4 tahun yang dibanggakannya.
30 Mei 2023, pukul 21.59 WIB
Hari itu, saya kehilangan kamu.
1 bulan yang lalu, saya menulis tentang kamu. Tentang bagaimana kamu masih mau memperjuangkan diri untuk bersama saya, dengan ragam jawaban dari rintangan yang sudah kamu persiapkan sejak dini agar tidak kehilangan saya lagi.
"Sekeras-kerasnya karang di lautan sana, akan terkikis dengan ombak lautan."
Begitu pula dengan saya. Sekeras-kerasnya saya menolak kamu, kamu masih teguh untuk tetap mencoba. Oportunis, katamu. Luluh juga, karang yang saya bangun begitu kerasnya, luluh oleh sifat air laut darimu yang mengandung garam dan menyebabkan kerapuhan, pada hati saya tentunya.
"Laut adalah dimana semua perasaan bisa diungkapkan tanpa kata, hanya cukup dengan perbuatan."
Itu saya kutip dari tulisan kamu. Laut menggambarkan sebuah situasi yang timbul tanpa kata, hanya dari perbuatan. Laut, adalah kamu.
"Hati seseorang serupa lautan, memiliki badai, memiliki pasang surut dan di kedalamannya memiliki mutiara juga."
Saat saya mengarungi waktu untuk mengenal kamu, wahai Laut. Hatimu yang secantik mutiara, meskipun harus merintangi badai serta pasang surutnya. Saya memahami bahwa kamu memiliki caramu sendiri untuk mengajarkan arti perjuangan. Kamu membuktikan kepada saya secara nyata, bahwa untuk merapuhkan karang butuh beberapa kali terjangan agar ia benar-benar terbentur hingga habis tak bersisa.
"Laut mengajarkan bahwa jika ingin menaklukan dirinya jangan cuma memandang dan mengandai saja, tetapi terjang dan arungi. Jika kamu gagal, setidaknya kamu sudah mencoba dan tahu prosesnya. Tidak ada yang sia-sia dalam perjuangan laut yang mengajarkan itu"
Tidak ada salahnya pula menjadi karang, walau hanya diam dan tetap bertahan meskipun diterpa banyak ombak dan badai. Namun, karang butuh beberapa kali terjangan agar ia habis terbentur dan tak bersisa.
Saya adalah Karang, yang terhancurkan olehmu, wahai Laut.
"Sisi lembutmu yang kadang ingin kamu sampaikan, kadang tertutup dengan sosokmu yang keras. Keras akan hak ombak yang ingin mengamuk untuk mengamankan manusia yang ada di daratan, keras akan hak gelombang untuk mengamankan manusia yang ada dilautan"
Mungkin ini kegagalan saya karena tidak mampu untuk mengarungimu. Setidaknya, saya pernah mencoba walau hancur juga akhirnya.
Tapi saya adalah Karang. Saya yang menahan kamu. Saya menahan kamu atas ombak yang ingin mengamuk dan menyerang manusia yang ada di daratan.
Terlepas dari analogi laut dan karangnya, saya tidak menyesali keputusan saya untuk memberikan kamu kesempatan dalam memasuki kehidupan saya begitupun sebaliknya. Saya bersyukur ada kamu, walau hanya waktu yang sebentar.
Sejujurnya, saya membenci kamu karena tidak mampu mempertahankan saya. 4 tahun yang kamu gadang-gadangkan itu, untuk apa? Tidakkah sangat disayangkan, jika harus usai karena ketidakmampuan kita untuk berkomunikasi dan saling memahami?
Mungkin ini salah saya, yang tidak memiliki kemampuan untuk memahami kamu lebih dalam. Mungkin ini juga termasuk kesalahan kamu, yang tidak memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang terjadi atau apapun yang kamu alami.
Jarak hanyalah angka, proses pemahaman adalah cara untuk memotong jarak.
Kamu sempat menganalogikan hubungan ini sebagai kapal. Kamu meminta saya untuk ikut turut serta menuntun kapal ini melaju, untuk mendapat tujuan dan pelangi indah bersama. Namun sayangnya, kamu terlalu sibuk menyiapkan logistik perjalanan sementara saya memegang nahkoda kapal ini sendirian. Setirnya berat, saya 'nggak kuat. Seharusnya, dipegang bersamaan 'kan? Pendelegasian tugas ini terasa berat pada masing-masing, sehingga semua terasa terbebani dan merasa si paling berat tugasnya.
Saya membenci kamu karena tidak mampu untuk mempertahankan saya, dengan apa yang sudah saya korbankan termasuk karang yang hancur tersebut.
Pasti muncul pertanyaan bagimu, apa yang saya korbankan untukmu? Mungkin kamu lupa, tapi mari kita pecah satu persatu.
Ingatkah kamu sewaktu kamu menemui saya pertama kali, kamu merasakan gugup sedemikian hebatnya sehingga tidak mampu untuk menyapa duluan? Iya, saya yang mendatangi kamu. Ingatkah kamu, sewaktu kamu pulang ke kota asalmu, saya duluan yang menghubungi kamu untuk memperbaiki apa yang salah kemarin hingga muncul jalan tengah yang kamu tawarkan.
Dalam tulisanmu, kamu mengutip satu dialog dari film Dear Nathan (2017) yang menyatakan bahwa, "aku emang suka sama kamu, tapi aku gabisa mahamimu. Dan aku sadar cintaku gabakal bisa buat kamu bahagia. Cinta ini nyakikitin aku sendiri dan buat kamu gabahagia"
Mungkin itulah apa yang kita hadapi. Bahwa kamu suka dengan saya, tapi kamu tidak bisa memahami saya, dan cintamu akan menyakitkan saya. Padahal perihal itu bisa kita perbaiki bersama. Saya mengatakan kepada kamu bahwa jangan lari, ayo perbaiki. Kali ini, kamu memutuskan untuk lari.
Saya rasa, cinta saya sudah habis di kamu. Hal ini disebabkan bahwa saya memiliki cinta yang berlimpah, tapi jika saya terus mengisi wadah cinta milik orang lain yang tidak menghargai saya.. Lalu untuk apa? Saya habiskan cinta saya yang tersisa untuk kamu, dan selebihnya saya hanya akan sekedar melanjutkan hidup. Dengan cinta yang saya bangun kembali, hanya untuk saya dan orang-orang terdekat saja.
Saya membenci kamu, tapi saya berharap bahwa di alam semesta lain, kamu dan saya sudah mencapai pelangi indah bersama. Di alam semesta lain, kamu dan saya sudah merangkai puzzle dan menjadi satu kesatuan serta dapat dipamerkan sebagai salah satu pencapaian milik berdua. Di alam semesta lain, kamu membangunkan saya lebih awal di pagi hari agar sempat melihat matahari terbit bersama dengan kopi yang kamu buat untuk saya. Rumah di Pandaan, katamu.
Di alam semesta lain, kamu dan saya melanjutkan cinta ini hingga akhir.
Ternyata saya dijadikan selingkuhan.
Tulisan ini dibuat pada tanggal 30 Mei 2023, pukul 21.59 WIB, lalu dijadwalkan untuk diunggah pada 30 Juni 2023, pukul 20.00 WIB sebagai sebuah perayaan bahwa 1 bulan tanpamu ternyata mungkin tidak seberat itu (betul, tidak berat ternyata). Pun setelah disadari, ini tulisan terpanjang yang pernah saya tulis. Tanpamu memang sulit (bohong), namun hati ini lagi-lagi tidak bisa berbohong bahwa saya masih mencintai kamu entah sampai kapan (kata saya lebih baik kamu segera istighfar, Adristi). Lebih baik melanjutkan hidup yang ada, daripada mengharapkan kamu kembali yang sepertinya tidak mungkin terjadi (kalau dia beneran kembali, yang ada kita jadi pasien tetap RSJ). Maaf 5 menit kalian terbuang cuma-cuma, coba baca catatan awal.
Semua tulisan melankoli yang berbau dia seketika sirna. Saya nggak sanggup kalau harus merevisi satu persatu, tetapi perasaan saya tulus saat menulis ini.