Ini ga semenyenangkan seperti yang terlihat
Jadi aku bakal bikin diary. Bukan tentang cinta karena pasti di umur sekarang udah ga pantes, lol, tapi ini curhatan tentang masa depan. Ini bakal panjang. Karena ini rangkuman hidup aku selama tinggal di Jerman selama 2 tahun.
sebelum pergi merantau ke kota Beruang
Aku itu anaknya ga fokus. Disuruh apa, ngerjainnya apa. Dan itu berdampak fatal dengan keputusan yang aku buat. Papa aku punya rencana buat nyekolahkan aku sampai master. Dan aku harus buat planning dari awal untuk:
hanya itu. Karena nilai aku di Bachelor *Alhamdulillah* mencukupi untuk dapat universitas bagus. Tapi dasar anak gatau diri, bukannya jadi anak baik belajar buat IELTS dan bahasa Jerman, aku malah menyibukkan diri buat ikut organisasi AIESEC yang aku kira berguna buat nambah pengalaman untuk bergaul dengan orang internasional. Untuk ini, zonk se zonk-zonknya. Yes, after this I am pretty much confident to communicate with these ‘international people’ but believe me, it’s almost 100% worthless. Karena pada akhirnya kamu akan bergaul dengan mereka jika kamu kuliah di luar negeri tanpa harus ikut beginian dan kedua, it’s a waste of time pake banget. Na ja, aku sampai harus ngulang tes berkali-kali karena aku jarang banget masuk les dan mengulang pelajaran sampai akhirnya final IELTS aku hanya mencapai 6.5 instead of 7.
Impian aku kuliah di Australia gagal.
Impian yang tersisa hanya Jerman. Dan aku juga gagal di bahasanya karena aku jarang banget masuk kelasnya dan hampir-hampir ga pernah mengulang pelajaran. Sejujurnya, aku merasa kuliah di Jerman adalah hal terakhir yang aku inginkan. Motivasi aku di bawah level pedasnya saos tomat, berkebalikan dari keinginan papa aku yang berada di atas level pedasnya samyun ramyeon. Seriously, I am so blessed having a father as he is and it’s so unfair to give him a daughter like me.
Jadi aku putusin untuk cari uni di Jerman yang mensyaratkan 100% english no matter what the major is hanya demi satu tujuan: menyenangkan hati papa. But then:
1. Mereka minta surat rekomendasi lebih dari satu.
ini yang harus kamu ingat: jangan pilih thesis advisor yang ‘sulit’, karena thesis advisor adalah orang yang paling mumpuni untuk memberikan surat rekomendasi. Jadi pilihlah dengan bijak.
Aku mau curhat. Jadi di bachelor, aku punya thesis advisor yang ‘sulit’. Untuk dapat satu surat rekomendasi dari profesor ini, aku harus menyiapkan draft yang harus sesuai dengan jurusan, uni, keinginan, kelebihan yang aku punya, dsb. Aku ga bisa begitu aja ngasi surat general yang berlaku untuk semua uni dan jurusan. Harus diketahui sebelumnya, aku udah dapat satu surat rekomendasi dari salah satu profesor yang berbeda karena rata-rata untuk daftar uni kamu harus dapat dua surat rekomendasi. Aku bikin draftnya dan profesor ini langsung menandatangani (tentunya dengan grammar dan sesuai dengan keadaan). As simple as that.
Tapi thesis advisor aku ga sesimpel ini. Jadi aku bikin surat yang bener-bener spesifik banget. Gapapa ya kalau aku tinggalnya di Bandung, bisa mondar-mandir, tapi aku tinggal di Riau loh *elus dada. Kalau aku mau daftar satu uni, harus bikin surat lagi, daftar uni lain, bikin surat lain lagi, bisa-bisa sekeluarga makan nasi garem buat biayain ongkos pesawat aku yekan *elus dada, tarik napas. Nah, dan itu ga gampang karena berkali-kali doi suruh rombak. Yaudah, karena aku udah terlanjur pulang ke Riau karena sudah lulus, terpaksalah Andrea aku delegasikan. Wuih Andrea kasian amat kalau dipikir-pikir. Itu dia sampai beberapa kali dateng cuma buat disetujui untuk satu surat. Kena semprot juga kalau si Prof lagi bad mood. Cian deh Andrea tapi emang Andrealah sahabat paling bisa diandalkan pada saat itu *kecup Andrea.
Apakah surat-surat (dua bijik) dari beliau terpakai? Engga tuh. Karena terlalu spesifik jurusan dan uninya (dan kedua uni yang tertera di surat ini mensyaratkan 7.0 untuk IELTS), surat ini ga bisa dibawa ke uni lain. Dan yess, aku ga enak banget udah merepotkan Andrea selama 1 bulan lebih dan memutuskan untuk berhenti meminta surat rekomendasi dari beliau. So I was looking for the uni that only asked 1 recommendation letter. Surely, ini adalah hal paling sulit dan so limited hampir-hampir impossible.
I failed. Ini sistem paling untung-untungan untuk orang yang panikan saat ujian seperti aku.
Jadi sistem IELTS terdiri dari 3 tipe: Writing, listening, speaking.
Aku pernah mencapai 7 di listening, 6.5 di writing dan speaking tapi begonya, aku ga pernah mencapai ketiga nilai sebagus ini pada waktu yang bersamaan. Jadi jika nilai listening aku 7, speaking 6,5 , writing aku bisa 5.5 dan begitulah sebaliknya. Dibolak-balik aja sampai maksimal cuma bisa 6.5. Geblek kan.
And the worst part bukan di akunya, tapi di kekecewaan orangtua saat tau aku gagal. lagi. Papa aku ga pernah secara terang-terangan menunjukkan kekecewaan. Instead, he always supports me. Selalu ada kata-kata “Gapapa..bisa diulang lain kali.”
But eyes never lie, you know.
3. German aku paling parah
I learned ZERO in Goethe. Absolute ZERO. Padahal mereka mempersyaratkan B1 . Aku sih boro-boro. A1 aja ga beres. *samasekali ga bangga . Tapi ini yang aku pelajari. Kalau kamu ga punya determinasi, segampang apapun itu, kamu ga bakal bisa ngerti.
Sekarang aku punya determinasi yang kuat buat belajar Jerman. Mungkin belum cas cis cus kepala cus cus, tapi aku mulai banyak mengerti. Dan aku semangat melakukannya.
Tapi ini bukan sesi untuk berbicara untuk ini. Belum.
Dan akhirnya aku dapat Uni
Banggakah aku? Samasekali engga. Di tengah membanjirnya Uni publik di Jerman yang murah menjurus gratis, aku masuk di Uni yang berbayar. Privat. Dengan duit yang ga sedikit, Papa ku mengiyakan. Mungkin melihat semangatku. Padahal semangat itu sumbernya adalah dari dia.
Dan aku berpikir untuk mendapat nilai setinggi-tingginya. Akan menjadi murid paling aktif. Akan menjadi terbaik. Akan bekerja part time untuk hidup di sana.
Tapi dear, hidup di sini ga semenyenangkan itu.