Worst Memory of Childhood
What is your worst memory of childhood? I have several.
Salah satu ingatan menakutkan yang sampai saat ini masih membuat jantung saya berdebar-debar saat mengingat atau menceritakannya adalah sebuah kejadian yang cenderung sederhana.
Sejak kecil praktis saya tinggal berdua dengan mami. Meskipun nenek saya sempat tinggal bersama kami tapi kondisi nenek yang mengalami gangguan kejiwaan membuat saya tidak terlalu banyak berinteraksi dengan dirinya.
Papi dan mami bercerai saat saya masih sangat kecil. Mungkin sekitar usia 2-3 tahun. Bahkan, saya hampir tidak memiliki ingatan tentang papi atau keluarga kami sebelum perceraian itu terjadi. Perceraian membuat keluarga kami terbagi dua. Kedua kakak laki-laki saya tinggal bersama papi, sementara saya, sebagai satu-satunya anak perempuan sekaligus anak paling kecil, tinggal bersama mami.
Seorang anak perempuan sejak 3 tahun tinggal berdua dengan ibunya. Mami adalah satu-satunya manusia yang bisa saya percaya. Ia adalah satu-satunya pegangan saya. Mungkin itu kenapa saya begitu takut bila berpisah dengan mami. Saya takut kalau saya sendirian.
Tapi, buat mami, hal ini mungkin menyulitkan. Sifat saya yang begitu clingy membuat mami sulit untuk beraktifitas tanpa membawa saya. Apabila mami akan pergi, saya akan menangis meraung-raung minta ikut. Tapi, hal itu tidak selalu terjadi. Saya ingat akhirnya saya terbiasa untuk ditinggal sendiri di rumah.
Satu kejadian itu, mengubah seluruh hidup saya.
Hari itu kami sedang pergi ke salah satu rumah kosong yang dimiliki mami. Kami memang biasa pergi ke sana beberapa waktu sekali, sekedar untuk mengecek dan membersihkan rumah tersebut.
Mami mengatakan kalau ia akan pergi. Saya menangis tidak ingin mami pergi. Mami berulang kali mengatakan kalau ia hanya pergi sebentar tapi saya tidak peduli. Saya begitu takut. Saya menangis amat kencang. Lalu mami mengatakan kalau ia tidak jadi pergi. Ia menemani saya sampai saya tertidur.
Beberapa saat kemudian saya terbangun. Betapa terkejutnya saya saat saya mendapati mami tidak ada. Mami pergi. Ternyata mami menunggu sampai saya tertidur untuk pergi supaya saya tidak menangis lagi. Tapi, saya menangis. Tidak dengan suara yang kencang tapi dengan hati yang begitu terluka. Mami meninggalkan saya. Ia membohongi saya. Ia mengelabui saya. Saya merasa begitu dikhianati.
Satu kejadian itu, mengubah hidup saya.
Saya sulit percaya pada SIAPAPUN. Betapapun seorang mengatakan kalau ia menyayangi saya, saya sulit untuk percaya. Saya merasa kalau setiap orang yang ada di hidup saya hanya menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan saya. Saya sulit untuk membuka diri. Untuk apa membuka diri pada orang yang akan menyakiti saya nantinya? Untuk apa saya berharap pada orang yang akan meninggalkan saya. Lebih baik saya bertahan sendiri. Seperti yang selama ini saya lakukan.














