Pada semesta berikutnya
Dalam sebuah puisi yang pernah saya baca, si penyair dengan tegas menulis bahwa hidup adalah doa yang panjang. Mari kita berkhayal sebentar, larut dalam bual perkara kehidupan penuh tanya sambil belajar menyambut perpisahan yang tak terduga —memahirkan diri siapa tau benar terjadi.
Namun yang pasti, di semesta berikutnya, saya ingin bergerak jadi angin yang mampu menukar dingin yang membuat engkau gusar. Jika tidak, saya ingin beranjak jadi ombak yang tiada takut mengikis pantaimu dari nasib tragis. Jika tidak, saya ingin jadi air di danau tenang lalu melenyapkan segala keraguan yang kerap menghantui pikiran. Jika tidak, saya ingin jadi tanah yang menjagamu dari manusia serakah walau harus bersusah payah, atau bahkan berdarah-darah. Atau setidaknya saya ingin menjadi sebuah keyakinan di antara ketidakyakinan.
Di semesta berikutnya, entah di langit ketujuh atau laut terdalam sekali pun, sampai doa tidak sia-sia atau sampai manusia lupa dan berada pada medium asing seperti merasa terlahir kembali tanpa mengingat apa-apa, saya masih ingin hidup dengan engkau —sebanyak ratusan kali lagi.
Tapi dengan keputusasaan, saya sadar, bahwa sejatinya, semua hanya sebuah ungkapan yang tak akan pernah jadi nyata.
Inspired by: Hee-tae & Myung-hee, Youth of May.













