mungkin ini cinta..karena saat iaĀ menangis, aku punĀ telak

@theartofmadeline
Noah Kahan
No title available

Product Placement
cherry valley forever
Keni
hello vonnie

Origami Around

#extradirty
š
TVSTRANGERTHINGS
Mike Driver
$LAYYYTER
d e v o n

titsay
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Today's Document
YOU ARE THE REASON

Kiana Khansmith

Discoholic šŖ©

seen from Malaysia

seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from Vietnam
seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Thailand
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Singapore

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Ecuador
seen from Singapore
seen from United States
@paddlesecrets
mungkin ini cinta..karena saat iaĀ menangis, aku punĀ telak
What You Say About Mental Illness vs What You Actually Mean.
Is that mean I get social anxiety disorder?
Fun fact:Ā
1. I held my pee in the bus for 3 hours because I did feel everyone would stare at me. I finally peed in the station where I had to pay 0.50 euroĀ
2. I am afraid to call any stranger (people from restaurants, customer service, university, etc), eventhough I really need something from them
3. I am afraid to go alone (I tried and act like I can)Ā
4. My heart beats so fast when I have to wait alone in a crowded place
Just finished this series. Curious to death of Dylanās tapes and ended ...relief. He is, presumably, one of the (men) characters that I want in real life! (Ofc, in the sense of Iām Hannah Baker myself :p )
Pria tak akan mengerti ini.
Bahwa mungkin di tulang rusuknya yang hilang, terdapat sebuah material yang menghasilkan molekul-molekul 'insting'.
Orang yang cengeng itulah orang yang paling terlihat kuat. Mereka menahan diri karena mudahnya mereka merasa patah. Satu hardikan saja dan sekujur badannya akan meleleh. Segala hal selalu tertusuk tajam di hatinya dan kemudian mereka akan terus menyanggah dengan logika. Terus dan terus. Mereka melatih otaknya untuk tetap cerdas menatap keadaan walau jiwanya sudah lumat. Orang cengeng itulah yang sering menolak. Karena dia tidak kuat. Ia menghindar hanya untuk tidak tamat.
ajeng
This is my story. Based on true event (Part 1)
Everything goes really quickly. Aku tak bisa mengira mana yang lebih baik, tinggal di sini dengan berbagai keterbatasan atau tinggal di negara sendiri dengan ketidak berdayaan.
Go with the flow.
Aku melihat stasiun central yang penuh dengan gerakan kebut. Mereka mungkin mengejar waktu yang begitu berharga atau mungkin atmosfer ini mengingatkan mereka pentingnya menjaga ritme untuk dapat menyatu. Atau jika ritme kamu tidak seirama, siap-siap saja bakal ditabrak sana sini.
Aku berpikir dengan kaki yang motoriknya sudah terlalu terlatih untuk bergerak cepat. Kadang manuver-manuver indah aku lakukan untuk mendramatisir suasana. Hidup di kota ini semuanya harus kudramatisir, pikiran harus kujaga baik, dan otak harus terus berputar. Atau kamu akan berakhir se-gloomy awan kelabu di luar sana.
Aku bergerak ke atas dengan escalator yang sudah penuh. Lambat-lambat menjaga jarak dan tas. Satu hal paling penting yang ingin kujaga, passport.
Papan penunjuk dengan cerdas dan cermat memberitahu posisi yang seharusnya kuikuti. Kiri atau kanan. Kereta pertama, kedua atau ketiga. Penunjuk digital bukan hanya memberitahu kapan waktu yang tepat untuk masuk ke dalam kereta, namun diam-diam mempermainkanku dengan gerakan menit yang begitu lambat. Semuanya tepat waktu. Aku bisa datang ke jam dan menit yang sama 55 hari berikutnya dan tetap akan mendapatkan kereta dengan tujuan yang sama.
Aku melihat sekeliling. Kelangkaan senyum dan tawa membuatku bosan. Aku mulai memelintir headset ku dan mulai bermain-main dengan Memrise, aplikasi bahasa yang membantuku untuk lebih paham sedikit formula-formula ajaib berbahasa Jerman yang baik dan benar.
Karena di sinilah aku tinggal. Di negara penemu. Negara maju.
Jerman.
Ā ā Gue bingung sama Uni kita.ā Ino memelintir rokoknya, dengan lambat menghembuskan asapnya.
Selalu begini isi pembicaraan kami. Tak pernah jauh-jauh dari sistemnya yang unik:mahal namun tak komplit. Kadang kuperhatikan mahasiswa-mahasiswi Humboldt. Sekali waktu aku bahkan berniat untuk mendaftar, terlepas dari denda yang harus dibayar jika aku meninggalkan Uni ku, namun lagi-lagi tak ada jurusan yang aku minati.
āYa begitulah.ā Keluhan yang sama, jawaban yang sama.
Aku melihat Mafalda dan Hasan sedang mengobrol dengan serunya. Kombinasi Italia dan Bahrain yang belum pernah kutemui sebelumnya, kini sedang menikmati tembakaunya. Kadang, jika aku tidak habis pikir dengan pendidikan yang kudapat, kemajemukan di kampus inilah yang menjadi titik positif.
ā Gue duluan ya.ā Kutinggalkan Ino yang memandangku dengan muka memelas, meminta untuk ditemani lebih lama, ā dingin bro!ā
Aku menaiki tangga dan segera mengeluarkan dompet, menempelkannya ke sensor agar dapat membuka pintu. Teknologi pertama yang mengejutkanku sebagai penduduk di negara berkembang.
ā Haiiiiiii Bonita!ā Rosella dengan riang menyapaku, aku membalasnya dengan tarikan mulut lebar, āHai Bellaa!ābalasku sedikit canggung. Terlepas dari keramahannya, aku akan selalu canggung dengan orang yang tak terlalu kukenal baik.
ā Selamat Pagi!ā dengan logat latin, Mafer menyapaku. Cipika cipiki tak terelakkan. Untuk Mafer, aku bisa bergerak bebas. Kecanggungan sudah kulepaskan sejak zaman Pra Semester. Tak bisa malu dengan Mafer sebab ia akan berupaya sebaik mungkin membuat semua orang nyaman. Hanya satu orang yang Mafer tak bisa taklukkan, Golo, namun untung bagi Mafer, Golo telah angkat kaki pindah ke Leipzig University. Ā
ā Howās your weekend darling?ā ini pembicaraan basa-basi yang selalu kudapatkan di hari Senin.
ā yeah good.ādan ini jawaban yang selalu kuberikan, āhow about you?ā dan jika aku bertanya, samasekali bukan basa-basi namun sepenuhnya ingin mendengarkan.
Dan Maferpun memulai. Latin dan Asia. Tipikal itu ada, setidaknya untukku dan Mafer. Aku tidak bisa dengan kasual menceritakan apa yang terjadi di hidupku begitu saja namun Mafer bisa menceritakannya dimanapun. Aku menunggu saat yang tepat, namun bagi Mafer setiap waktu adalah tepat. Membuat Sveatta, teman Rusiaku nyeletuk
ā Everyone is a shy person compare to you.ā Sekali waktu Sveatta berkata seperti itu saat kami sedang makan malam di restoran India. Pada saat itu Mafer dengan luwesnya memberitahu semua orang tentang roman erotisnya. Membuat kami tertawa terpingkal-pingkal dan Robin tersenyum malu.
(to be continued)
There is a big flaw in our education system, especially on the assessment of Final THESIS! If the Professors admitted they only looking Introduction and Conclusion, why have to bother ask us to include Chapter 2,3,or 4?? I AM OUT!
ini kayaknya klimaks yang anti deh
Aku itu punya insting yang kuat. Kayak radar, āini bakalan menyenangkan ga ya?atau ini bakalan seru ga ya? atau zonk?ā dari awal aku ngeliat sesuatu. Atau bisa jadi, karena aku judging duluan, semuanya berubah sesuai persepsi aku. Tapi biasanya, I know a trash and a gem dari pertama berkenalan. Orang ataupun keadaan.
Dan sejujurnya, Jerman ga menawarkan keceriaan dari awal aku datang. Ini bukan karena Jerman, khususnya Berlin, kota yang ngebosenin ya. Duhh Berlin sih kota segala manusia, segala event, dan segala-galanya. Beneran.
Itās seriously upset me, for not feeling bless living in here. Aku kecewa sama diri aku sendiri, untuk ga bersyukur dan malah cengeng.
Dan kemudian aku masuk MHMK dan sampai akhirnya sekarang lulus aja, aku masi bertanya-tanyaĀ ādo I really wanna stay here?ā Ā
Aku bukan orang yang paling ramah di dunia, tapi kehidupan di sini 100% kaku. Indonesia dengan begitu banyak kekurangannya, masih jauh lebih hidup daripada di sini. People are so stern and smile looks so stiff, and I start adapting. Worse, copying. Jangan heran kalo aku pulang dari sini, aku bakalan jadi RBF (aka rest bitch face) level advanced.Ā
But of course I learn a lot of things.
1. Argument, even though invalid, is seriously acceptable. Ga ada salah bener. Murid ngomong sampah juga sama profesornya ditanggapi. Bener-bener negara demokrasi tingkat dewa. Aku yang selalu mikirĀ ākalo ngomong ini kedengaran dumb ga yaā dan selalu diam ketika ditanya pendapat adalah contoh murid paling ga disukai dosenĀ
2. Tapi murid yang selalu ngomong bego juga adalah murid ga disukai nomor dua oleh dosenĀ
3. Jangan nunggu orang buat dateng dan ngajakin ngobrol. Bisa-bisa dilalerin kalo begitu. Orang di sini dengan segala independensinya adalah makhluk yang ga perduli kalopun kamu ngupil di pojok ruangan. Itulah mengapa eike sempet bengong waktu hari pertama masuk sekolah dan ga ada satupun yang Ā makan siang bareng. Semuanya sibuk sendiri-sendiri. Aduh..Ā
4. Use facebook to communicate to all of your partners. Bener ada googledive dan cloudapalahitu, tapi facebook group is seriously overused. Tapi efektif sih.
5. Undangan makan itu adalah hal biasa. Kayaknya di Indo jarang deh ada temen yang masak2 terus kita diundang kalo bukan ulangtahunnya. Tapi di sini itu hal yang biasa. Tapi kalo kamu diundang, itu artinya kamu termasuk daftar dari orang yang mereka suka. Selamat! Aku sempet terharu dapet undangan makan dari temen kelas orang Jerman. FYI, dia cuma undang beberapa orang dari kelas dan temen-temen aku banyak yang ga diundangnya. Jadi ini bukan cuma basa basi aja.Ā
6. Tapi jangan heran kalo besoknya temen yang kamu anggep deket kemarin malam, akan nyapa kamu atau memperlakukan kamu kayak baru kenal kebesokan harinya. Temen aku orang rusia kaget karena temen kelas aku orang amerika nanggepin dia biasa aja tanpa ada antusias dan tetap jaga jarak setelah sebelumnnya mereka ngobrol panjang lebar kemarin malemnya. Si rusia bilang giniĀ āI showed her my picture of my DOG! MY DOG! No, I wonāt show her picture of my dog unless I felt close. NOT PICTURE OF MY DOG!ā and I chuckled to death.
7. Extrovert Asian mungkin bakal bisa dapet temen-temen deket atau sohib dari Eropa, tapi Ambivert and Introvert akan struggle sih unlessĀ kamu besar di lingkungan internasional. Aku sendiri kurang cocok main sama mereka. First, aku ga demen party. Sampe sekarang aku ga nemu fun-nya dimana. Second, aku anaknya terlalu hold back dan ga bisa jadiĀ āseruā kalo belum deket. Third, aku seneeng banget makan di luar sama temen sebagai ajang mendekatkan diri, but itās not their style. Temen aku pernah bilangĀ ākalo makan bisa di rumah atau bawa bekal, kenapa harus makan di luar?ā ehmmm agree for disagree. Kayak aku yang berpikirĀ ākalo kalian bisa minum di rumah, kenapa harus ke bar?ā Yap, aku dan mereka memang berbedaĀ :ā(. Fourth, I canāt laugh for their joke and they arenāt either for mine. Fifth, they will tell you about their fucking boyfriend (thatās how they say it), their family, and their dogs! eventho youāre just met ,without any hesitation, but hell yeah you canāt ask their age! Sixth, I know nothing about music and itās the only thing they will talk all day long. And dude, else about thing which just happened in European and they think I didnt know because I merely non-european. I understand that but fiuuhhh Iām international relations students dude please include me in the narrative (swiftie style). Seventh, again, they will talk about party they just attended together yesterday night and automatically iām out of the conversation. CIAO! Eight, they wonāt stop talking unless you cut them. And I just learned to cut PEOPLEāSTALK several months ago! Biasanya aku diem nunggu mereka selesai bicara,Ā but hell they wonāt stop. And when they ask you for your opinion, your brain is already frOZEN and you donāt know what to say. TRUE STORY BRO. Tapi terlepas daripada itu, hati mereka banyak yang baik juga kok. (I am obliged to put positive pun tho)
Akhirnya pepatah modern yang bilangĀ āasia mah larinya ke asia lagiā tampaknya akurat, at least in my life. But I guess if I have more boys than girls, it will be easier to get more friends (di kelas aku cowonya bisa diitung pake satu tangan. 1 Maho, 1 udah berenti di semester pertama, 1 selalu stoned..beneran!, dan 1 adalah Indonesian yang jadi partner bigos akuuu) . Soalnya cowo itu lebih simpel. Mau Eropa atau asia, mereka lebih laid back. Aku selalu nemu temen deket cowo dari tempat les jerman, tapi sama cwek butuh pendekatan mendalam. Ga heran di masa puber cowo panas dingin kalo deketin cewek :( .
8. Berlin surga makanan. Sudah itu aja. Titik.
9. Cari pacar. Kesepian berakibat hilangnya akal sehat.Ā
10. Belajar bahasa mereka! Ajeng dodol baru level B1. Kasian idupnya rumit.
Udah deh itu aja kayaknya.Ā
Aku mau curhat mewek-mewek sih dari awal bikin tulisan ini, tapi I changed my mind in the end. Lebih bagus disimpen dalam hati atau dibagi-bagi buat obrolan intim dengan temen deket. Because I have a big insting, tumblr is a trash for telling private life.Ā
Drown
Oh I am tired being someone else. I will be back to the not-laugh-out-of-the politeness, the loud one, the i-don't-care, the you-bully-me-i-bully-you-back, and the always-know-and-i-told-you. Playing the form role is tiresome. Being polite and try not to hurt others while they hurt you are not in my heart anymore. There are people who are always nice to me, and therefore, I will reply their kindness with my whole heart. But there are people who can't keep their tongue, who ALWAYS make fun of me because 'the good joke should degraded someone', who underestimate my sincerity and think I am just being dumb. Ohh dear, no one safe from me anymore. I'd rather be mean rather than being fury. Silent tongue is the vengeful one.
from my deepest and sincere heart
Sesampainya di negeri Beruang
Aku anaknya gampang excited ya . Menjurus pada ekspresi yang berlebihan. Tapi anehnya, saat nyampe di Berlin, hati aku lempeng, tampang apalagi. Kucel. Di bandara aku dijemput sama flatmate aku yang juga orang Indo. Sempat main-main ke Alexanderplatz juga.Serunya saat itu lagi ada Oktoberfest (ini festival yang awalnya diadain di Munich, dimana orang bisa seharian nongkrong minum bir). Yaudah, aku nyoba-nyoba snacknya ya. Duh kaget kepalang kekek banget pas beli roti porsi seiprit harus bayar 6 euros. Biasakan dompet baru keluar buat lontong pecel dengan harga 7ribu, sekarang harus bayar secuil gandum dengan harga 15 kali lipatnya. Kejengkang terus diotak muter-muter angka 6x15000 #dasarindo .
Emang belum pernah ke luar negeri ya Jeng, katrok amet.
Begini sis. Sejarah hidup aku dihabiskan dengan berkeliaran di hanya benua Asia. Itupun ga semuanya. Sebelumnya aku cuma sempat mampir ke Malaysia, Singapore, Thailand, sama Cina. Kecuali Singapore, semuanya punya biaya hidup setara di indo. Pokoknya awal-awal tingal di Berlin kalo ga ngitung harga dikali 15 ribu, rasanya ga mafhum. Padahal Berlin termasuk kota besar di Eropa yang biaya hidupnya murah loh.
Lanjut ya
Aku nyampe rumah itu udah agak maleman. Lalu dilanjutkan dengan beli perlengkapan mandi di DM (drugstorenya Jerman) bareng sama temen flatmates aku yang tadi jemput di bandara.
Aku itu anaknya panikan kalo sama orang baru. Dulu pas ngekos pertama kali di Bandung, aku dua hari ga keluar kamar. Sampe-sampe aku lapeeerr banget juga ga keluar kamar. Aku takut ketemu orang baru. Udah gitu. Titik. Beruntung aku sempet kenalan sama flatmates aku di hari pertama aku nyampe Berlin walau butuh beberapa hari buat kenalan sama flatemates lainnya. Itupun karena mereka yang negur. Cupu ya.
Esoknya
Aku harus pergi ke uni buat ambil semester ticket dan kartu pelajar. Jadi semester ticket aku ini berlaku untuk tiket transportasi umum di bawah BVG (perusahaan transportasi umumnya Berlin. Tiap kota punya perusahaannya sendiri. Misal di Hamburg namanya HVV, etc). Sesuai dengan namanya, semester ticket berlaku untuk satu semester, biasanya 6 bulan dengan harga jauh di bawah rata-rata ( misal 1 semester ticket untuk pelajar berkisar seharga 180 euro, sedangkan harga per bulan untuk non pelajar adalah 60 euro. Jauh kan). Aku juga butuh kartu pelajar karena buat masuk ke gedung kampus, karena pintunya bakal kebuka kalo magnet kartu ditempelin. Jadi memang semuanya kudu diselesaikan dalam waktu dekat.
Akhinrya aku nanya sama flatmate aku gimana cara ke kampus dan dia ngasi aku metro map. Aku ga mau bilang dengan jujur bahwa ini pertama kalinya aku liat peta warna warni di tangan dan mungkin pertamakalinya pake kereta api sendirian, jadi pas dia nunjukin cara-caranya baca metro map, aku mangut-mangut dalam hati meratap #dasarindo . Beneran, aku merasa bego banget ga ngerti sedikitpun dia ngomong apa, padahal dia ngomong pake bahasa indonesia.
Yaudah, dengan berbekal tulisan arah dari doi di tangan dan tarikan napas berkali-kali, aku jalan. Seriously, i am not exaggerated. Tarik napas dalam-dalam sebelum keluar apartemen adalah hal yang normal bagi aku. The truth is, I have a panic disorder level rendah. Aku selalu panik saat pertamakali keluar rumah.
And here I go
Yasudahjelas ya akhirnya gimana. Eike nyasar. Akhirnya berbekal kertas di tangan, aku nanya sama bapak-bapak orang Vietnam. Pilihan aku kalau nanya jalan cuma satu: pilih yang mukanya paling friendly dan kalau bisa sih cowo. Ini hampir-hampir rumus mutlak.
Kan bener aja. Si bapak baik hati banget, dengan ramah dan dengan broken German dari aku and broken English dari dia, Ā dia anterin aku sampe depan kereta. Jadinya aku melambai-lambai dari kereta dengan pandangan haru. Beneran (makasi ya Bapak Vietnam, aku masi inget loh kebaikan bapak). Terus sampe situ langsung ke kampus?
Tet tott, nyasar lagi lah pasti. Modal insting dan ramalan ga mungkin ga muter-muter. Internet pun ga punya. Modal tekat dan alamat Jerman yang untungnya rapi dan teratur bikin aku ga terlalu panik. Gatau kenapa, tetap bisa santai kalau jalan di Jerman. Orang-orangnya ga rese dan emang jalan di Jerman itu enak. Beneran.
Yaudah sampe ya. Wueleh. Aku kaget lagi. Uninya kecil banget. Aku sampai harus meyakinkan diri ga kena scam. Serius. Ini uni atau apa. Tapi akhirnya aku masuk ya dan lumayan seneng karena ada anak muda yang keliatan banget mahasiswanya (yang gimana tuh? pokoknya kalo ada orang Jerman yang dandanannya trendy tapi keliatan serius, bisa dipastikan dia student khususnya bachelor. Gitu deh cara judgingnya. Tauk). Yaudah deh eike ambil-ambil segala yang perlu diambil. Dan say Tschuess ga boleh ketinggalan.
(Btw uninya kecil ini karena dia main locationnya itu sebenernya di Munich dan mereka emang punya banyak branch karena ini bentuknya GmBH. Yang di Berlin ini kebetulan baru beberapa tahun terbentuk. Begitu deh.)
Dan aku pulang
Dan nyasar lagi. HAHA. Tapi ya seru juga sih kalo dibawa seru. Tips nih. Di Jerman itu senyasar-nyasarnya, pasti tetap bakalan bisa pulang. Modal bahasa inggris atau bahasa jerman patah-patahpun akan selalu ada yang ngasi petunjuk jalan. Mereka sadar, akan banyak foreigner di negara mereka. Mereka malah senang kalau kamu nanya jalan, yang bisa berarti kamu adalah turis dan bukan penghuni tetap (hehe, bercanda ding). Terus sistem penomoran dan alamatnya super duper teratur dibandingkan di Indo. Transportasinya pasti bakal ngelewatin daerah tempat tinggal kamu. Segalanya terjangkau. Kalau kamu punya internet di HP, download aja aplikasi BVG kalo kamu tinggal di Berlin. Hampir segala tempat bisa ditunjukkan dengan transportasi umum yang sesuai, PLUS jam berapa kamu nyampenya dengan keakuratan di atas 90%. Kece ya.
Pas nyampe apart aku bangga banget loh. Serius. Berasa mandiri banget. Ā Ini padahal baru hari-hari pertama ya, tapi perjuangannya cukup berasa.
Padahal ini baru permulaannya aja. (Cont)
Ini ga semenyenangkan seperti yang terlihat
Jadi aku bakal bikin diary. Bukan tentang cinta karena pasti di umur sekarang udah ga pantes, lol, tapi ini curhatan tentang masa depan. Ini bakal panjang. Karena ini rangkuman hidup aku selama tinggal di Jerman selama 2 tahun.
sebelum pergi merantau ke kota Beruang
Aku itu anaknya ga fokus. Disuruh apa, ngerjainnya apa. Dan itu berdampak fatal dengan keputusan yang aku buat. Papa aku punya rencana buat nyekolahkan aku sampai master. Dan aku harus buat planning dari awal untuk:
1. Lulus IELTS
2. Lulus bahasa Jerman
hanya itu. Karena nilai aku di Bachelor *Alhamdulillah* mencukupi untuk dapat universitas bagus. Tapi dasar anak gatau diri, bukannya jadi anak baik belajar buat IELTS dan bahasa Jerman, aku malah menyibukkan diri buat ikut organisasi AIESEC yang aku kira berguna buat nambah pengalaman untuk bergaul dengan orang internasional. Untuk ini, zonk se zonk-zonknya. Yes, after this I am pretty much confident to communicate with these āinternational peopleā but believe me, itās almost 100% worthless. Karena pada akhirnya kamu akan bergaul dengan mereka jika kamu kuliah di luar negeri tanpa harus ikut beginian dan kedua, itās a waste of time pake banget. Na ja, aku sampai harus ngulang tes berkali-kali karena aku jarang banget masuk les dan mengulang pelajaran sampai akhirnya final IELTS aku hanya mencapai 6.5 instead of 7.
Impian aku kuliah di Australia gagal.
Impian yang tersisa hanya Jerman. Dan aku juga gagal di bahasanya karena aku jarang banget masuk kelasnya dan hampir-hampir ga pernah mengulang pelajaran. Sejujurnya, aku merasa kuliah di Jerman adalah hal terakhir yang aku inginkan. Motivasi aku di bawah level pedasnya saos tomat, berkebalikan dari keinginan papa aku yang berada di atas level pedasnya samyun ramyeon. Seriously, I am so blessed having a father as he is and itās so unfair to give him a daughter like me.
Jadi aku putusin untuk cari uni di Jerman yang mensyaratkan 100% english no matter what the major is hanya demi satu tujuan: menyenangkan hati papa. But then:
1. Mereka minta surat rekomendasi lebih dari satu.
ini yang harus kamu ingat: jangan pilih thesis advisor yang āsulitā, karena thesis advisor adalah orang yang paling mumpuni untuk memberikan surat rekomendasi. Jadi pilihlah dengan bijak.
Aku mau curhat. Jadi di bachelor, aku punya thesis advisor yang āsulitā. Untuk dapat satu surat rekomendasi dari profesor ini, aku harus menyiapkan draft yang harus sesuai dengan jurusan, uni, keinginan, kelebihan yang aku punya, dsb. Aku ga bisa begitu aja ngasi surat general yang berlaku untuk semua uni dan jurusan. Harus diketahui sebelumnya, aku udah dapat satu surat rekomendasi dari salah satu profesor yang berbeda karena rata-rata untuk daftar uni kamu harus dapat dua surat rekomendasi. Aku bikin draftnya dan profesor ini langsung menandatangani (tentunya dengan grammar dan sesuai dengan keadaan). As simple as that.
Tapi thesis advisor aku ga sesimpel ini. Jadi aku bikin surat yang bener-bener spesifik banget. Gapapa ya kalau aku tinggalnya di Bandung, bisa mondar-mandir, tapi aku tinggal di Riau loh *elus dada. Kalau aku mau daftar satu uni, harus bikin surat lagi, daftar uni lain, bikin surat lain lagi, bisa-bisa sekeluarga makan nasi garem buat biayain ongkos pesawat aku yekan *elus dada, tarik napas. Nah, dan itu ga gampang karena berkali-kali doi suruh rombak. Yaudah, karena aku udah terlanjur pulang ke Riau karena sudah lulus, terpaksalah Andrea aku delegasikan. Wuih Andrea kasian amat kalau dipikir-pikir. Itu dia sampai beberapa kali dateng cuma buat disetujui untuk satu surat. Kena semprot juga kalau si Prof lagi bad mood. Cian deh Andrea tapi emang Andrealah sahabat paling bisa diandalkan pada saat itu *kecup Andrea.
Apakah surat-surat (dua bijik) dari beliau terpakai? Engga tuh. Karena terlalu spesifik jurusan dan uninya (dan kedua uni yang tertera di surat ini mensyaratkan 7.0 untuk IELTS), surat ini ga bisa dibawa ke uni lain. Dan yess, aku ga enak banget udah merepotkan Andrea selama 1 bulan lebih dan memutuskan untuk berhenti meminta surat rekomendasi dari beliau. So I was looking for the uni that only asked 1 recommendation letter. Surely, ini adalah hal paling sulit dan so limited hampir-hampir impossible.
2. IELTS
I failed. Ini sistem paling untung-untungan untuk orang yang panikan saat ujian seperti aku.
Jadi sistem IELTS terdiri dari 3 tipe: Writing, listening, speaking.
Aku pernah mencapai 7 di listening, 6.5 di writing dan speaking tapi begonya, aku ga pernah mencapai ketiga nilai sebagus ini pada waktu yang bersamaan. Jadi jika nilai listening aku 7, speaking 6,5 , writing aku bisa 5.5 dan begitulah sebaliknya. Dibolak-balik aja sampai maksimal cuma bisa 6.5. Geblek kan.
And the worst part bukan di akunya, tapi di kekecewaan orangtua saat tau aku gagal. lagi. Papa aku ga pernah secara terang-terangan menunjukkan kekecewaan. Instead, he always supports me. Selalu ada kata-kata āGapapa..bisa diulang lain kali.ā
But eyes never lie, you know.
3. German aku paling parah
I learned ZERO in Goethe. Absolute ZERO. Padahal mereka mempersyaratkan B1 . Aku sih boro-boro. A1 aja ga beres. *samasekali ga bangga . Tapi ini yang aku pelajari. Kalau kamu ga punya determinasi, segampang apapun itu, kamu ga bakal bisa ngerti.
Sekarang aku punya determinasi yang kuat buat belajar Jerman. Mungkin belum cas cis cus kepala cus cus, tapi aku mulai banyak mengerti. Dan aku semangat melakukannya. Tapi ini bukan sesi untuk berbicara untuk ini. Belum.
Dan akhirnya aku dapat Uni
Banggakah aku? Samasekali engga. Di tengah membanjirnya Uni publik di Jerman yang murah menjurus gratis, aku masuk di Uni yang berbayar. Privat. Dengan duit yang ga sedikit, Papa ku mengiyakan. Mungkin melihat semangatku. Padahal semangat itu sumbernya adalah dari dia.
Dan aku berpikir untuk mendapat nilai setinggi-tingginya. Akan menjadi murid paling aktif. Akan menjadi terbaik. Akan bekerja part time untuk hidup di sana.
Tapi dear, hidup di sini ga semenyenangkan itu.
(to be cont)
i long to feel something, anything besides this nothingness. iād rather hurt and cry and break than not care at all. i want to have somebody who will hold me and love me when i cant remember how to love myself.
L.B. (via emptymidnights)
Buldak covered in melted mozarella cheese. This is (another) korean recipe i got from my favorite chef, Maangchiā¤. Bul means "fire" and dak means "chicken" aka super spicy chicken! But it didn't turn out as spicy as its name (i falsely standardize the spiciness of korean food with 'samyun ramyen' to be called fireš *which is beyond my levelš±*) however, the taste was awesome and it's seriously easy to make. #koreanfood #buldak