisa mempertahankan, kita.











